Pages

Kamis, 09 Agustus 2018

Cerpen "Dibantu Pak Menteri"

Bagi Abdul merah bukan berarti berani, namun sumber rejeki. Setiap pagi, di sebuah perempatan jalan utama di kotanya, bocah tiga belas tahun itu menunggu lampu merah menyala. Saat itu terjadi, seperti anak ayam lepas dari kandang, dia bersama pedagang minuman dan pedagang mainan anak, akan berhamburan ke tengah jalan. Tangan kirinya mendekap setumpuk koran lokal, sedangkan dengan tangan kanannya ia sodorkan sebuah koran kepada pengendara motor, mobil, atau penumpang taksi yang budiman.  

“Pak, Koran Kota. Luas hutan Kalimantan semakin menyusut.” Ucapnya pada seorang pengendara motor. Bapak berjaket hitam itu mengarahkan telapak tangannya pada Abdul. Sebuah isyarat penolakan yang sudah ribuan kali ia terima sejak mulai berjualan tiga tahun silam. Penolakan yang tidak pernah lagi ia ambil pusing.

Abdul segera beralih pada sebuah mobil sedan hitam. Dia melambaikan lipatan korannya pada kaca mobil penumpang belakang. Kaca mobil itu terbuka sedikit, cukup bagi mereka untuk melakukan transaksi. Selembar uang Rp20.000 keluar dari celah kaca yang terbuka itu. Abdul segera mengambil uang itu dan memasukan korannya. Ketika ia hendak menyerahkan kembalian, kaca mobil tertutup kembali. Mobil itupun bergerak maju.

Dengan sigap bocah SMP itu segera berlari menghindari ratusan kendaraan yang mendesak maju. Sekejap dia sudah berdiri di pinggir jalan untuk menunggu lampu merah itu menyala lagi. Begitulah aktivitas rutin yang ia lakoni setiap paginya sampai pukul 06:50. Beberapa menit sebelum gerbang sekolahnya ditutup, dia sudah berada di dalam kelas dengan baju putih bersimbah keringat. Kang Koran, begitu teman-temannya menjuluki Abdul.
***

Kusmono melaju dengan sepeda motor bebeknya menuju tempat ia bekerja di sebuah perusahaan leasing. Pagi ini jalanan tak terlalu ramai. Ia akan sampai di kantornya lima belas menit sebelum jam masuk. Nanti sesampai di kantor, dia akan langsung berangkat kembali untuk survey kelayakan pemberian kredit ke beberapa calon debitur. 

Laju motornya terhenti di sebuah perempatan jalan oleh lampu merah traffic light yang menyala. Seorang bocah berpakaian SMP menyodorkan sebuah koran ke arahnya. Kusmono melihat sekilas, tampak gambar besar hamparan pepohonan di tengah hutan. Dari headline besar yang tercetak di atas gambar, ia tau kalau itu foto hutan di Pulau Kalimantan. “Luas Hutan Kalimantan semakin menyusut.” Ucap bocah itu terdengar samar-samar olehnya diantara riuh suara kendaraan bermotor. Kusmono mengarahkan telapak tangannya tanda penolakan. Dia sudah jarang sekali membaca koran. Ia lebih suka membaca berita daring dari ponselnya.
***

Pagi inipun begitu, Abdul sudah bersiap di pinggir jalan menunggu lampu merah menyala. Sambil menunggu, dia melihat ke arah koran yang sedang ia dekap. Sebuah headline besar berjudul “Presiden Terpilih Sukarji Mengumumkan Posisi 32 Menteri Kabinet Berani”, terpampang di halaman depan koran itu. 

Abdul teringat percapakannya dengan ibunya beberapa bulan silam sebelum berangkat ke sebuah tempat pemungutan suara (TPS) di dekat rumahnya. “Ibu pilih siapa?” Tanyanya. Ia sedang memegang koran dengan foto tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden. 

Ibunya mengambil koran yang ada di tangan Abdul. “Menurutmu siapa dari bapak-bapak ini yang tidak akan menyusahkan kita?” 
Dia keheranan dengan pertanyaan dari ibunya. Seolah paham dengan rahut bingung anaknya itu, ibu Abdul segera menjelaskan. “Jika berharap bapak-bapak ini akan membuat kita kaya, tidak akan. Jadi pilih yang tidak akan menyusahkan kita saja.” 

Abdul tersadar dari lamunan ketika mendapati kendaraan sudah berhenti di depannya. Ia bergegas memasuki celah-celah antara motor dan mobil untuk menjajakan koran. Headline berita tentang para menteri baru tersebut cukup membuat para pengemudi kendaraan tertarik dan membeli dagangannya. Tersisa satu koran yang belum terjual.

Bocah jangkung itu kembali ke pinggir jalan dan melanjutkan membaca koran itu. Halaman dua koran membahas profil beberapa menteri, salah satunya Menteri Pendidikan. Abdul kaget dengan nama calon menteri lulusan S2 di Australia itu, Muhammad Abdul Malik. Sama persis dengan namanya. Abdul tidak menyangka ada orang sukses yang memiliki nama sama dengannya. Dia merasa berat memikul nama itu kini. 

Dia masih sibuk membaca koran ketika secara tidak sengaja melihat ke arah sekolahnya di ujung sana. Gerbang sekolahnya sudah tertutup. Abdul bergegas berlari sambil memegang satu koran yang tersisa. 

Sesampai di depan gerbang, ia mendapati Bapak Kepala Sekolah menatapnya sinis dari balik jeruji pagar. “Ke ruangan saya sekarang.”
“Jangan mentang-mentang kamu mewakili sekolah untuk lomba cerdas cermat, kamu bisa datang seenaknya.” Bentak bapak berkumis tebal itu.
Abdul tak menjawab. Ia hanya menunduk memandangi ujung kaca meja kepala sekolah itu.
“Kamu tidak ingin menang?”
“Mau, pak.” Jawab Abdul memandangi celah mata Bapak Kepala Sekolah yang tampak penuh amarah. Secepat kilat ia kembali menunduk untuk menghindari tatapan tajam menghakimi itu.

Tentu saja, dia ingin menang. Cerdas cermat tingkat kota madya itu sangat berarti bagi Abdul. Kemenangan pada lomba itu akan menjadi jaminan untuk kelanjutan sekolahnya. Pemenang berhak mendapatkan beasiswa penuh selama tiga tahun dari salah satu SMA swasta terbaik di kotanya itu
“Bapak tidak melarang kamu berjualan koran setiap pagi, tapi perhatikan juga peraturan di sekolah ini. Masuk pukul 07:00, tidak ada kompromi. Untuk semua siswa.”
Abdul mengangguk.

“Persiapkan diri kamu dengan baik. Perlombaan tinggal dua hari lagi. Kamu bukan hanya membawa nama sendiri, tapi juga nama baik sekolah.”
***

Kusmono memarkir motornya pada area parkir sebuah pusat perbelanjaan. Dia akan melakukan survey calon debitur pada sebuah ruko yang terletak di seberang pusat perbelanjaan itu. Tidak ada lagi tempat parkir yang kosong di depan ruko itu, sehingga dia harus memarkir motornya di sana. 

Dia berjalan melalui sebuah jembatan penyeberangan orang menuju ruko. Dia mengeluarkan dompetnya dari saku celana belakang untuk meletakkan karsis parkir. Saat hendak memasukan karcis itu ke dalam dompet, seseorang dari arah belakang menyenggol tangan Kusmono. Dompet terlepas dari tangannya, kemudian berputar-putar melewati sela-sela pagar pembatas jembatan, dan terjun bebas tepat di atap sebuah bus.

Kusmono dan pria yang menyenggol tangannya hanya bisa ternganga menyaksikan bus yang melaju kencang. Dompet Kusmono semakin menghilang dari pandangan seiring bus yang kian menjauh. Tidak mungkin lagi mengejar bus itu.

Pria yang Kusmono taksir masih berusia di bawah tiga puluh tahun itu meminta maaf padanya. Pria itu memberikan nomor ponselnya pada Kusmono dan bersedia mengganti seluruh kerugian yang dialaminya. 

Yang paling ia sesalkan adalah kehilangan dokumen penting yang ada di dompet itu, salah satunya STNK Motor. Sehabis melakukan survey ke tempat nasabah, Kusmono melaju ke kantor sebuah koran lokal untuk menerbitkan iklan kehilangan, sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan STNK pengganti.
***

Calon Menteri Pendidikan Kabinet Berani, M. Abdul Malik, sedang berada di dalam mobil sedannya. Seorang bocah berpakaian SMP melambai-lambaikan koran pada kaca mobilnya. Ia segera membuka kaca jendela hitam pekat itu, mengeluarkan selembar uang Rp20.000 dan mengambil koran yang disodorkan si bocah. Dia segera menutup kembali kaca mobilnya. Mobilnya kemudian melaju meninggalkan bocah itu.

Calon Menteri Abdul teringat tentang hari pelantikannya yang sudah semakin dekat. Dia segera menghubungi salah seorang asistennya untuk mengambil jas dan kebaya ke designer langganan. Pakaian tersebut akan ia dan istrinya kenakan pada hari pelantikan lusa.
***

Lampu lalu lintas masih hijau, namun Kusmono memberhentikan motornya di sebelah trotoar tepat di depan tiang lampu itu. Dia memanggil seorang bocah berpakaian SMP yang hampir setiap pagi menawarkan koran padanya. Tak pernah ia beli, karna memang tidak butuh. Namun, hari ini dia sendiri yang memanggil bocah itu. Dia memerlukan koran itu untuk melihat iklan kehilangan STNKnya.
***
Hari ini banyak peristiwa penting. Pertama, seperti yang Abdul baca di koran yang sedang ia jajakan, para menteri Kabinet Berani akan dilantik hari ini di Istana Negera. Kedua, di saat yang bersamaan, lomba cerdas cemat akan diselenggarakan di aula sebuah SMP. 

Dari peristiwa-peristiwa penting itu ada yang masih tak berubah dari hidupnya. Abdul pagi ini masih harus berjualan koran seperti biasa. Masih ada satu koran lagi yang belum terjual, dan dia harus menghabiskannya sebelum beranjak ke sekolah. Sesekali ia melihat jauh ke arah gerbang sekolahnya itu. Masih terbuka, dia masih aman.

Ketika dia menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi merah, seorang pengendara motor berhenti di depannya. Bapak pengemudi motor itu memanggilnya, dan membeli satu-satunya koran yang tersisa.
***
Tiga perwakilan sekolah peserta final cerdas cermat tingkat SMP berwajah tegang sudah berdiri di atas panggung. Abdul yang mewakili SMPnya terus-terusan berdoa dan berharap bisa memenangkan beasiswa dari sekolah swasta ternama di kotanya itu.

Lomba adu kepintaran itupun dimulai. Puluhan pertanyaan di lontarkan oleh pembawa acara. Mulai dari pertanyaan Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Sosial, bahkan politik silih berganti ditanyakan. 

Nilai berlangsung ketak, masing-masing peserta susul menyusul menjawab pertanyaan rebutan itu. Hingga pada pertanyaan terakhir tersisa dua orang peserta yang memiliki nilai sama. Mereka berdua harus memperebutkan satu poin tambahan untuk menentukan nasib mereka. Kedua peserta itu adalah Abdul perwakilan SMP Negeri 5, dan Bagas perwakilan SMP Bina Bangsa.

Wajah tegangnya tak mampu disembunyikan Abdul. Tersisa satu poin saja untuknya mencapai mimpinya memperoleh beasiswa itu. Dia menarik nafas panjang, dan mulai mencurahkan seluruh konsentrasinya untuk mendengarkan pertanyaan dari pembawa acara. Satu detik saja ia telat memencet bel, maka mimpinya terkubur sudah.

“Siapa nama Menteri Pendidikan Kabinet Berani?” Ucap pembawa acara.
Abdul segera memencet bel. Sontak pikirannya melayang pada koran yang ia baca dua hari yang lalu. Tidak mungkin dia tidak meningat nama bapak menteri itu, nama yang sama persis dengan namanya.
“Muhammad Abdul Malik.” Ucapnya lantang.

Teman-teman kelasnya yang menonton di bawah sana, terbahak-bahak mendengar jawaban Abdul. Bapak kepala sekolahnya yang semula tampak tegang, langsung memperlihatkan muka masamnya. Ia tampak kesal. Mereka pasti mengira bahwa Abdul sedang mengada-ngada dengan menyebut namanya sendiri untuk menjawab pertanyaan itu.
“Benar.” Ucap pembawa acara.

Teman-temannya terdiam sejenak, kemudian bersorak menyambut kemenangan Abdul. Bapak kepala sekolah melotot memandangi muridnya yang sedang menangis di atas panggung sana. Ia segera menyeka keringat yang menumpuk di atas dahinya.
***

Asisten calon Menteri Abdul berjalan tergesa-gesa di sebuah jembatan penyeberangan orang. Dia hendak mengambil jas dan kebaya pada designer langganan calon menteri itu. Di sedang mengetik pesan di ponselnya, ketika tidak sengaja menyenggol tangan seorang bapak. Dompet yang sedang dipegang bapak itu terlepas dari tangannya dan mendarat mulus di atap sebuah bus yang melaju kencang.

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...