Pages

Senin, 02 Juli 2018

Cerpen "Sang Pembangkang"

Asep Maulana bergerak satu langkah meninggalkan gerbang Desa Guntur. Gerbang yang memisahkan desa itu dengan dunia luar. Di balik gerbang itu berlaku satu aturan yang membatasi warga dari perkembangan zaman. Bagi Asep, setiap kali melewati gerbang janur kelapa itu, dia serasa melewati mesin waktu yang membawanya pada masa yang berbeda.

Dia terus melangkah menuju Desa Lontar, desa terdekat dari desanya. Tak lama, cukup dengan berjalan kaki sekitar sepuluh menit, dia sampai di desa itu. Asep langsung disambut barisan tiang listrik yang berjajar di kakan dan kiri jalan beraspal. Untaian kabel-kabel hitam menjalar ke rumah-rumah berdinding bata. Sesuatu yang tidak akan pernah ditemukan di Desa Guntur. Rumah-rumah itu hampir seperempatanya merupakan milik mantan warga Desa Guntur yang membelot.

Remaja tujuh belas tahun itu melihat ke sebuah kertas berwarna yang ditempel di tiang listrik. Dia membaca dengan seksama tulisan yang tercetak di kertas itu. “Partai Bangkit Bersama” tercetak tebal dengan tinta hitam di bagian atas. Telah dibuka rumah sakit gratis. Hubungi nomor 022-2047476 untuk layanan Ambulance. 

Asep terus bergerak maju. Dia kemudian bersua dengan sebuah menara BTS milik salah satu operator seluler. Menara tinggi menjulang itu memancarkan sinyal seluler hingga radius puluhan kilometer. Ada yang dia dan warga Desa Guntur lainnya tidak ketahui tentang menara itu. Tanpa permisi, sinyal itu menjalar hingga menembus gerbang Desa Guntur, dan menyelinap memasuki celah-celah dinding kayu rumah warga. Tanpa mereka pernah ketahui, modernitas sudah merangkak memasuki desa mereka dalam diam, tanpa terlihat.

Desa Guntur sejatinya tidak sepenuhnya bebas dari perkembangan zaman. Sejak beberapa tahun silam, aturan-aturan baru sudah mulai diterapkan. Warga diperbolehkan bersekolah ke desa-desa tetangga, seperti Asep yang bisa menyelesaikan sekolahnya hingga bangku SMP. Warga juga diizinkan menggunakan bus dari Desa Lontar untuk membawa hasil pertanian dan madu ke kota, seperti yang akan dilakukukan Asep sebentar lagi.  

Setiap kepala desa yang menjabat mendapatkan hak untuk membuat aturan baru, selama tidak bertentangan dengan nilai dan kepercayaan adat Desa Guntur. Akan tetapi, untuk setiap aturan baru ada harga yang harus dibayar. Kepala desa tersebut harus melepaskan jabatan terhormat yang ia sandang.

Asep sampai di sebuah pangkalan bus yang menuju Ibu Kota Jakarta. Di tas kainnya telah bercokol beberapa botol madu murni yang siap dijajakan di kota besar itu. Tiga jam berselang, tepat tengah hari, bus tersendat-sendat memasuki Terminal Bus Grogol.

Asep keluar dari bus. Kaki kasarnya yang tidak dilindungi alas kaki langsung bersentuhan dengan aspal panas yang dipanggang suhu tengah hari 30. Itu bukan masalah lagi baginya. Kaki terlatihnya itu hanya butuh beberapa detik untuk menyesuaikan diri.

Ini bukan kali pertamanya Asep menginjakkan kaki di Ibu Kota. Dia sudah berulang kali ke Jakarta untuk menjual madu murni. Namun, setiap kali sampai di kota ini ada sensasi berbeda yang ia tidak mengerti. Dia seolah berada di dunia yang tidak sama dengan kampungnya di Desa Gundur. Ratusan kendaraan yang saling berebut jalan, atau manusia-manusia asing berjalan cepat dengan telpon genggam di telinga itu, sukses membius Asep, menggoyahkan keyakinannya untuk tetap bertahan sebagai warga Desa Guntur.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk menghabiskan botol-botol madu itu. Pakaian rompi coklat dan penutup kepala yang ia kenakan sudah menjadi jaminan bagi sebagaian orang untuk membeli madunya. Madu dari Desa Guntur sudah terkenal kemurniannya.

Sore hari ketika mentari mulai bergerak turun untuk menyinari belahan bumi lain, dan pesona jingga mulai berkuasa membanjiri langit Jakarta, Asep terus berjalan menikmati iruk pikuk kota ini. Dia memutuskan untuk menginap semalam di sini dan kembali ke desanya esok siang.
Langkah kaki pemuda itu terhenti di sebuah sisi jalan. Di atas sebuah jembatan kecil yang tak jauh dari bangunan pusat perbelanjaan Roxy, berdiri seorang bapak dengan sebuah etalase kecil di depannya. Asep menengok isi etalase itu. Ada beberapa batang ponsel dipajang di dalamnya.

“Dari Desa Guntur?” Tanya bapak itu.
Asep menoleh sedikit. “Iya, pak.” Ucapnya, lalu kembali memandangi ponsel-ponsel itu seksama.
“Madunya sudah habis?”
Asep mengangguk. Perhatiannya teralihkan pada sebuah ponsel dengan casing berwarna hitam yang terletak paling pojok sebelah kiri. Dia terus memandangi ponsel itu tanpa berkedip.
“Nokia 3310. Ponsel tahan banting.” Ucap bapak itu seolah paham dengan apa yang sedang diamati oleh Asep.
“Seratus ribu saja, sama kartu perdana, angkut.” Lanjut si bapak sambil mengeluarkan ponsel itu dari etalase, dan menyerahkan padanya.

Asep ragu-ragu mengambil ponsel itu. Dia mematut-manut ponsel itu di setiap sisinya, membolak-baliknya bagaikan bocah mendapatkan mainan baru. Dia mencoba memencet-mencet deretan angka yang bercokol di bawah layar. Layar dan lampu pada tombol menyala. Layar berwarna kekuning-kuningan itu menampilkan tulisan buka kunci diikuti instruksi singkat cara membuka kunci ponsel itu.

Bapak penjual ponsel seolah paham dengan kebingungan yang dialami Asep. Dia lalu mengajari pemuda itu beberapa cara singkat untuk mengoperasikan mainan barunya. Mulai dari cara membuka kunci, membuka menu, menyimpan kontak, hingga cara melakukan panggilan telpon dan mengetik pesan singkat.

Dia sedang asyik mengotak-ngatik ponsel itu, ketika si bapak merebutnya dari tangan Asep “Seratus ribu.” Ucap bapak itu sambil menggesekan ujung jempol dan jari telunjuknya sebagai isyarat meminta Asep untuk segera membayar.

Uang di saku celananya lebih dari cukup untuk membayar ponsel itu. Namun, ayahnya akan curiga jika uang yang ia bawa kurang dari jumlah botol madu yang terjual. Asep berpikir sejenak, sampai dia menemukan alasan briliannya. Dia akan mengatakan bahwa satu botol madu pecah. Harga ponsel itu sama dengan harga satu botol madu yang biasa dia jual.

Asep merogoh saku celana pendeknya, dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah. Dia segera menyerahkannya ke pada bapak penjual ponsel.

Bapak itu tersenyum menerima uang dari pemuda Desa Guntur itu. Dia segera memasangkan kartu perdana baru pada ponsel itu. Kemudian menyerahkannya kepada Asep lengkap dengan chargernya. 

“Kalau baterainya sudah habis, colokan ujung charger ini ke lubang yang di bawah, dan ujung yang ini ke colokan listrik.”

Melepaskan identitas sebagai warga Desa Guntur mungkin bukan pilihan yang tepat bagi Asep. Sebagai anak kepala desa, pilihan itu bisa mengancam posisi terhormat ayahnya. Memiliki telpon genggam tampaknya bukan perkara yang terlalu berbahaya. Dia yakin bisa menyembunyikan benda itu dengan baik.

Sinar mentari semakin lenyap dan digantikan oleh remang cahaya bulan purnama. Setelah membeli makan di sebuah lapak Pecal Lele di pinggir jalan yang dia lalui tadi, Asep kini tengah meringkuk di depan sebuah toko yang sudah tutup. Baginya itu cukup untuk tempatnya memejamkan mata malam ini, sambil menikmati alunan suara mesin dan klason kendaraan, sebelum esok kembali ke desanya.
***

Pada sore keesokan harinya, Asep sampai kembali di Desa Guntur. Sebelum memasuki gerbang, dia memeriksa ponselnya yang diletakkan di saku celana sebelah kanan. Dia lalu membetulkan letak ponsel itu dengan jarinya dan menutupi paha kanannya itu dengan tas kain. Dia menarik nafas panjang sebentar, lalu berjalan melewati gerbang dengan membawa satu dosa besar yang sedang ia sembunyikan.

Tak terlalu jauh dari gerbang, berdiri rumah papan beratap jerami milik keluarganya. Asep masuk ke dalam rumah dan mendapati ibunya sedang berbaring di sudut ruang tamu. Keadaan yang sama yang dia lihat sebelum meninggalkan ibunya kemaren.

Sejak beberapa hari yang lalu ibunya menderita sakit yang diiringi dengan kondisi tubuh yang kian melemah. Dukun desa sudah berusaha memberikan berbagai macam ramuan, namun tampaknya belum ada perkembangan yang berarti pada kondisi kesehatan ibunya.

Asep bergerak ke arah lemari baju sederhana di sudut rumah. Sebelum mengeluarkan ponselnya, dia memastikan bahwa tidak ada orang di sekitarnya. Hanya ibunya yang ada di rumah saat ini, dan sedang berbaring dengan mata terpejam. Asep bergegas mengeluarkan ponsel itu dari saku celana diikuti irama detak jantung yang tak beraturan. Ponsel itu dia genggam kuat, dan segera meletakkan di belakang tumpukan baju miliknya.

Pemuda itu sedang merapikan tumpukan bajunya, ketika ayahnya masuk ke dalam rumah. Asep berusaha bersikap tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan pada ayahnya. Dia tersenyum, lalu menyerahkan uang hasil penjualan madu.

Ayahnya menghitung jumlah uang yang diterimanya. Asep sudah tau apa yang sebentar lagi akan terjadi. Dia sudah mempersiapkan jawaban atas pertanyaan yang akan dia dengar.
“Kemaren kamu bawa enam botolkan? Uangnya kenapa kurang?” Tanya ayahnya.
“Satu botol kemaren terjatuh, lalu pecah.” Ucap Asep mantap.
‘Oh..” Ayahnya mengangguk lalu menyelipkan uang itu pada saku celana.
***

Asep dan keluarganya berkumpul di rumah pagi itu. Kakaknya sedang menyuapkan sarapan pagi pada ibunya. Pagi ini ibunya akan diperiksa kembali oleh dukun desa untuk pengobatan tahap selanjutnya. Ayahnya sudah menyiapkan bahan-bahan yang diminta, seperti kunyit, daun tapak liman, dan dua butir telur ayam kampung dari ayam betina yang baru pertama kali bertelur.

Sementara itu, ratusan kilometer dari Desa Guntur, di lantai delapan gedung kantor pusat sebuah operator seluler, seorang karyawan sedang duduk di depan layar komputernya. Dia mematut-matut isi pesan broadcast yang akan dikirim kepada seluruh pelanggan sebentar lagi. Isi pesan itu merupakan tawaran promo sms gratis untuk memperingati ulang tahun operator seluler itu. Setelah memastikan bahwa isi pesannya sudah tepat, karyawan itu segera menekan tombol broadcast. Pesan itu meluncur ke seluruh nomor pelanggan, salah satunya pada sebuah nomor di Desa Guntur.

Asep sedang bersandar pada dinding papan di belakangnya sambil melihat ke arah ibunya yang sedang berusaha keras menguyah sarapan pagi. Tidak ada yang bersuara ketika itu, mereka sedang terpaku memperhatikan kondisi sang ibu yang tidak menunjukan tanda perbaikan.

Di tengah keheningan itulah terdengar sebuah bunyi asing menyeruak dari tumpukan baju pada rak baju bagian atas. Seisi rumah terpana memandangi sumber bunyi, termasuk Asep. Jantungnya serasa berhenti sebentar, kemudian dilanjutkan oleh detakan yang tak beraturan. Tamat sudah riwayatnya.
Dadang, ayah Asep, segera bergerak menuju sumber bunyi. Dia mengacak-ngacak tumbukan baju anak bujangnya itu. Tanpa kesulitan dia menemukan benda yang menimbulkan suara itu. Sebuah benda yang amat terlarang untuk dibawa masuk ke Desa Guntur. Dia segera bergerak menghampiri Asep.

Asep mengalihkan pandangan pada tatapan tajam ayahnya.
“Bisa kamu jelaskan kenapa benda ini ada di sana?” Tanya Dadang dengan nada tinggi.
“Kamu tau kan kalau benda ini tidak boleh ada di desa kita?” Lanjut Dadang.
Asep tidak menemukan kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan ayahnya. Tidak akan ada pembenaran untuk membawa ponsel ke dalam Desa Guntur. Namun dia tetap harus membela dirinya.
“Semua orang di dunia sudah punya benda itu sekarang, yah. Apa yang salah dengan benda itu?” Ucap Asep.
“Di dunia ini ada yang namanya aturan, dan kamu harus mengikuti itu. Aturan di Desa Guntur adalah kita tidak boleh memiliki benda ini. Lelurur bisa marah. Kamu tau akibatnya jika lelulur marah?”
Asep tidak menjawab.
“Jangan-jangan ibumu begini karna perbuatanmu.” Tuduh Dadang.
Asep tidak mampu lagi menutupi kekesalannya pada ayahnya mendengar tuduhan  yang membabi buta itu. “Saya mau keluar dari Desa Guntur.” Ucapnya lantang.

Keributan ayah dan anak itu terhenti oleh suara erangan kesakitan dari ibu Asep. Asep melihat ke arah ibunya yang sedang merintih memegangi dada. Tidak lama kemudian, wanita paruh baya itu kehilangan kesadarannya.

Dukun desa membakar sepotong menyan dan meletakkan di sebelah Imas, Ibu Asep. Dia segera membaca mantra-mantranya sambil mengarahkan telapak tangannya pada sekujur tubuh wanita itu. Puluhan menit berselang, kesadaran Imas belum juga kembali.

Asep yang melihat ayahnya meletakkan ponselnya di lantai, segera menyambar ponsel itu. Dia segera berlari ke luar rumah, lalu bergerak ke gerbang desa. Tujuannya adalah tiang listrik di Desa Lontar, tempat sebuah brosur rumah sakit gratis dari sebuah partai politik berada.
Lima menit kemudian dia sampai di tiang listrik itu, dan segera menghubungi nomor yang tertera di brosur. Setelah meminta ambulans untuk menunggu di depan gerbang Desa Guntur, Asep segera kembali ke rumahnya.

Di rumah dia mendapati ibunya masih belum sadarkan diri. “Bantu aku mengangkat ibu, yah.” Ucap Asep bergerak ke arah kaki ibunya.
“Mau kamu bawa ke mana ibumu?” Tanya Dadang tampak keherenanan.
“Ke rumah sakit. Ambulans sedang menuju kesini, sebentar lagi sampai.” Ucap Asep.
“Jangan berbuat yang aneh-aneh kamu.” Bentak Dadang. “Sebentar lagi ibumu sadar, Pak Aceng sedang mengupayakan.”
“Ibu harus dibawa ke rumah sakit. Tidak ada lagi jalan lain.”

Dukun desa tampak sudah berhenti menangani ibu Asep. Dia menggeleng pada kedua anak dan ayah itu bergantian.

Asep segera mengangkat tubuh ibunya seorang diri. Kali ini dia harus melawan kehendak ayahnya. Dia tidak mau ibunya mengalami nasib seperti beberapa keluarga lain, yang berakhir tragis karena gagal diselamatkan oleh dukun desa. Susah payah dia menggotong tubuh ibunya keluar pintu rumah.
Asep tergopoh-pogoh melewati jalan desa menuju gerbang. Beberapa warga keluar dari rumah mereka untuk menyaksikan drama penyelematan nyawa pagi itu.

Dari kejauhan terdengar erangan suara ambulans mendekat. Asep mempercepat langkahnya terseok-seok. Ketika itulah dia menyadari bahwa Dadang sudah berada di sampingnya, dan ikut mengangkat tubuh ibunya. Dia menggeser sedikit tangannya ke bawah untuk membagi beban bersama ayahnya itu.

Mereka tinggal sedikit lagi menuju gerbang desa. Tampak sebuah ambulans menunggu di ujung sana. Warga-warga yang menonton semakin bertambah. Beberapa warga mulai berjalan mengikuti mereka dari belakang. Para warga tampak berbisik satu sama lain.

Sesampai di gerbang Desa Guntur, petugas ambulans membantu mereka memasukan Imas ke dalam mobil. Pintu ditutup, dan ambulans bergerak maju. Suara serine terdengar meraung-raung di antara keheningan anak, ayah, dan ibu yang sedang sekarat itu.

Asep menoleh ke arah Dadang. Ayahnya sedang menatap panjang dari balik kaca ambulans ke arah warga desa yang berkumpul di depan gerbang. Mobil ambulans berbelok ke arah Desa Lontar. Wajah-wajah warga Desa Guntur menghilang dari pandangan. Dia tau gejolak apa yang sedang berkecamuk di dalam pikiran ayahnya kini.
***

Pagi itu warga desa berkumpul di tanah lapang di tengah Desa Guntur. Dadang dan istrinya berdiri memakai pakaian kebesaran kepala desa berwarna hitam. Dia juga mengenakan penutup kepala berupa kain bercorak batik yang dililitkan ke kepala. Dadang lalu melepaskan rompi hitam yang dikenakannya dan menyerahkan kepada seorang tetua adat. Dia segera mengenakan rompi coklat seperti warga desa biasa lainnya.

Tetua adat itu kemudian menyerahkan rompi hitam kepada seorang pria lain yang berdiri di sebelah Dadang. Pria itu merupakan kepala desa yang baru yang menggantikan posisinya. Dadang hari ini melepaskan status kepala desanya sebagai bayaran atas peraturan baru yang dia buat. Kini seluruh warga desa diperbolehkan berobat ke rumah sakit ketika kondisi sudah tidak bisa ditangani lagi oleh dukun.
***
Setelah upacara pelepasan jabatan ayahnya sebagai kepala desa tadi pagi, Asep kembali menjalani rutinitasnya untuk menjual madu ke Jakarta. Dia sedang berdiri di atas sebuah jembatan, dan menghadap ke bawah, ke arah ratusan mobil yang melaju kencang di tengah jalan tol.

Dia memegang ponsel yang telah menyelamatkan ibunya itu. Dia mencoba menekan kombinasi tombol pembuka kunci puluhan kali namun tidak ada reaksi apa-apa. Ada satu yang dia lupa saat penjual ponsel memberitahunya untuk mengisi baterai ponsel itu ketika habis, yaitu di Desa Guntur tidak ada listrik.

Kini di pikiran asep berganti-ganti antara wajah ibunya yang kembali sembuh, dan wajah ayahnya saat melepas jabatan kepala desanya pagi tadi. Pada akhirnya, ketika kita memilih untuk hidup pada sebuah kelompok, kita harus siap mengikuti aturan di kelompok itu. Setiap aturan tidak menutup pintu untuk perubahan, namun ada bayaran untuk perubahan itu. Ayahnya telah mengorbankan jabatannya untuk melakukan itu.

Tentu saja tidak semua aturan perlu diubah. Kita hanya perlu berbesar hati mengikutinya. Asep memutar-mutar ponsel di tangannya. Dia menarik nafas panjang, lalu melepaskan ponsel itu dari tangannya. Ponsel meluncur deras ke tengah jalan tol, dan langsung dilindas oleh ban sebuah truk tronton.

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...