Pages

Senin, 09 April 2018

Cerpen "Senyum di Atas Piring Putih"

Aroma wangi tercium dari masakan udang yang sedang ia aduk. Andi lalu menaburkan sedikit garam halus dan lada bubuk pada masakan itu. Dia mengaduknya kembali perlahan, membiarkan bumbu-bumbu itu meresap merata sempurna ke dalam udang-udang jumbo itu. 

Ia lalu mengambil sedikit kuah dan menuangkan pada tangannya. Ia mengisap kuah itu dan membiarkan lidah terlatihnya menilai sendiri hasil karya masakan barunya. Pengalaman bertahun-tahun cukup membuatnya tau bahwa dia belum juga menemukan rasa yang ia cari.

Andi menatap ke arah jam dinding di ujung sana. Pukul 11:48, sedikit lagi menuju tengah malam. Sudah dua kali iya mencoba masakan yang sama malam ini, namun tak juga berhasil. Besok selesai bekerja dia akan memodifikasi resep barunya itu lagi. Rasanya menambah sedikit perasaan lemon layak untuk dicoba.

Dia membereskan barangnya, dan bergegas meninggalkan dapur restauran tempat ia bekerja. Sebelum membuka pintu, ia melihat ke arah kalender yang digantung di sebelah pintu. Lima hari lagi sebelum lomba memasak yang diadakan oleh restauran ini. Peserta adalah para chef dari cabang-cabang restauran di seluruh Indonesia. Hadiah besar disediakan untuk para pemenang. Butuh satu menu utama kelas satu untuk memenangkan lomba itu.

Ia membuka pintu dapur. Lampu - lampu restauran sudah dimatikan. Kursi-kursi sudah disandarkan ke meja-meja di depannya. Ia bergegas menuju pintu masuk restauran. Seorang security dan office boy terlihat mengantuk menunggunya.

"Mas, besok sudah ada yang booking?” tanya Andi.
“Belum, Pak.”

Setiap chef diperkenankan untuk meminjam dapur untuk membuat hidangan baru untuk lomba. Untuk menjaga kerahasiaan masakan, hanya dua chef yang diizinkan memakai dapur setiap malam secara bergantian. Masing - masing dapat jatah 1 jam mulai pukul 10:00 malam. Tentu saja tak ada chef lain yang meminjam dapur itu lagi. Mereka sudah menemukan menu terbaik untuk mereka hidangkan saat lomba pekan depan.
***
Motornya melaju melewati jalan raya yang sudah tampak lengang itu. Satu atau dua kendaraan bergerak di sebelahnya dengan kecepatan yang tidak kalah dari laju motor Andi. Ia memasuki area parkir sebuah komplek ruko, dan berhenti di depan sebuah mini market yang masih buka. Ia membeli beberapa makanan penganjal perut, dan dua botol kopi siap minum. Teman begadang malam ini.

Motornya lalu bergerak kembali, dan berhenti di depan sebuah bangunan restauran yang terletak tak jauh dari mini market tadi. Di depan restauran itu tertulis Akan segera dibuka, restaurant pizza nomor 1 di Indonesia. Itu restauran milik salah satu teman kuliahnya di Jurusan Tata Boga dulu. Dia menatap lekat-lekat menembus pekat kaca hitam pintu restauran itu. Seketika mimpi lamanya yang terpendam itu menguap kembali di antara dingin angin malam.

Dia akan memiliki sebuah restauran juga suatu saat nanti. Andi sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari. Bahkan, sebuah masakan yang akan menjadi hidangan nomor satu di restaurannya kelak sudah ia temukan sejak dua tahun yang lalu. Pada masakan kerang hijau itu ia pertaruhkan mimpinya. Ia menjaga resep kerang hijau itu baik-baik. Dia bahkan tak berniat sedikitpun untuk menggunakan resep itu pada lomba lima hari yang akan datang. Resep itu akan menjadi milik restauran jika dia menang. Tak akan, dia tak akan melakukan itu. 

Andi teringat pada percakapannya dengan calon istrinya beberapa bulan silam di sebuah kafe.

“Kemaren aku dapat info dari seorang teman. Ada ruko yang harga sewanya cukup murah, lokasi bagus, tak jauh dari Jembatan Suramadu.” Ucap Saras.

Andi menatap layar ponsel Saras yang menampilkan gambar sebuah ruko dua tingkat. Dia mengangguk, tersenyum pada kekasihnya itu. Mimpinya akan segera jadi kenyataan. Sebuah restauran milik sendiri, dan seorang istri yang mendukung mimpinya seratus persen.

“Aku sudah tidak sabar untuk menyajikan kerang hijau itu bagi para pelanggan kita.” Ucapnya.
***
Motornya memasuki parkiran sebuah rumah sakit. Andi menuju sebuah ruangan rawat inap kelas satu yang teletak di ujung koridor lantai enam. Di sanalah adik perempuan bungsunya Nina terbaring tak berdaya. Bibir tipis adiknya itu telah lenyap direnggut kanker mulut yang kian mengganas. Si cerewet, banyak omong, dan tak bisa diam itu kini hanya bisa meringis menahan sakit. Yang tersisa darinya hanyalah rambut panjang indah lurus itu. Namun, rambut itu juga akan rontok sendiri oleh kemoterapi yang akan segera dijalaninya.

Setelah menatap si bungsu yang telah tertidur oleh obat penenang, Andi menemui ayahnya yang duduk di kursi di luar kamar.
“Kamu pulang saja, biar ayah yang menjaga adikmu sendirian malam ini.” Ucap Ayahnya.
Andi menggeleng. Lalu duduk di sebelah ayahnya itu. “Besok aku sift kedua.” Ucapnya. 

Lalu ada hening panjang di antara ayah dan anak itu. Semuanya datang begitu mendadak, merenggut kebahagiaan dari keluarga mereka. 

“Rabu minggu depan lombanya dimulai, yah.” Ucap Andi kemudian. “Aku akan menang. Hadiahnya cukup untuk biaya kemo. Nina akan ceria kembali.”
Ayahnya mengangguk, kemudian menatap panjang ke arah dinding di depannya. Tak ada apa-apa di dinding itu, hanya tatapan kosong semata.
***
Dapur restauran tempat ia bekerja itu telah kosong kembali. Semua chef yang bertugas malam ini telah pulang. Tinggal ia sendiri disana menatap panjang pada panci berisi beberapa ekor udang merah. Mau diapakannya lagi udang seger itu? Tidak mungkin digoreng tepung, tidak mungkin dijadikan Tomyam, tidak mungkin digulai, dan tidak mungkin udang saus Padang. Lomba tahunan itu membutuhkan sesuatu yang unik. 

Andi kemudian menatap ke sekeliling dapur restauran itu. Semuanya disediakan di sana, yang dibutuhkan hanyalah imajinasi dan kepekaaanya mengolah bahan. Beberapa hari yang lalu, ia telah menambahkan perasana lemon pada masakan udang itu. Namun hasilnya tak terlampau menggembirakan. Sedikit modifikasi lagi, masakan itu akan sempurna. Ini bukan lagi sekedar soal enak. Lawannya tahun ini semakin beragam. Ia tak mungkin menyajikan sesuatu yang ia sendiri tak yakin.

Telah hampir setengah jam berlalu, dia masih saja memandangi udang itu. Imajinasinya telah padam, dia tak tau apalagi yang mesti diperbuat sedangkan waktu perlombaan semakin dekat, tinggal dua hari lagi. Jika malam ini dia belum juga menemukan paduan resep yang pas, maka pilihan terburuk itu harus diambilnya. 

Andi bergerak ke tempat penyimpanan kerang hijau. Ia mengambil beberapa buah kerang itu. Bahan-bahanpun dengan segera ia kumpulkan. Dengan seketika, semua energi dari tubuhnya keluar, dan menguasai dirinya. Tubuhnya serasa terhipnotis. Tangannya dengan telaten menuang resep rahasia itu menjadi sajian agung yang dia simpan sekian lama. Masakan yang seharusnya kelak akan ia hidangkan di restauran miliknya sendiri.

Sepiring kerang hijau menghembuskan asap panas telah terhidang di depannya. Harum wangi bawah putih tercium dari asap itu. Andi segera menyantap makanan itu dengan lahap. Tanpa ia ketahui, tiba-tiba air mata menetes membahasi pipinya. Tidak mungkin ia tega menyajikan masakan ini pada para juri. Tidak mungkin ia menyerahkan mimpinya pada mereka. Resep kerang hijau itu adalah bagian dari dirinya, dan Saras.

Energinya kian meletup-letup setelah itu. Andi kembali menghampiri udang-udang merah yang tadi ia abaikan. Ia segera mengambil beberapa bumbu lagi yang tiba-tiba saja melintas dalam pikirannya. Kuah udang itu juga harus dibuat sedikit kental. Ia segera mengambil tepung kanji. Ia membiarkan dirinya bermain-main dengan bumbu itu. Dua puluh menit kemudian sepiring masakan udang telah tersedia di depannya.

Andi segera mempertemukan lidahnya dengan resep barunya itu. Manis daging udang yang dimasak dengan api yang tepat itu bermain-main dalam mulutnya. Dia segera menghabiskan udang itu. Tak menunggu jeda, dia mengumpulkan bahan yang sama lagi. Dia lalu memasak hidangan udang itu kembali agar resep tersebut menancap di benaknya. Besok malam dia akan memasaknya dua kali lagi, dan siap untuk memenangkan lomba itu.   
***
Rabu pagi itu, kereta api membawa Andi bersama dua rekan chef lain dari stasiun Gubeng ke stasiun Lawang. Sekitar pukul sembilan pagi mereka sampai di Kota Malang, lalu diberangkatkan dengan menggunakan bus bersama chef dari kota lain menuju sebuah aula hotel di Kota Batu. Di sanalah perlombaan tahun ini diselenggarakan.

Selepas tengah hari, hampir tiga puluh chef telah siap dengan apron mereka di depan alat masak masing-masing. Andi melihat ke sekeliling, dan berusaha menemukan seorang chef. Tak jauh dari tempatnya berdiri, di sanalah pria itu, chef Thomas, juara bertahan dua tahun berturut-turut, lawan terberat semua peserta, perwakilan cabang Denpasar. 

Penghitung waktu telah dinyalakan. Empat puluh lima menit bergerak mundur, waktu yang sangat singkat untuk menghadirkan sebuah menu utama istimewa bagi para juri.  

Semua koki segera bergerak ke ruangan tempat penyimpanan bahan masakan. Mereka bebas memilih bahan apa saja yang tersedia di tempat itu. Andi segera mengambil seplastik udang merah segar, dan bahan-bahan lain untuk masakannya. Di antara riuh para koki itu ia terus mengamati Thomas, lawan utamanya. Pria jangkung itu tampak mengambil beberapa ekor bayi gurita.

Andi hendak kembali ke area memasak, ketika sekujur tubuhnya serasa berkhianat padanya. Ia ingin menahan gerakan tiba-tiba itu, namun bayangan senyum Nina melintas di pikiran. Dia rindu senyum si bungsu. Dia rindu mendengar suara tawa adiknya kembali. 

Tanpa bisa ia cegah lagi, dia telah meletakkan kembali udang merah itu di tempatnya. Andi bergerak ke arah tumpukan kerang hijau di pojok sana. Tangannya meraup beberapa buah kerang hijau, dan bahan-bahan masakan resep agungnya itu. Yang ia tau kemudian adalah tubuhnya serasa menari di antara desir gesekan peralatan masak. Senyum si bungsu mengembang di atas piring putih itu saat ia menata sajian kerang hijaunya. Dia terluka dan bahagia dalam waktu yang bersamaan.

***
Sore itu di kamar hotel, Andi menghubungi kekasihnya, Saras.
“Aku menang.” Ucapnya menatap piala besar di meja kecil di sebelah tempat tidur.
“Aku tidak sabar mencoba udangnya.” Ucap Saras riang.
“Aku masak kerang hijau.”
Ada hening sepersekian detik diujung sana. Hening yang terasa sangat lama bagi Andi.
“Tidak apa-apa.” Ucap Saras.
“Nanti kamu bisa buat resep baru lagi. Yang seribu kali lebih enak, bukan cuma satu, tapi sepuluh. Aku siap jadi tukang icip.” Lanjut Saras.
“Terima kasih, sayang.” Ucap Andi.
***

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...