Pages

Senin, 09 April 2018

Cerpen "Berebut Jenazah"

Muslimah menutup lembaran Surat Yasin yang sedang ia baca. Ia kemudian menyeka air mata yang menggenang di sela-sela keriput kulit wajahnya. Lalu, dipandanginya tubuh kaku yang terbaring di depannya itu, sesosok tubuh yang ditemukan di dasar sungai, tersangkut di bebatuan, beberapa ratus meter dari tempat bocah itu mulai terseret arus.

Muslimah membuka penutup wajah si jenazah. Dia ingin meyakinkan sekali lagi kalau tubuh tak bernyawa itu benar cucu kandungnya Angga. Tai lalat besar di bawah bibir itu tak ada lagi yang punya, kecuali Angga, cucu yang sudah ia rawat sejak bocah itu berusia dua tahun. 

Wanita enam puluh tujuh tahun itu kembali menutup wajah cucunya. Dia kemudian menatap ke arah pintu kamar yang tertutup di ujung sana. Di kamar itu, jauh dari pendengaran para pelayat, sedang berlangsung pertarungan sengit yang menegangkan urat syaraf.

“Jelas Angga harus dimakamkan di tanah keluarga kami.” Ucap Annita, anak pertama Muslimah, kakak perempuan ayah Angga. “Amak ambo yang manggadangan inyo. Ibu saya yang membesarkan dia.”
Ijan bantuak ndak tau model itu. Jangan seperti tidak tau begitu.” Balas Sari, kakak perempuan ibu Angga. “Angga harus dimakamkan di tanah kaum Tanjung. Dia anak orang Tanjung.” Ini merujuk pada sistem kekerabatan Minangkabau yang berdasarkan garis keturunan ibu.

Kembali ke ruang tamu, tempat jenazah Angga disemayamkan. Muslimah mengalihkan pandangannya ke arah sebuah foto pernikahan, di antara beberapa foto lain yang dipajang di dinding. Tampak bahagia berbalut pakaian adat Minang anak laki-laki, dan menantunya. Itu foto pernikahan ayah dan ibu Angga. Merekapun telah meninggal dunia karena kecelakaan saat cucunya itu masih berusia dua tahun. Sejak saat itu, Muslimah merawat dan membesarkan Angga. Kini bocah dua belas tahun itu telah menyusul kedua orang tuanya.

“Kemana kalian selama ini? Baru sekarang kalian mengungkit-ngungkit suku?” Sindir Annita.
“Jangan memutar balikkan fakta.” Sari berang. “Memang dengan berat hati kami mengizinkan Angga dirawat oleh neneknya, tapi kami tidak pernah melupakan Angga sedikitpun. Setiap bulan dia ke tempat kami. Dia mengenal dengan baik dunsanak-dunsanaknya.

Seorang pemuda menghampiri Muslimah. “Nek, tukang gali kubur sudah siap. Angga mau dimakamkan di mana?” Tanya pemuda itu.

Muslimah kembali melihat ke arah pintu kamar yang tertutup. Tak ada tanda-tanda kalau perundingan itu sudah menghasilkan keputusan. Dia memberi isyarat pada pemuda itu untuk menunggu sebentar lagi.

“Kita ini orang Muslim. Jelas keluarga ayahnya yang punya hak.” Cemooh Annita.
“Jaga ucapan, Uni.” Balas Sari. “Jangan mempertentangkan agama dan adat. Itu sudah selesai di Perang Padri. Kini agama dan adat berjalan beriringan. Jangan sekali-sekali mempertentangkan.”
Annita terdiam, tampak dari wajahnya bahwa dia sudah kehabisan amunisi. 

Seorang tetua di kampung mereka mendekat ke arah Muslimah. “Jangan terlalu lama, kasihan Angga.” 

Muslimah menggangguk. Dia lalu mohon pamit dan berjalan ke arah kamar itu. Dia membuka pintu yang tak terkunci, dan mendapati Annita dan Sari saling memandang dengan wajah beringas. Anak laki-lakinya yang lain, Budi, hanya terdiam di ujung kasur. Tampak tak kalah putus asa, Ramli, Adik laki-laki Sari, hanya memandangi keributan yang tak berkesudahan. Muslimah masuk, dan menutup kembali pintu itu, rapat.

Alah salasai kalian batangka? Sudah selesai kalian bertengkar?” Bentak Muslimah. Dia berusaha merendahkan volume suaranya agar tak terdengar ke ruang tamu.

Tak ada yang menjawab.

“Cucu saya meninggal, kalian di sini meributkan hal yang tidak penting.” Tiba-tiba airmatanya kembali mengucur deras. 

“Harusnya saya yang paling punya hak atas Angga. Saya yang membesarkannya.” Muslimah menepuk-nepuk dadanya mencoba mengontrol emosi yang meluap di dadanya itu.

“Jika saya ikut bertindak, saya tau keributan ini tidak akan selesai. Cepat putuskan! Tolong kasihani cucu saya. Hidupnya sudah terlampau berat tanpa orangtua, tolong jangan saat matinya juga kalian persulit.”

Muslimah menyeka airmatanya, lalu kembali ke ruang tamu.

“Bagaimana kalau Angga kita makamkan di pemakaman umum saja. Jadi adil untuk semuanya.” Budi memberi saran.

“Seperti orang yang tidak punya tanah saja.” Cemooh Sari.
“Itu lebih adil. Kami yang akan membayar biaya pemakaman setiap tahun.” Ucap Annita.
“Baik, kami setuju jika Angga kita makamkan di pemakaman umum. Tapi kami yang akan membayar biaya tahunannya. Kami sudah terlampau mengalah mengizinkan Angga dirawat oleh neneknya selama ini. Untuk urusan ini tidak akan.” Ucap Sari.
“Kalian yang membuat perundingan ini tak berkesudahan.” Ucap Annita. “Kita ganti-gantian saja yang membayar biaya tahunannya. Tahun ini kami, tahun depan kalian, begitu seterusnya.”

Sari menoleh ke arah Ramli yang sedari tadi belum bersuara. Dia memberikan isyarat untuk menyuruh adiknya itu mengeluarkan pendapat. Ramli bangkit dari kursi plastik yang didudukinya. “Baiklah, kami setuju.” Ucapnya.

Sore itu Angga dimakamkan di sebuah pemakaman umum yang terletak tak jauh dari rumah kedua keluarga orangtuanya. Setiap bulan Muslimah selalu mengunjungi makam cucu kesayangannya itu. Sampai pada suatu hari, ia tak pernah lagi kembali. Muslimah tertidur, dan ditemukan tak bernyawa di kamar Angga sambil memeluk tas sekolah bocah itu.

Setelah tujuh harian Angga, Rudi kembali ke rumahnya di ibu kota propinsi, Kota Padang. Ramlipun begitu, ia pulang bersama anak dan istrinya ke Kota Pekanbaru. Tujuh tahun kemudian Annita meninggal dunia karena penyakit kanker rahim yang dideritanya sejak setahun yang lalu. Setelah itu, Sari membayar biaya tahunan pemakaman Angga setiap tahun. Hingga tiga tahun berselang, iapun meninggal dunia oleh penyakit Maag akut yang menggerogoti lambungnya. Tak ada lagi keluarga lain yang ingat perihal kewajiban mereka untuk membayar biaya tahunan makam Angga. Hingga kemudian kuburan bocah itu dibongkar untuk ditempati jenazah lain.

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...