Pages

Sabtu, 10 Maret 2018

"Gantung Raket" (Bagian 1)

Service Over. Interval.” Ucap wasit laga final ganda campuran Indonesian Open 2017 itu. 

Keempat pemain segera mengemasi barang mereka dan berpindah tempat ke sisi lapangan lain. Setelah set pertama dan kedua yang berlangsung ketat dengan score 21-19 dan 20-22, pada set ketiga ini pemain Indonesia, Thomas dan Sarah, bisa sedikit mengamankan permainan dengan unggul empat angka saat interval dari pemain Tiongkok dengan score 11-7.

Masing-masing coach segera memasuki lapangan permainan untuk memberikan arahan pada anak didik mereka. “Sar, Kamu di depan lebih tenang lagi. Netting kamu masih kotor. Terlalu tinggi.” Ucap Coach Bayu, mantan juara dunia ganda campuran itu.

Sarah meletakkan botol air mineralnya dan segera bersiap melanjutnya permainan. Dia tak sengaja melihat ke arah bangku VIP. Ada pamannya di sana, tepat di baris nomor dua dari bawah, sangat jelas. Apakah hal yang ia takuti itu benar terjadi? Pikir Sarah.

“Pamanku datang, Thom.” Ucapnya.
“Iya, untuk menyemangatimu.” Balas Thomas bersiap di belakang Sarah yang akan segera melakukan service.
Sarah menggeleng. “Tidak mungkin, Thom. Firasatku tidak enak.” Ucapnya.
“Ya udah, kita mundur saja.” Balas Thomas sambil memegang bahu Saras. “Kita coba lagi tahun depan.”
“Sarah. Come Here, Please.” Ucap wasit asal Malaysia itu menyuruh Sarah mendekat padanya. “Get ready to serve.”
“Oke.” Ucap Sarah. Dia kembali ke area permainannya.
“Jangan, Thom. Tinggal sepuluh poin lagi, tanggung.” 

Sarah melakukan service, langsung dibalas dengan pukulan menukik ke sisi sebelah kiri oleh pemain Tiongkok. Sarah gagal mengantisipasi pengembalian dari pemain itu. Score berubah menjadi 11-8. Pindah bola.

Kemudian berturut-turut pasangan Indonesia itu membuat kesalahan sendiri yang berbuah poin bagi lawan. Mulai dari saat Sarah salah mengamati bola, dan membiarkan bola yang ternyata masuk. Kedua pemain Indonesia itu kurang koordinasi saat bola diarahkan ke tengah lapangan. Netting silang Sarah yang gagal menyebrangi net, atau saat Sarah memberikan bola tanggung yang langsung dibalas sebuah jumping smash keras oleh pemain pria Tiongkok itu. Pemain Tiongkok berhasil membalikan keadaan, dan unggul 12-11.

Sarah dan Thomas izin untuk menyeka keringat yang membanjiri wajah mereka. “Kamu tidak apa-apa kan Sar?” Tanya Thomas pada pasangannya itu.

Sarah menggeleng, namun pikirannya memang sudah tidak berada di lapangan itu lagi. Hanya tubuhnya yang ada di sana, namun hatinya sudah melayang menembus berantara jalanan ibu kota, dan berhenti pada sebuah kamar rawat inap kelas VIP. 

***

Pagi sebelum lagi Final Indonesia Open di Istora Gelora Bung Karno, Sarah meminta izin untuk meninggalkan hotel tempat mereka menginap. Menumpang taksi, dia menuju sebuah rumah sakit swasta di kawasan Semanggi. Sesampai di depan kamar yang terletak di ujung koridor itu, dia mendapati anggota keluarganya berkumpul di luar kamar.

Ayahnya segera menghampiri Sarah, dan memeluk anak gadisnya itu. “Dokter sedang menangani, ibumu sudah tidak sadarkan diri.”
Tak lama berselang, dokter keluar dari kamar perawatan. “Kondisinya masih kritis, tapi sudah berangsur stabil.”

Sarah masuk ke dalam kamar perawatan. Ibunya ada di sana, terbaring dengan tubuhnya yang semakin mengurus karena penyakit kanker paru-paru yang dideritanya setahun terakhir. Peralatan-peralatan medis terpasang pada tubuh wanita paruh baya itu untuk menopang hidupnya. 

Sarah menggenggam tangan ibunya. “Bu, Sarah masuk Final. Sore nanti akan melawan Tiongkok.” Ucapnya pada tubuh lemah tak sadarkan diri itu. Dia yakin ibunya bisa mendengarnya di alam bawah sadarnya. Masuk final Super Series Premier merupakan pencapaian terbaik dalam karir Bulutangkisnya, ibunya pasti bahagia mendengar kabar itu, pikir Sarah.

“Sarah janji bawa medali emasnya ke sini, bu.” Ucapnya lirih. Sarah menyeka airmata yang menetes dari sudut matanya. 

***

Pemain Tiongkok memberinya sebuah service pendek, Sarah segera mengembalikan dengan netting tipis yang bergulir di bibir net. Bola jatuh di bidang permainan Lawan, dan tidak bisa dijangkau oleh pemain Tiongkok itu. Pemain Indonesia berhasil menyamakan kedudukan menjadi dua belas sama, dan memutus perolehan poin beruntun lawan. 

Sarah dan Thomas bersalaman untuk menyemangati satu sama lain. Sarah mengangguk dan menatap pasangannya itu untuk menyakinkan Thomas bahwa dia bisa mengatasi kemelut di pikirannya. 

Thomas berjalan ke arah service judge untuk mengganti kok. Dalam waktu beberapa detik yang tak lama itu, Sarah menggunakannya untuk memikirkan kembali perjalanan karirnya yang tak mengesankan itu. Usianya kini sudah memasuki dua puluh lima tahun, namun belum ada juga gelar bergengsi yang ia raih. Mungkin ini satu-satunya kesempatan yang tersisa untuk mempersembahkan sebuah gelar bergengsi untuk ibunya. Apapun kondisi ibunya sekarang, dia akan membawa medali emas itu untuknya. Dia berusaha untuk tak memikirkan kemungkinan terburuk atas kedatangan pamannya itu. Seperti kata Thomas, pamannya datang untuk menyemangati Sarah, bukan untuk membawakan kabar yang ia tak ingin dengar. 

Sarah menarik nafas panjang kemudian berteriak untuk mengempulkan kembali energinya yang sempat kendor. Dia bersiap di depan Thomas yang akan melakukan service. Pemain wanita Tiongkok mengembalikan service Thomas dengan sebuah pukulan drive lurus ke arah Sarah. Sarah menekuk kakinya dan mengembalikan kok ke sisi sebelah kiri yang tak bisa diantisipasi oleh pemain Tiongkok itu. Mereka kembali unggul satu poin.

Kemudian kedua pasangan saling susul menyusul poin hingga poin 21 - 21 untuk bola berada di pemain Tiongkok. “Bisa.” ucap Thomas pada Sarah. Sarah menggangguk. Cuma butuh dua poin saja untuknya memberikan hadiah termanis untuk ibunya, pikir Sarah. Dia akan menyelesaikan ini dengan manis. Dia akan berada di podiom tertinggi di sana.

Pemain Tiongkok memberikan sebuah service tinggi ke belakang. Sempat tak bisa diantisipasi oleh Sarah, namun dia segera bergerak ke belakang, dan mengembalikan bola itu dengan jumping smash di tengah ke dua pemain Tiongkok. Ke dua pemain Tiongkok itu berusaha memukul kok, namun mengenai raket satu sama lain. Bola jatuh di tengah sisi lapangan pemain lawan, dan memberikan satu poin penting bagi Pemain Indonesia itu.

“Satu lagi.” Sarah memberikan isyarah angka poin dengan jarinya.
Habisin, habisin.” Teriak penonton yang memadati Istora untuk memberikan energi tambahan bagi Sarah dan Thomas.
Kedua pasangan saling memberikan kemampuan terbaik mereka untuk satu poin penentu itu. Setelah tiga puluh pukulan berlangsung, Sarah membuat kesalahan dengan memberikan bola tanggung yang langsung disambar oleh pemain Tiongkok itu. Bola jatuh di depan Sarah. 

Fault.” Ucap wasit. Raket pemain wanita Tiongkok itu melewati net. Dia telah memukul bola sebelum bola itu mencapai bidang permainannya. Poin diberikan untuk pasangan Indonesia. Seisi Istora Gelora Bung Karno bersorak menyambut juara baru ganda campuran Indonesian Open.

Setelah bersalaman pada kedua pemain lawan, wasit, dan service judge, Sarah segera berlari ke arah Bangku VIP. “Kenapa, om?” Ucapnya.
Pamannya tersenyum. Sarah tau senyum itu berbeda, ada getir di sudut bibir itu, sebuah senyum yang mengisyaratkan kalau apa yang ia takuti itu benar terjadi. “Ambil dulu medalinya.” Ucap Pamannya.
“Jujur saja, om.” Tanya Sarah. Ia tak menyadari kalau air mata telah menggenang di sudut matanya.
“Ibumu sudah tidak sakit lagi. Dia sudah tenang sekarang.”
Tangis Sarah pecah. Dia memeluk pamannya. “Aku ambil dulu medalinya, om. Ibu harus lihat kalau aku sudah berhasil.”
Sarah kemudian berlari ke podium. Awarding Ceremony akan segera dilakukan.

***
Aku sedang menyaksikan partai final Ganda Campuran melalui televisi sore itu. Partai Final yang sangat menengangkan, score ketat dengan reli-reli panjang yang tampak melelahkan. Pasangan Indonesia akhirnya berhasil memenangi pertandingan, dan memperoleh gelar Super Series Premier pertama mereka. Tak kusangka dua sahabat lamaku itu berhasil mencapai mimpi mereka. 

Aku menatap ke arah sebuah raket yang di pajang miring di tengah dinding di atas televisi. Aku segera mengalihkan pandangan dari raket itu. Dia seperti mencibirku. Dasar kau pria lemah yang menyerah begitu cepat, kira-kira begitu yang ingin dikatakannya. Itu raket yang ku gunakan pada babak pengisihan Thailand Open dua tahun silam, pertandingan terakhirku sebelum memutuskan untuk gantung raket dengan catatan tanpa gelar internasional sepanjang karir senior, dan rekor luar biasa terhenti di babak pengisihan sepuluh kali berturut-turut. Sangat memalukan memang.

Sarah dan Thomas menaiki podium tertinggi mereka disambut riuh militan para penonton Indonesia. Kulihat Sarah berlinangan airmata di podiumnya. Pasti dia bangga sekali dengan dirinya. Pencapaian yang sangat pantas disambut dengan haru. 

“Kami baru saja mendapatkan berita duka.” Ucap komentator pertandingan. “Satu jam yang lalu ibunda Sarah meninggal dunia karena penyakit kanker paru-paru yang dideritanya.”
Aku segera berlari ke dalam kamar, dan mengambil kunci mobil. Mobilku kupacu melaju ke rumah Sarah. Ini pasti hari yang amat berat baginya.

***

Mobil yang dikendarai pamannya mendekat ke rumah Sarah. Tampak olehnya bendera kuning sudah terpasang di depan rumah. Mobil belum sepenuhnya berhenti ketika sarah berusaha membuka pintu. Pamannya segera memberhentikan mobil, lalu membuka pengunci pintu di sebelahnya. Sarah segera berlari ke dalam rumah dengan sebuah medali emas tergantung di lehernya.

Di tengah ruang tamu sana, ibunya terbaring. Seketika airmata yang tadi sudah mengering kembali membasahi pipi Sarah. Dia membuka penutup wajah ibunya, dan mendapati wajah berseri nan tersenyum itu. “Aku memenuhi janjiku, bu. Ini mendali emasnya, bu.”

Insyaallah ada lanjutannya… :D

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...