Pages

Sabtu, 31 Maret 2018

Cerpen "Memori tentang Rumah"

 “Pagi, Nek.” Ucapku mengampiri Nenek Muslimah. Aku menyalaminya, lalu menempelkan tangannya pada keningku.

Wanita delapan puluh tiga tahun itu menatapku lekat. Dari gurat-gurat keriput di wajahnya, aku bisa melihat raut-raut kebingungan di sana. Dia seolah sedang mencari-cari wajahku dari memori ingatannya yang terbatas.

Sia tu, Mak? Ingek ndak? Siapa itu, bu? Ingat Tidak? Ucap mak tuo yang datang dari arah dapur.
“Siapa, ayo, nek?” Ucapku seolah memberinya tantangan.
Nenek menatapku semakin lekat. Beberapa menit berselang, ia menggeleng. Dia menyerah, daya ingatnya semakin tak bersahabat dengannya.

“Aku Andre, anaknya Agung.” Ucapku memberinya kunci jawaban.
Nenek tersenyum. “Oh, anaknya Agung.” 

Nenek melupakanku bukan karna aku sudah sangat lama tidak bertemu dengannya. Baru kemaren petang aku bertemu dengan nenek. Rumahkupun hanya berjarak beberapa blok dari tempat tinggalnya di rumah Mak Tuo Sari. Mak Tuo Sari adalah kakak ayahku. 

Usialah yang merenggut daya ingat nenek. Hanya tersisa beberapa hal yang masih bisa diakses oleh memori ingatannya, misalnya nama anak-anaknya. 

Aku sedang menyuap nasi goreng buatan mak tuo ketika suaranya terdengar dari arah belakang rumah. “Mak, mau kemana?” Ucapnya.
“Ndak ado apo-apo di situ doh mak. Tidak ada apa-apa di sana, Bu
Aku menghampiri mereka berdua. Tampak olehku nenek yang sudah berjalan ke tanah kosong di belakang rumah mak tuo. Kami bergegas menghampirinya.

“Mau kemana, Nek?” Ucapku.
“Mau buang air.” Ucap Nenek.
Banda disiko kama yo? Kok ndak ado? Sungai disini kemana? Kenapa tidak ada?” Lanjut nenek tampak kebingungan. 

Kami segera paham. Nenek mengira kalau dia sedang berada di rumahnya di kampung. Ada sungai kecil di belakang rumahnya, di sanalah biasanya ia mandi dan buang air.
“Tidak ada, Mak.” Ucap mak tuo tampak putus asa menghadapi ibunya. “Mau buang air di WC, di sana, di dalam rumah.” 

Nenek tak menjawab. Kepalanya bergeleria menghadap ke sekeliling tanah kosong itu. Dengan langkahnya yang gontai, ia berjalan lagi beberapa langkah ke arah depan. Tak ada sungai di sini, yang ada hanya sekumpulan bocah-bocah kecil sedang bermain sepak bola di ujung sana. Kami kemudian menuntun nenek kembali ke rumah, dan menyarahkannya menuju toilet.
***
Aku tengah mencetak revisi ketiga skripsiku ketika ayah datang tergesa-gesa ke dalam kamar. “Nenek hilang lagi.” Ucapnya. Ini sudah kali ketiganya nenek menghilang dalam sebulan ini. Sedikit lagi menyamai rekor bulan lalu, empat kali. Kami bergegas mengatur rute pencarian nenek. Ayah bergerak ke arah kiri, sedangkan aku ke arah sebaliknya.

Aku mengendari motorku dengan pelan, dan memperhatikan sepanjang jalan yang kulalui. Di sebuah perempatan aku bertemu dengan anaknya mak tuo. Kami mengatur arah pencarian juga. Aku akan lurus terus ke arah musala sedangkan ia bergerak ke arah sebuah taman kanak-kanak.
***
Sepuluh menit yang lalu, Muslimah berjalan ke luar dari rumah anak perempuannya itu. Dia berjalan lurus, membiarkan saja kemana kaki lemahnya itu hendak bergerak. Semakin jauh ia berjalan, ia semakin asing dengan lingkungan sekitar. Terlihat olehnya rumah-rumah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di sebelah jalan yang ia lalui, tampak motor dan mobil saling mendahului. Klason kendaraan terdengar saling bersautan mengusiknya. Sedang di mana aku? Pikir Muslimah kebingungan.
Setelah berbelok di depan sebuah gang, dari pandangan matanya yang kabur, Muslimah melihat sebuah rumah yang tampak seperti rumahnya. Dia berjalan mendekat pada rumah itu. Semakin dia mendekat, rumah itu tampak semakin jelas, dan itu sama sekali tak mirip dengan rumahnya. Muslimah lanjut melangkahkan kakinya ke arah lain.
Beberapa menit kemudian, kakinya mulai terasa kelelahan. Dia tak tau sudah berapa lama dia berjalan, dan sudah berasa jauh langkah yang ia tempuh. Dia lalu melewati kerumunan orang - orang yang sedang berkumpul di depan sebuah toko.
“Tau rumah si Sari?” Ucap Muslimah ke arah mereka.
“Sari yang mana, nek?” Jawab salah satu dari orang-orang itu.
“Sari anak ambo.” 

Setelah itu ia mendengar suara memanggilnya dari belakang. Muslimah berputar arah mengikuti arah suara itu. Tampak seorang pemuda yang sedang mengendarai sepeda motor mendekat padanya. Ia merasa pernah melihat pemuda itu, namun tak tau entah di mana. Pemuda itu memanggilnya nenek. Mungkin salah satu cucunya, pikir Muslimah.
“Ayo, nek. Andre antar pulang.” Ucap pemuda itu.
***
Frekuensi hilangnya nenek semakin bertambah dari beberapa bulan yang lalu. Dari yang biasanya satu kali saja dalam satu bulan, akhir-akhir ini hampir setiap minggu nenek menghilang. Setelah berembuk, kami memutuskan untuk membawa nenek berkunjung ke rumah di kampung sekaligus untuk menghadiri pesta pernikahan salah satu kerabat.

Siang ini di bawah cuaca Kabupaten Agam yang terik, mobil kami bergerak terguncang-guncang memasuki pekarangan rumah nenek yang berbatu. Rumah yang terletak tepat di tepi sawah dan di depan sebuah sungai kecil itu tampak sudah tak terawat. Maklum saja rumah ini memang sudah tak ada yang menempati lagi semenjak nenek kami ungsikan ke Padang. Sesekali memang masih dibersihkan oleh salah satu anak nenek yang masih tinggal di kampung ini.
***
Muslimah keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah seolah tak terjadi apa-apa, seolah ia tak pernah meninggalkan rumah itu sekian lama. Dia segera bergerak ke dapur tempat dahulu saban hari ia memasak makanan untuk suami dan anak-anaknya. Tungku batu itu masih ada di sana. Arang - arang bekas pembakaranpun masih ada di sana mengucapkan selamat datang kembali padanya.

Muslimah membuka pintu belakang, dan langsung terpampang di ujung sana sungai tempat ia dan keluarganya dulu membersihkan diri. Di belakang dapur ada pondok kecil tempat ia biasa menyimpan pelepah dan daun pohon kelapa kering untuk bahan bakar tungkunya. Dia segera bergerak ke pondok itu, dan tak menemukan lagi pelepah dan daun yang tersisa. Dia bergerak ke arah dapur mengambil ladiang yang diselipkan di sudut dapur. Masih di sana, tak pernah bergerak pindah.

Muslimah menyeret kakinya ke arah kebun di sebelah rumah. Beberapa pelepah pohon kelapa kering berserakan di sana. Dia hendak memisahkan daun dan batang pelepah itu dengan parang yang ia bawa dari dapur, namun ayunan tangannya tak sekuat dulu lagi. Putri sulungnya, Sari, datang membantunya untuk memotong kayu itu. Mereka kembali ke dapur membawa bahan bakar tunggu mereka.

Muslimah melipat daun pohon kelapa, lalu membakar ujung lipatan. Dia lalu meletakkannya diatas tumpukan kayu yang telah disusun di tengah tungku. Asap mengembul memenuhi kembali seisi dapur. Lihatlah betapa bahagianya periuk berisi air itu. Akhirnya ia bertemu lagi dengan kawan lamanya, si tungku batu. Kuali, gelas, piring, dan sendokpun bergembira menyambut giliran mereka untuk digunakan kembali oleh Muslimah.
***
Nenek muncul dari balik pintu dapur. Dia tampak kesusahan membawa nampan berisi beberapa gelas kopi dan teh. Mak tuo Sari hendak membantunya, namun nenek melarang. Gelas ia susun di tengah kami. Setelah selesai meletakkan gelas-gelas panas itu, nenek melihat ke arahku. Dia tersenyum, lalu menghampirku.
“Andre, alah gadang kini. Udah besar sekarang.” Ucapnya riang. Nenek mengingatku.
Nenek mengambil uang dari saku baju dasternya, lalu menyerahkan padaku. Aku hendak menolak sebelum ayah melarangku. Ayah memberikan isyarat padaku untuk mengambilnya.
Untuak balanjo. Untuk jajan.” Ucap Nenek.
***
Keesokan harinya kami akan kembali ke Kota Padang. Agar nenek mau ikut, kami terpaksa berbohong padanya. “Ke rumah Iyak Roih.” Ucap mak tuo. Iyak Roih adalah teman masa muda nenek dulu.

Mobil kembali melaju meninggalkan pekarangan rumah nenek. Kami tentu saja tak pernah berhenti di rumah Iyak Roih. Mobil terus bergerak ke jalan besar hingga beberapa menit kemudian nenek tertidur, dan terbangun di rumah mak tuo

Selang beberapa hari, aku baru saja sampai di rumah seteleh bimbingan skripsi di kampus, ayah menyuruhku kembali menyalakan motor. “Nenek hilang lagi.” Ucapnya. Aku melempar tas ke ruang tamu, dan bergegas mencari nenek.
***

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...