Pages

Minggu, 10 Desember 2017

Cerpen "Fajar yang Tak Menerangi"

Pukul enam kurang seperempat pagi, begitu kira - kira yang ditunjukan jam tangan Alexandre Christie warna abu - abu bergaya klasik yang baru saja dia pasang. Fajar, karyawan sebuah bank swasta nasional itu kemudian merapikan lengan baju kemeja office looknya. Baju hari ini berwarna biru langit dengan corak garis hitam horizontal. Baju itu baru saja dia beli weekend kemaren dengan kartu kredit bank asingnya yang baru saja diapproved. Jago betul sales kartu kredit itu pikir Fajar. Gajinya yang hanya lebih sedikit dari UMR Jakarta itu, disulap menjadi tiga kali lipat.

Dia memeriksa tas backpack berwarna abu - abu mudanya. Semua perlengkapan kantor sudah tersusun sedemikian rupa dalam tas itu. Fajar bergegas memasang sepatu pantofel hitam bertalinya. Dia kemudian segera melangkah menuju halte busway yang berjarak sekitar sepuluh menit dari indekostnya itu. 

Fajar merogoh saku celana sebelah kirinya, menarik keluar earphone berwana putih yang sudah terpasang pada ponsel iPhone 6s gray miliknya. Ponsel itu tertarik keluar bersamaan dengan earphone yang segera dia pasang pada kedua telinganya. Sehabis memilih satu lagu dari aplikasi Spotify Premium, sebuah notifikasi sms muncul dan membuat pemuda perantau itu sumringah. 

Itu sms notifikasi dari bank tempat dia bekerja yang menginformasikan bahwa gajinya bulan ini sudah mendarat mulus ke dalam rekening payroll. Fajar bergegas membuka aplikasi internet banking di ponselnya. Satu pertiga dari gajinya bulan ini akan segera berkurang untuk pembayaran kartu kreditnya di salah satu bank plat merah. 1 Jutaan untuk pembayaran cicilan iPhone 6snya, dan beberapa ratus ribu untuk tas backpack yang dia beli bulan kemaren. Cicilan iPhone sisa delapan kali lagi pikir Fajar sambil terus berjalan menuju halte busway yang sudah terlihat di depan mata. Dia menurunkan volume musik yang sedang memutar lagu perfect milik Ed Sheeran itu.

Fajar sudah menaiki jembatan menuju halte busway. Sebuah bus Trans Jakarta gandeng tampak dari kejauhan. Dia mempercepat langkahnya menuju tempat tap uang elektronik untuk memasuki halte itu. Sebelum itu dia melewati seorang petugas Trans Jakarta yang sedang berbicara dengan seorang bapak tua di depan loket.

Harus pakai kartu pak.Ucap petugas itu samar - samar terdengar olehnya.
Fajar melewati mereka berdua. Minta tolong mas itu saja.Ucap petugas terdengar di antara musik yang mengalun dari earphone ditelinganya.
Mas.. Panggil petugas Trans Jakarta itu. Mas…”

Fajar terus berjalan pura - pura tidak mendengarkan petugas itu. Dia segera menempelkan kartu uang elektroniknya, dan bergegas menuju gate, menunggu bus yang semakin mendekat.

Tunggu ya pak, kita tunggu orang lainUcap petugas itu dari kejauhan. Musik di earphone Fajar sedang berhenti, dan berganti ke lagu selanjutnya.

Bus Trans Jakarta sampai di depannya, dan dia segera masuk. Tampak tiga bangku kosong tersedia di dalam bus itu. Fajar segera duduk dan mendekap tasnya. Tak lama bapak tua tadi masuk dengan tergopoh - gopoh bersama seorang pemuda sebaya dengan Fajar. Pemuda itu duduk di sebelahnya, dan bapak tua duduk di depannya.

Bapak mau kemana?Tanya pemuda di sampingnya beberapa waktu kemudian.
Mau ke bekasi nak. Ini bisa turun di stasiun grogol ya?
Oh, bisa pak. Nanti bapak turun di grogol, naik jembatan dulu, baru keluar di depan terminal ya.

Fajar menoleh ke arah mereka. Tampak bapak tua itu mengangguk sambil tersenyum. 

Bus kemudian berhenti di terminal grogol. Bapak tua mengucapkan terima kasih kepada pemuda yang menolongnya. Fajar hendak berdiri karena akan berganti bus ke arah kantornya di Thamrin. Pandangannya beradu dengan bapak tua yang tampak mengangguk dan tersenyum ke arahnya. Fajar mengangkat bibirnya sedikit untuk membalas, kemudian bergegas mendahului bapak itu.

Dia terus berjalan ke depan, tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Dia sampai di depan gate tempat menunggu bus yang ke arah Thamrin. Dia melihat bayangan dirinya dari kaca halte. Dia menatap semakin dalam, lalu menunduk. Dia mengangkat kepalanya lagi. Terlihat lagi bayangan dirinya pada kaca itu. Fajar kembali menunduk, dan kemudian menyadari bahwa sepatu pantofel branded hitam yang baru saja dia semir itu terkena lumpur sisa hujan kemaren malam.

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...