Pages

Minggu, 13 Agustus 2017

Cerpen "Minggu Pagi di Panti Jompo"

Dari ujung tempat tidurnya oma Ling mengarahkan pandangan melalui jendela kaca besar ke pekarangan depan Panti Jompo. Tampak olehnya satu atau dua mobil masuk ke dalam area parkir, kemudian beberapa orang keluar dari dalam mobil dan berjalan bergegas menuju aula yang berada di lantai satu, tepat di samping kamarnya.

Oma terus memperhatikan orang - orang yang lalu lalang di halaman depan panti jompo yang dia sudah diami lebih dari tiga bulan itu. Belum tampak olehnya wajah - wajah yang dia kenal. Mungkin si sulung Alex, atau si Bungsu Debi kali ini tidak bisa lagi menghadiri pertemuan bulanan yang diadakan pengurus panti jompo. Mereka tampaknya masih sangat sibuk dengan pekerja mereka. Alex pasti tidak bisa lagi meninggalkan toko buku miliknya. Debi mungkin sedang mendapat giliran masuk saat weekend di rumah sakit tempat ia bekerja. Sama persis seperti alasan mereka tidak datang bulan kemaren.

Sebuah mobil lain memasuki pekarangan panti jompo. Dia ingat betul itu mobil Alex. Mobil yang sama yang tiga bulan yang lalu membawanya ke tempat ini. Oma Ling bangkit dari tempat tidurnya, dan mendekatkan matanya ke jendela. Dia membenarkan posisi kaca mata rabun jauhnya. 

Pintu mobil terbuka, dan beberapa orang keluar dari dalamnya. Tak satupun dari orang - orang itu yang dia kenal. Oma mencoba melihat nomor plat mobil itu, namun kemudian dia tersadar bahwa tak ada gunanya. Dia tak ingat sama sekali nomor plat mobil Alex.

Oma kembali duduk di ujung kasurnya, dan terus memandang ke arah pekarangan panti jompo. Kemudian ingatannya berputar ke waktu tiga bulan yang lalu, saat kedua anaknya mengatakan akan menitipkannya untuk sementara waktu di tempat ini. Ketika itu Alex baru saja bercerai dengan istrinya, sedangkan Debi ditinggal kabur oleh asisten rumah tangga yang biasa membantunya untuk mengurus oma Ling selama dia bekerja. 

Dengan alasan tidak ada yang mengurus oma selama mereka bekerja, jadilah dia terdampar di tempat isi bersama manusia - manusia lanjut usia malang lainnya. Kata mereka untuk sementara waktu, namun sampai hari ini tak ada tanda - tanda kalau oma akan keluar dari tempat ini. Mungkin dia akan menjadi penghuni tempat ini sampai ajal menjemput, pikir oma Ling.

Lamunannya terhenti oleh sebuah suara dari pintu kamarnya. “Oma, ayo berkumpul bersama yang lain. Acara sudah akan dimulai.” 

Oma Ling menatap petugas panti jompo itu. Dia mengangguk, kemudian mengarahkan pandangan ke kasur - kasur lain di kamarnya. Tak ada lagi tampak penghuni lain di kamar itu. Mereka sudah berkumpul bersama keluarga mereka di aula. Oma bangkit dari tempat tidurnya, dan menyeret kakinya menuju petugas.

Seorang petugas panti jompo yang didaulat menjadi MC berdiri di tengah panggung kecil di depan aula. “Selamat pagi opa, oma, bapak dan ibu semua.” Ucapnya memulai aksi. Semua penghuni panti jompo beserta keluarga mereka serentak menjawab dengan semangat. Kecuali tentu saja oma Ling yang meringkuk sendiri di kursi paling sudut di belakang aula. 

“Untuk penampilan pertama kita sambut opa Rahmat yang akan membawakan lagu Indonesia Pusaka. Silakan opa.” Opa Rahmat yang telah menghuni tempat itu selama dua tahun dengan penuh semangat mulai menyanyikan lagu wajib nasional tersebut. 

Ketika bait pertama Indonesia Tanah Air Beta, pusaka abadi nan jaya dinyanyikan oleh opa Rahmat, oma Ling tiba - tiba mengingat sebuah peristiwa puluhan tahun silam. Walau tak jelas betul dengan ingatan itu, namun dengan samar - samar oma Ling masih bisa merasakan energi yang dibawa kenangan itu. 

Ketika itu anak bungsunya Debi mendapat tugas menyanyikan lagu yang sama pada acara kenaikan kelas dua SD. Dengan ragu - ragu Debi berjalan menuju panggung yang terletak di depan halaman sekolah. Sesekali dia menoleh ke belakang ke arah mamanya yang duduk di baris pertama tempat para orang tua berkumpul. 

Saat sampai di atas panggung Debi dengan gemetaran memegang mic yang disodorkan oleh gurunya. Debi menoleh lagi ke mamanya yang sedang mengepalkan tangan di depan dada mencoba memberikan semangat untuknya. Dia kemudian menarik nafas panjang, dan mulai menyanyikan bait demi bait lagu Indonesia Pusaka. Alunan suaranya yang merdu di sambut tepukan meriah oleh seluruh penonton ketika lagu itu selesai ia nyanyikan. 

Tanpa ia sadari, mata oma Ling sudah berkaca - kaca mengingat peristiwa itu. Dengan ujung lengan bajunya, ia menyeka matanya yang berair. Dia kembali memperhatikan seorang oma lain yang dengan terbata - bata menyanyikan lagu dangdut di atas panggung. Ketika itulah oma Ling mendengar sebuah suara yang amat dia kenal.

“Mama, maaf kami terlambat. Tadi macet sekali jalan kesini.”

Oma Ling menengok ke sumber suara, dan tampak olehnya wajah keluarga yang sedari tadi sudah ia tunggu. Si Sulung Debi mengenakan gaun merah favoritnya, tampak seperti baju imlek. Di sebelahnya, Samuel, suami Debi, tampak tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi. Di belakang mereka, menyusul si bungsu Alex yang kemudian melewati mereka berdua dan segera memeluk tubuh oma.

***

Perceraian dengan istrinya memang sempat membuat Alex terpuruk. Umur pernikahan dua puluh dua tahun nyatanya tak membuat mereka bertahan. Perpisahan tak lagi terelakan. Namun tak butuh waktu lama bagi Alex untuk kembali menata hatinya. Seorang teman lama semasa kuliah dulu tiba - tiba hadir kembali dalam hidupnya. Wanita itu kini sudah berstatus janda dengan seorang anak laki - laki remaja. 

Sore itu ketika sedang sibuk mengurusi toko buku dan alat tulis kantornya, Alex mendapat telpon dari calon istrinya. Anak laki - lakinya ditangkap polisi beserta barang bukti sabu - sabu yang sedang dia kosumsi. Alex bergegas menyusul calon istrinya yang sudah lebih dulu datang ke tempat anaknya diperiksa.

Ketika memasuki halaman kantor polisi itulah, Alex kembali mengingat peristiwa tiga puluh lima tahun silam. Dia ditangkap polisi dengan kasus yang sama, dan umur yang tak jauh berbeda juga dengan calon anak tirinya itu. Dia ingat betul bagaimana mamanya datang ke tempat ini dengan wajah kusut. 

Papanya membentak Alex sejadi - jadinya di depan semua orang di kantor itu. 

“Kau jangan membentaknya. Dia butuh kita sekarang.” Ucap mama Ling tak kalah garang dari papanya. 

Mamanya kemudian memeluk Alex, dan mengusap - ngusap punggung tipis remajanya. “Maaf kan mama tak bisa menjagamu.” Ucapnya berbisik.

Alex diputuskan untuk direabilitasi. Kedua orang tuanya, terutama sekali mama, selalu rutin mengunjungi Alex di tempat dia direabilitasi. “Kau akan segera keluar dari sini. Kita akan berkumpul kembali.” Ucap mama pada suatu sore, dan kemudian kembali terngiang - ngiang di ingatan Alex.

Malam itu selesai mengurus perkara calon anak tirinya itu, Alex menghubungi Debi melalui telpon. “Minggu ini kita bawa mama pulang.” Ucapnya singkat. 

***

“Ma, hari ini kita kembali ke rumah ya.” Ucap Alex masih dalam pelukan oma Ling.

“Mama tidak tinggal di sini lagi?” Ucap oma sambil mengangkat kepalanya dari pundak Alex, dan menatap kedua anaknya secara bergantian.

“Iya, ma.” Ucap Debi mendekat, dan mengusap pundak mamanya.

“Nanti kita bisa ke klenteng barang lagi, bersama - sama, seperti dulu.” Ucap Alex.

“Antar mama dulu ke kuburan papamu.” Ucap Oma Ling.

“Iya, ma. Selesai acara ini kita kesana.” Ucap Debi.

Terdengar dari speaker besar yang terletak tak jauh dari tempat mereka duduk, MC memanggil nama oma Ling. “Kita persilahkan oma Ling untuk memberikan salam perpisahan pada penghuni yang lain. Silakan oma.”

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...