Pages

Jumat, 21 Juli 2017

Cerpen "Detik Terakhir"


Rudi berjalan pelan menuju halte busway yang berjarak sekitar sepuluh menit dari rumahnya. Kakinya dia bawa melewati genangan - genangan air bekas hujan semalam yang belum mengering. Sinar matahari pagi yang selalu menamparnya pada sisi yang sama belum mampu membawa genangan - genangan air itu pergi. Bahkan daun - daun masih tampak basah.

Dia tak terlampau terburu - buru. Kantornya di daerah Mampang Prapatan dapat dijangkau lima belas menit saja dengan busway. Seperti pagi - pagi sebelumnya, dia nikmati betul perjalanan menuju halte busway itu. Sambil terus berjalan, dia mengamati sekitar komplek perumahannya yang tak banyak berubah semenjak dia mulai tempati dua puluh lima tahun yang lalu bersama istrinya. 


Dia kemudian melewati sebuah tiang listrik condong di depan belokan menuju jalan besar. Sebuah kertas HVS ukuruan A4 tertempel di tiang tepat setinggi pandangan matanya. Warna - warni mencolok dicetak seadanya di atas kertas itu. Kertas itu sepertinya baru saja ditempel seseorang di sana. Masih tampak kering, tak ada tanda - tanda terkena guyuran hujan semalam.

Pesan yang tercetak pada kertas itu dengan sekejap menarik perhatian Rudi. Isi kertas itu adalah sebuah iklan tentang peluang waralaba usaha laundry express. Seketika mimpinya bertahun - tahun yang lalu untuk memiliki usaha sendiri menyeruak kepermukaan. Dia menarik perlahan kertas itu dari tiang listrik, dan kembali membaca isinya lekat - lekat. 

Rudi kembali berjalan menuju halte busway yang sudah tampak di matanya. Tetapi pikirannya belum mampu terlepas dari kertas itu. Sambil terus berjalan dia mengulang - mengulang membaca isi kertas di tangannya itu. Angka nominal modal untuk memulai usaha waralaba itu tampak masuk akal baginya, tercukupi dari tabungan yang sudah dia kumpulkan sejak mulai berkerja bertahun - tahun yang lalu. 

Dia bertekat malam ini akan meminta izin istrinya untuk memulai usaha ini di garasi rumah mereka. Dia kemudian melipat kertas itu baik - baik, dan tetap menggenggam di tangannya. Tekatnya sudah bulat. Dia tidak akan menundanya lagi, selagi keuangan dan tenaganya masih mampu untuk memulainya sekarang.

Rudi melangkahkan kakinya memasuki halte busway. TV menunjukan bus Trans Jakarta tujuan halte Dukuh Atas 2 yang selalu ditumpanginya akan sampai sekitar lima menit lagi. Sambil menunggu, dia mulai memikirkan tentang peluang keuntungan yang bisa dia dapatkan dari bisnis laundry express tersebut. Di komplek perumahannya ada beberapa kostan karyawan dan mahasiswa yang tentu saja menjadi target market yang tepat untuk bisnisnya. Selain itu belum banyak yang membuka usaha laundry di sekitar sana.

Tak lama kemudian tanpa Rudi sadari bus yang akan dia tumpangi sudah berada di depan mata. Dia bergegas memasuki bus yang cukup penuh itu. Beberapa orang berdiri di depan pintu bus sampai dia agak kesulitan memasuki bus bercorak biru putih itu. 

Dia hendak berjalan melewati kerumunan hingga ketengah bus. Sebelum dia melangkah terlalu dalam, seorang pemuda yang duduk di kursi prioritas berdiri dan mempersilahkannya untuk duduk di sana. Rudi terdiam sejenak, dan mencoba mencerna situasi yang baru saja terjadi. Pemuda itu kemudian kembali mempersilahkannya untuk duduk. Rudi mengangguk, mengucapkan terimakasih, kemudian duduk di bangku yang seperti disiapkan untuknya itu. 

Setelah bertahun - tahun menjadi penumpang Trans Jakarta itulah kali pertama seseorang memberikan kursi untuk dia duduki. Di usianya yang akan memasuki kepala lima itu apakah dia sudah tampak lemah? Pikirnya. Kejadian barusan seperti menyadarkan Rudi tentang usianya kini. Dia bukan lagi Rudi yang sama seperti puluhan tahun yang lalu dengan banyak mimpi di kepalanya.

Waktu sudah berjalan bergitu cepat hingga membawanya pada kondisi sekarang. Tak banyak dari mimpi - mimpi itu yang berhasil dia gapai, sedangkan senja sudah kian menyingsing. Tuhan, melalui pemuda itu, baru saja memberi tahunya bahwa dia sudah cukup terlambat. Apakah masih mungkin dia mewujudkan mimpinya untuk memiliki usaha di usia sekarang? Apakah masih ada waktu baginya untuk memulai usaha laundry itu?

Dia kembali memutar ingatannya mulai dari pertama kali dia berkerja dulu. Terus bergerak tahun demi tahun hingga sekarang. Dia kemudian menghitung pencapaian - pencapaian yang sudah dia raih sekian lama. Cukup bisa dihitung dengan jari pikirnya. Sekian lama hidup tak banyak yang telah dia raih. Dan dia baru akan memulai bisnis itu? Semua tampak tak masuk akal lagi bagi Rudi.

Dia tersentak dari lamunannya ketika menyadari sesuatu di depan pandangan matanya. Samar - samar dari balik tubuh orang - orang yang berdiri di depannya, tampak bangunan kantornya di ujung sana. 

Rudi bergegas berdiri. Dia melambaikan tangan ke arah petugas, dan memberi isyarat untuk menunggu sejenak. Dia berusaha berjalan melewati penumpang yang menumpuk di depan pintu. Tas selempangnya tersangkut di antara tubuh penumpang lain. Rudi menarik - narik tasnya, dan segera mendekap tas tersebut di dada. Tepat satu detik sebelum pintu bus ditutup, dia berhasil keluar. Ternyata tidak ada kata terlambat, pikir Rudi. Selama dia berusaha, bahkan di detik - detik terakhir dia berhasil lolos. 


0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...