Pages

Sabtu, 15 April 2017

Berdamai dengan Perasaan Kecewa


Ilustrasi
Randi terbangun pukul tujuh pagi, seperti biasa, oleh cahaya sinar matahari yang menembus jendela indekosnya. Namun hari ini bukan hari biasa. Sesuatu harus dibuktikan hari ini. Pemilik jaringan restoran masakan Padang tempat dia mengabdi sejak tujuh bulan yang lalu akan datang ke “kantornya” siang nanti. Dia tidak boleh mengecewakan wanita paruh baya yang memberinya penghidupan di ibu kota itu.

Randi meregangkan kedua tangannya. Dia kemudian menatap kedua tangan yang memberinya sesuap nasi di kota yang kejam ini. Tangan itu aset terpenting dalam karirnya di restoran itu. Saban hari beratus – ratus piring telah dibawanya dengan kedua tangan itu menuju meja – meja di restoran. 


Setiap bulan juga Randi selalu mendapatkan apresiasi oleh manager restorannya sebagai salah satu pramusaji terbaik. Kata managernya yang gemar memakai batik berwarna hijau itu, Randi mampu membawa tumpukan piring lebih banyak dalam sekali angkat dari pada pramusaji yang lain. 

Dia juga mampu menghidangkan dengan baik piring – piring berisi masakan Padang itu. Bagi Randi setetes kuah gulaipun tak boleh terjatuh ketika dia menghidangkan. Pembeli di restorannya harus mendapatkan yang terbaik.

Entah pemilik restoran itu sudah mengetahui atau belum perial kecakapan Randi, tapi dia akan melakukan lebih baik hari ini. Randi bertekat untuk menambah dua atau tiga piring lagi dari yang biasa dia angkat.

Randi bergegas mempersiapkan diri menuju restoran yang terletak tak jauh dari indekosnya itu. Di restoran, beberapa masakan sudah tersusun rapi dibalik kaca display. Sekitar setengah jam lagi, restoran akan dibuka dan Randi siap menyajikan masakan itu pada pelanggan – pelanggan “kantornya.”

Dua orang pelanggan pertamanya datang. Randi segera menyusun piring – piring berisi masakan Padang, seperti: ayam bakar, rendang, gulai cincang, dan gulai tunjang itu, di tangannya. Bukan hal yang sulit baginya meliuk – liuk melewati meja – meja membawa tumpukan piring itu. Sesampai di meja pelanggan tersebut, Randi dengan sigap menyusun piring – piring itu di tengah meja sesuai dengan letak bakunya. Sekali lagi dia memastikan bahwa tidak ada setetes kuah gulaipun yang terjatuh ke meja, lantai, ataupun tangannya. Semua sudah terletak pada tempatnya.

Sebelum meninggalkan meja, Randi tersenyum dengan ramah dan mempersilahkan pelanggannya untuk mencicipi hidangan yang sudah dia sediakan. Dia segera kembali ke tempatnya dan menunggu tugas selanjutnya. Dia melewati managernya yang memberinya acungan jempol. Sekali lagi dia melakukannya dengan sempurna.

Sekitar pukul dua belas siang, orang yang ditunggu – tunggupun datang. Pemilik jaringan restoran masakan Padang tersebut datang bersama beberapa regional manager. Randi bertugas untuk menghidangkan makan siang untuk mereka. Sebelum memulai aksi yang sudah dia lakukan ribuan kali itu, Randi menarik nafas panjang untuk menenangkan ketegangannya. 

Dia mulai menyusun satu demi satu piring diatas tangan kirinya. Dia kemudian menambah dua piring lagi dari yang biasanya dia mampu angkat. Setelah yakin semua telah tersusun mantap di tangan kirinya, Randi mengambil dua piring berisi ayam goreng dan ayam bakar untuk tangan kanannya. Sekali lagi dia menarik nafas panjang sebelum meliuk – liuk diantara kerumuman pelanggan dan pramusaji lain siang ini. 

Randi sampai di meja VIP tempat pemilik restoran dan jajaran regional manager menunggunya beraksi. Dia meletakkan dua piring dari tangan kanannya di bagian tengah, kemudian satu per satu menyusun piring – piring lain dari tangan kirinya. 

Saat hendak meletekkan piring berisi gulai cincang, Randi menyadari bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan terburuk yang pernah dia perbuat selama karirnya di restaurant ini. Tangannya mengkhianatinya. Piring mendarat kasar di meja kaca tepat di bagian depan wanita pemilik restauran. Kuah santan gulai cincang yang kental meluap, dan menetes seujung kuku ke atas meja. Wanita pemilik restauran itu mengambil tisu di depannya, dan membersihkan setetes kuah gulai itu. Dia kemudian tersenyum pada Randi.

Randi melanjutkan tugasnya menyusun piring dengan perasaan hancur berantakkan. Walau begitu, sebelum meninggalkan meja dia tetap berusaha tersenyum dan mempersilahkan para petinggi – petinggi itu untuk makan. 

Randi kemudian kembali ke tempat dia biasa menunggu tugas. Saat melewati managernya, pria itu hanya tersenyum padanya. Tak ada lagi hacungan jempol yang selalu dia dapatkan.

***

Pernahkah rekan – rekan mengalami apa yang Randi alami? Berbulan – bulan melakukan semuanya dengan sempurna, namun pada saat terpenting melakukan sebuah kesalahan yang menghancurkan semuanya. Reputasi baik yang dia jaga sekian lama, berakhir oleh setetes kuah gulai yang terjatuh ke meja. Rasanya prestasi – prestasi yang selama ini dia buat, tak ada gunanya lagi. 

Saya juga pernah mengalami hal yang hampir sama: dulu saat SMP, dan baru – baru ini. Saat duduk di bangku SMP dulu, saya selalu melakukannya dengan sempurna. Juara satu setiap semesternya tidak pernah saya lepaskan saat kelas satu dan dua. Pada kelas tiga, saya turun satu peringkat menjadi juara dua. Itu bukan masalah besar memang. 

Namun puncaknya pada saat ujian nasional semua prestasi itu terasa tak ada apa – apanya lagi. Nilai ujian nasional mata kuliah Bahasa Inggris saya hanya terpaut 0,2 poin dari nilai minimal kelulusan. Satu soal menyelamatkan muka saya di SMP itu. Dampaknya apa? Rasa percaya diri saya hancur berantakkan. Angan – angan masuk SMA favorit tinggal kenangan.

Baru – baru ini juga begitu. Saya tidak bisa cerita dimana saya mengalaminya, namun intinya sama. Berbulan – bulan saya melakukan semuanya dengan baik. Peringkat satu dan dua pernah saya dapatkan. Namun semuanya hancur pada saat paling menentukan. Poin yang tak terlalu jauh berbeda menyelamatkan saya sekali lagi. Lulus, namun tidak akan ada yang ingat bahwa saya pernah berjaya. Semuanya terasa sia – sia.

Apakah saya dan Randi pantas kecewa, marah, dan sedih? Bagi karakter perfectionist seperti kami, itu merupakan sebuah kekalahan telak. Kata mereka, “setidaknya piringnya tidak jatuh berantakkan ke lantai.” Kata mereka, “Setidaknya kamu lulus.” Sungguh, saya (kami) sangat jarang menggunakan kata “setidaknya”. Apakah kami tidak pandai bersyukur?

Hidup memang tidak selalu datar. Gelombang – gelombang itulah yang membuatnya berarti. Jika kami selalu mendapatkan apa yang kami mau, mungkin tidak akan ada lagi yang namanya perjuangan. Hal sempurna yang dilakukan berulang – rulang tanpa pernah terjatuh tentu akan menjadi hal biasa saja suatu saat nanti. 

Saya ingat kata seorang guru, pegas harus ditekan dulu untuk bisa melontar lebih tinggi. Mungkin ada rencana yang lebih baik yang disiapkan tuhan untuk saya di depan. Saya harus terjatuh dulu untuk bisa menggapainya. 

Hari ini kami putuskan untuk tak akan lama – lama bersedih, dan kecewa. Randi harus kembali melayani pelanggan – pelanggan yang mungkin mengagumi kecakapannya. Dan saya? saya harus bersiap untuk pekerjaan – pekerjaan menyenangkan yang menunggu di depan. KAMI BANGKIT!!!

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...