Pages

Minggu, 12 Juni 2016

Cerpen "Memilih Pergi"

Aku terdiam sebentar menarik nafas panjang, sebelum memasukkan kunci indekosku ke dalam lubangnya. Ketika pintu ini terbuka nanti, aku harus segera melaksanakan keputusan yang telah ku buat. Sebuah keputusan tersulit yang melewati pergolakan hati yang panjang. 

Aku memutar kunci itu perlahan. Bunyinya terasa berbeda dari yang biasa, mengema bersautan bagaikan jeritan hati yang terluka. Aku memegang gagang pintu yang terasa dingin membeku hingga ke ulu hati. Aku memutarnya, dan mendorong pintu perlahan. Engsel pintu yang berkarat berdecit semakin membuat ciut tekatku.  
 
Aku mendorongnya lebih dalam. Pintu terbuka semakin lebar mengantarkan ku pada sebuah akhir dan sebuah awal yang bersautan. Aroma lembab kamar yang seharian tak terpapar sinar matahari, menyeruak membangkitkan keraguanku. Seseorang kemudian muncul dari belakang pintu memberikan senyum terindahnya seperti biasa. Aku menatap mata birunya yang selalu bersinar setiap kali menatapku. 

Aku sempat ingin menyerah, dan membatalkan rencana yang sudah ku pikirkan matang – matang seminggu ini. Namun akal sehatku datang seakan memberiku dorongan. Hari ini semuanya akan aku akhiri untuk memulai hidup baru. Jika tidak aku akhiri sekarang, aku takut terdorong lebih dalam lagi. 

"Bagaimana hari ini?" Ucapnya memberi sambutan.  
"Nice, seperti biasa. Dapat dua nasabah." Balasku. 

Aku berjalan ke arah kasur tempat kami biasa menghabiskan malam dengan bercengkrama. Hanya malam waktu yang kami punya untuk saling bercerita, sampai tengah malam, hingga aku terlelap tidur. Dia akan terjaga semalaman menatapku dalam keheningan. Begitu selalu selama sebulan ini. 

Aku berbaring di tempat tidur. Dia datang mendekat, dan ikut berbaring disampingku. Kulit dinginnya bersentuhan dengan kulit ku, seolah menegaskan perbedaan diantara kami. Dia kemudian memutar tubuh hendak memelukku. Secepat mungkin aku cegah. "Aku mandi dulu ya." Ucapku.  

Aku sedang menikmati hangatnya air shower ketika wanita itu membuka pintu kamar mandi. Dia menatapku dengan sebuah senyum pasti. Jelas tergambar perasaan cinta dibalik garis – garis senyum itu. Aku membalasnya dengan sebuah senyum tipis, lalu melanjutkan mandiku. Kali ini aku tak akan memintanya untuk bergabung seperti yang biasa aku lakukan. Semua ini akan berakhir beberapa menit lagi. 

Aku meninggalkan kamar mandi. Dia menguntitku dari belakang. Setelah mengenakan pakaian, aku memintanya duduk di pinggir tempat tidur di sampingku. Aku menghembuskan nafas panjang sekali lagi untuk meyakinkan diri.  

"Aku besok pagi akan pindah kostan." Ucapku tanpa ragu. 
Senyum diwajahnya seketika lenyap tanpa bekas. 
"Kenapa mas?" Ucapnya parau. 
"Aku tidak bisa menyakiti pacarku. Hubungan kita sebulan ini tidak bisa dilanjutkan."  
"Dia tidak perlu tau mas. Kita akan tetap seperti ini." Dia mendekat padaku, memohon.  
Aku menggeleng. Keputusanku sudah bulat. Aku ingin mengakhiri kesalahan ini.  
"Kamu akan menemukan yang lain yang lebih pantas untukmu." Ucapku memilah – milah kata. 

Aku mengambil koper besar yang terletak di bawah tempat tidur, kemudian memasukan pakaianku ke dalamnya. Malam itu aku tidur sendiri di tempat tidur, seperti yang seharusnya. Dia duduk melipat kaki menyandarkan tubuhnya ke lemari pakaian. Kepalanya di tahan ke dua lutut sambil menatap nanar ke koper besar ku di tengah ruangan. 
*** 

Pagi itu aku terbangun dengan keyakinan penuh untuk memulai hari baru. Aku memperhatikan kesekeliling kamar. Dia tak ada di kamar, atau setidaknya aku tak melihatnya. Tak ada di tempat terakhir aku melihatnya sebelum tidur, dan tak ada juga di dalam kamar mandi. Setidaknya dia tak membuat perpisahan kami ini berjalan sulit. Aku bergegas mandi sebelum pikiranku berubah kembali. 

Selesai mandi, diapun tak ada di kamar. Aku yakin dia masih ada disini, sedang bersembunyi entah dimana. Aku dapat merasakan aromanya. Setelah berpakaian, dan memastikan bahwa tak ada barang yang tertinggal, aku segera bergerak meninggalkan kamar.  

Langkahku terhenti ketika aku melihat kunci kamarku yang patah tergeletak di lantai di balik pintu. Aku memutar gagang pintu, dan tentu saja pintu itu masih terkunci.  

Aku menarik nafas panjang menenangkan diri. Aku tak akan marah. Aku paham betapa terlukanya dia saat ini.  

Aku membuka jendela kamar yang terletak di samping pintu. Aku meminta tolong seorang penghuni kamar lain yang kebetulan lewat untuk memanggil penjaga indekos untuk membawakan kunci cadangan.  

Sembari menunggu, aku duduk di pinggir tempat tidur. Dia tak muncul juga selama itu.  
"Maafkan aku." Ucapku sekali lagi berharap dia mendengar. 
Sepuluh menit kemudian penjaga indekos datang membawa kunci cadangan.  
"Sudah mau keluar sekarang mas?" Tanyanya. Aku mengangguk pasti. 
"Jangan pergi mas." Ucap suara yang ku kenal dari belakang. 

Aku menoleh padanya. Dia berdiri tepat di tempat pertama dia menampakkan diri padaku. Wanita muda keturunan belanda yang sudah meninggal dua abad yang lalu itu menjerit memohonku untuk tak pergi. Aku tersenyum kepadanya, dan kemudian berpaling. "Semoga kau menemukan penghuni baru yang siap menjalani kisah cinta dua alam ini." Ucapku dalam hati. 

"Kenapa mas? Gak ada yang tertinggalkan kan mas?" Tanya penjaga indekos 
Aku menggeleng. "Tidak pak." 

Aku menarik koperku keluar kamar. Penjaga indekos kemudian mengunci kamar itu seakan menutup rapat lembaran kisahku dengan makhluk halus itu. Aku mendengar lengkingan jeritannya dari luar. Semakin aku menjauh, suara jeritan itu bukannya menghilang, malah semakin berdengung ditelingaku. Tiba – tiba ada rasa nyeri di jantungku seiring air mata jatuh dengan alasan yang aku tak mengerti. Langkah kakiku memberat, namun terus aku paksakan berjalan. Aku tak menoleh lagi ke belakang seiring menjauh dari rumah indekos bergaya kolonial itu. 
*** 

1 komentar:

Patricia Howell mengatakan...


Hi there would you mind stating which blog platform you're using? I'm planning to start my own blog in the near future but I'm having a difficult time making a decision between BlogEngine/Wordpress/B2evolution and Drupal. The reason I ask is because your design seems different then most blogs and I'm looking for something unique. P.S Sorry for getting off-topic but I had to ask! gmail sign in

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...