Pages

Minggu, 05 Juni 2016

Cerpen "Janji Borobudur"

Pelarian mendadakku dari Ibu kota dimulai di suatu sore di pinggir Jalan Maliobo. Dari sudut sebuah angkringan, aku memperhatikan manusia yang berlalu lalang. Suara klason sesekali terdengar bersuatan dari mobil – mobil yang meminta jalan. Adakah satu saja di antara mereka yang senasib sepertiku?  

Mas pelayan angkringan datang membawa segelas kopi joss, lengkap dengan beberapa tusuk sate khas angkringan. Suara desir arang hitam panas yang tercebur ke dalam air kopi hitam pekat masih terdengar sesekali di antara gelak tawa pengunjung. Aroma kopi itu sukses menggodaku untuk segera menyeruputnya. Kopi panas meluncur melewati tenggorokanku. Seketika masalah yang aku bawa jauh – jauh dari Jakarta seolah gugur berjatuhan di bawa pekatnya kafein. Yogya memang panas, bahkan di malam hari, namun kopi tetaplah teman setia. 
Hari ini seolah semua kejadian berjalan begitu cepat. Paginya dengan semangat empat lima, aku menjemput kekasih baruku di indekosnya di daerah Grogol. Wanita itu bernama Putri, dia memikat hatiku tepat pada pandangan pertama. Aku sukses mendapatkan hatinya pada hari ketiga perkenalan kami. Walau belum mengenalnya terlalu dalam, aku merasa yakin dialah yang selama ini aku cari. 

Dengan sepeda motorku, aku melaju memasuki komplek indekostnya. Dari kejauhan beberapa puluh meter dari gerbang indekost, aku melihat sebuah motor yang aku kenal bergerak menjauh dari pintu indekost Putri. Akupun tentu saja mengenal orang yang mengendari motor itu. Sahabatku sendiri, Bagus. Putri yang masih berpakaian piama melambaikan tangan seiring motor Bagus menghilang ke arah jalan besar.  

Amarahku setika memuncak. Gambaran – gambaran menjijikan tentang apa saja yang mereka lakukan semalaman memasuki gerbang pikiranku. Aku mempercepat laju motorku, dan berhenti tepat di depan Putri. Dia menyungingkan senyum manisnya seolah tidak terjadi apa – apa. 

"Bentar ya Ndry, aku mandi dulu. Masuk aja."  
Aku tak merespon, hanya menatapnya lekat – lekat. Wanita seperti apa yang aku pacari ini, pikirku. 
"Kenapa? Aku berantakkan banget ya?" Ucapnya terkekeh.  
"Ngapain Bagus disini?" Bentakku. 
 
Putri tampak kaget, seolah tak menyangka kalau aku akan memergoki askinya. Dia tak menjawab, hanya menunduk ke arah roda motorku yang mengkilat. 

"Ngapain Bagus disini?" Aku mengeja setiap suku kata agar dia mengerti apa yang aku tanyakan. 

Aku menahan emosiku sebisa mungkin. Tentu saja tak ada yang bisa aku lakukan untuk menumpahkan kekesalan ku pada wanita ini. Aku hanya perlu melupakannya, dan menghapusnya sebersih mungkin dari pikiranku.  

Namun emosi ini tetaplah butuh penyaluran. Aku bergerak dengan kecepatan penuh menuju kantor Bagus di daerah Setiabudi. "Dia yang memintaku datang tadi malam Ndry." Jawab Bagus memelas. "Dia..." Belum sempat Bagus menyudahi sanggahannya, aku membungkamnya dengan sebuah bogem mentah tepat di wajah. Dia tersungkur. Aku kemudian menduduki dadanya, dan menghajarnya lagi berkali – kali.  

Aku menarik kerah kemejanya yang sudah berlumuran darah, dan mengakhiri persahabatan kami dengan sebuah tendangan salto tepat di dada. Dia terlempar tepat ke meja resepsionis. Aku masih ingin melanjutkan aksiku, namun beberapa satpam kantor menghentikan langkahku. Aku memberontak, dan terlepas, kemudian meninggalkan gedung kantor Bagus dengan emosi yang belum tuntas. 

Perjalanan dari kantor bagus dipenuhi pikiran yang kacau balau. Tentu saja aku tak mungkin ke kantor dengan pikiran dan penampilan seperti ini. Baju kemeja ku berlumuran darah Bagus. Aku memutuskan tak masuk hari ini, dan memutar arah ke indekostku di daerah Tebet.  

Setelah menenangkan diri di kamar selama sejampun, pikiranku masih berantakan. Tanpa sepenuhnya aku sadari, jempolku sudah menekan layar ponsel, dan sebuah tiket Jakarta – Yogyakarta meluncur ke emailku. Aku mengemas beberapa stel pakaian, dan berakhir sore ini di Jalan Malioboro.  
*** 
Puluhan manusia sudah keluar masuk angkringan, aku masih duduk disana hingga malam bergerak datang. Yang aku lakukan hanya berpikir, tanpa tau apa yang aku pikirkan. Mengamati, tanpa tau apa yang aku amati.  

Lamunanku terhenti ketika suara seorang wanita mengagetkanku. Aku mengarahkan pandangan kearahnya. Dia membalas dengan sebaris senyuman yang membentuk lesung pipit simestris di kedua sisi pipi. Wajah ovalnya berpadu dengan rambut lurus sebahu  membuatku terperangah beberapa detik.
  
"Ini kosong?" Ucapnya lagi. 
Aku melihat kesekeliling angkringan bergaya lesehan itu. Semua sudah dipadati pengunjung lain, hanya satu space kecil di dekatku yang tersisa. 
Aku mengangguk. "Iya, silakan." 

Dia menaruh tas ransel besarnya di antara kami. Kami kemudian sibuk dengan diri masing – masing. Dia dengan kameranya tampak mengamati foto yang dia ambil. Aku hanya menerawang mengamati jalanan, sambil sesekali curi pandang ke arahnya. 

Mas pelayan angkringan datang membawa pesanannya. Tak jauh berbeda dengan apa yang aku pesan. Dia meletakan kamera di sampingnya, dan mulai menyeruput kopi susu yang dia pesan. 

Aku ingin memulai pembicaraan. Tak mungkin aku mengabaikannnya. Kami duduk sangat dekat. Hanya berjarak satu embusan angin. 

 "Sendirian?" Ucapku memulai basa basi. 
Dia mengangkat kepalanya dan berbicara menatap sorot mataku. "Iya." 
"Asli Yogya atau?" Tanyaku. Tentu saja tidak, dia membawa tas ransel besar. 
"Aku dari Jakarta. Sudah dua hari disini. Traveler." Senyumnya tersungging lagi. 
Apakah aku akan terperangkap jenis perasaan yang sama lagi kali ini?  
"Aku juga dari Jakarta. Baru nyampe sore ini."  
Dia mengangguk kemudian menarik sepotong kikil dari tusukannya. Gerak geriknya, sekecil apapun itu, tampak begitu anggun bagiku. Detak jantungku mendadak tak karuan. 
"Emang solo traveler, atau kebetulan misah dari teman aja?" Tanyaku lagi. 
"hmm.." Dia mengunyah sepotong bakso dengan lahap. "Sama teman sih ke Yogyanya, kebetulan mau ke sini sendirian aja." 
Tentu saja, tak mungkin wanita berparas sendu itu berjalan sendiran. 
"Kalau kamu?" Tanyanya. 
"Oh, sendirian sih. Memang dari Jakarta sendirian. Solo Traveling." Jawabku.  
"Yogya Traveling. Kalau Solo Traveling harusnya ke Solo" Candanya. 
"Benar juga." Aku terkekeh. 
"Sudah kemana saja dua hari ini?" Tanyaku lagi.  
Dia tampak berpikir sejenak. "Ke Prambanan, Kraton, Taman Sari, Pantai Parangtritis. Kemaren ke Kalibiru." 
"Kamu pasti baru kesini aja ya?" Tanyanya. 
Aku mengangguk. "Besok rencana mau ke Borobudur dulu."  
"Oh, sama dong. Aku besok ke Borobudur juga." Ucapnya datar. 
"Pasti sama teman kamu ya?"  
"Belum tau sih. Mereka pada nggak mau ke Borobudur, panas katanya. Mereka juga sudah pernah kesana."  

Ini memang satu satunya kesempatan untukku untuk mengenalnya lebih dalam. Aku telah jatuh hati padanya tepat pada senyuman pertama. Satu kesalahan lagi yang dilakukan hatiku saat lukanya belum mengering karena kejadian tadi pagi.  

"Kalau begitu bareng aku saja?" Hatiku telah mengambil alih seluruh tubuhku sehingga aku tak berdaya lagi untuk menahan. 
Dia mengangguk. "Boleh" ucapnya. 
Pertemuan kamipun berakhir dengan sebuah janji ketemuan di Terminal Giwangan besok pagi pukul delapan. Aku mengantarnya ke alte Trans Yogya. Dia menginap di rumah kerabatnya dekat Taman Sari.  
"Oh iya, aku Andry." Ucapku sebelum berpisah. 
"Aku Amel."  
*** 
Pagi buta aku terbangun. Tiba – tiba gundah datang menyergap pikiran. Kami belum bertukar nomor ponsel. Bagaimana aku bisa melupakan hal sepenting itu? Satu – satunya hal yang aku ketahui darinya adalah namanya, Amel. Ada jutaan nama Amel di dunia. Bisa jadi juga itu bukan nama aslinya.  

Aku takut terluka karena banyak berharap. Aku takut disakiti lagi oleh cinta yang hadir terlalu cepat. Wanita itu bisa saja tak datang, pikirku. Dia bisa saja menghilang dan menyisakan kesakitan yang lebih dalam. 

Pukul tujuh pagi, aku meyakinkan diri untuk bergerak dari Malioboro menuju Terminal Giwangan. Aku mencoba menurunkan level ekspektasiku. Jika dia tak datang, anggap saja ini angin lalu. Tak akan ku ingat, tak akan ada sakit lagi. Aku harus melanjutkan liburanku. 

Setengah jam kemudian, Trans Yogya memasuki terminal Giwangan. Dengan perasaan was – was aku bergerak menuju bus jurusan Candi Borobudur. Mataku segera bergeleria mencari sosok Amel. Dia tak ada, wanita itu tentu saja hanya ingin mempermainkanku. 

Namun tak beberapa lama kemudian, dari kejauhan aku melihat Amel berjalan mendekat padaku. Dia tersenyum, semanis senyum kemaren malam yang sukses mencuri perhatiku pada kesempatan pertama. Aku membalas senyumnya dengan perasaan lega tak terkira. 

Bus meninggalkan Terminal Giwangan menuju Candi Borobudur. Sepanjang perjalanan kami ngonbrol ngalor ngidul tentang diri masing – masing. Amel ternyata bekerja di sebuah perusahaan Farmasi di Jakarta.  

Bus akhirnya memasuki terminal kecil yang berjarak tak terlalu jauh dari Kawasan Borobudur. Kami berjalan beriringan di bawah terik mentari menuju gerbang utama. Kami menyewa sebuah payung untuk melindungi diri dari terik yang menyengat itu.  

"Oh iya Ndry, aku mau ngaku." Ucapnya.  
Kami sedang berjalan menuju Bangunan Candi yang berjarak cukup jauh dari gerbang utama.  
"Kemaren aku bohong. Aku ke Yogyakarta sendirian. Solo Traveler juga." Akunya. 
Aku yang sedang memegangi payung menoleh ke arah wanita itu. Dia mengerutkan dahi. Aku tersenyum, dia mengangguk. Sejujurnya aku senang mendengar pengakuan itu.   
"Oh, memang suka solo traveling atau gimana?" Tanyaku 
"Sebenarnya tidak, aku biasa traveling bareng sahabatku. Namun kebetelun liburan ke Yogya ini mendadak, jadi dia tidak bisa." 
Dari kejauhan, puncak Borobudur yang megah tampak memanggil – manggil kami untuk segera mendekat.  
"Aku berangkat ke Yogyakarta juga sangat mendadak. Mendadak sekali." Ucapku.  

Kami kemudian menaiki tangga menuju Candi. Cukup tinggi, namun terbayar oleh kemegahan dan keagungan Candi Borobudur yang membentang di depan kami. 

"Indah sekali ya" Ucap Amel. Matanya melihat nanar tak berkedip. 
"Iya." Balasku. 

Kami kemudian mulai menaiki tingkat – tingkat demi tingkat candi Borobudur. Mengamati setiap relief – relief unik yang terpahat di dinding Candi. Amel sesekali membidik foto dengan kamera yang di sandangnya. 
"Apa alasan kamu solo traveling?" Tanyanya. Dia sedang mengelus sebuah stupa. 
"Melarikan diri dari masalah." Ucapku terkekeh.  

Pikiranku bergeleria lagi tentang kejadian sepanjang hari kemaren. Jika aku coba mengingat lagi kejadian pagi itu, rasa sakitnya tak sedalam kemaren. Perlahan luka itu mengering. Aku telah menumpahkan emosi ku pada Bagus. Aku juga sudah menghapus nama Putri dari memoriku. Kehadiran Amel berperan besar dari proses ini.  

"Masalah apa? Boleh aku tau?" Tanya Amel. Dia yang tadi asyik memperhatikan hasil bidikan kameranya, kemudian menatapku memberi simpatik. 
"Hmm.." Aku tak nyaman dia bertanya tentang memori yang ku hapus itu. 
"Biasalah masalah hati." Ucapku terkekeh. Aku berlagak bagai ABG yang sedang patah hati. 
Dia menatapku hening dengan sebaris senyum tipis yang memberi arti. Tak lama senyum itu menghilang. Dia menarik nafas panjang. 
"Kenapa?" Tanyaku. 
"Sama. Aku kesini juga perkara hati." Ucapnya. Wajah itu tampak murung seperti sebuah beban besar hinggap dipikirannya. 
"Satu minggu yang lalu, aku berkenalan dengan seorang pria." Lanjutnya. "Aku jatuh cinta padanya tepat pada pertemuan pertama. Dia seperti juga begitu. Kami kemudian memutuskan untuk berpacaran dua hari kemudian." 

Dia menyeka air mata yang menetes perlahan dari pinggir matanya yang sayu.   
"Namun keesokatan harinya, aku melihatnya keluar dari rumah sakit bersalin dengan seorang wanita dan seorang bayi di gendongannya. Ternyata dia sudah punya istri yang baru saja melahirkan anak pertama mereka." Lanjut Amel parau. 

Aku menepuk – nepuk dengan lembut punggungnya mencoba menenengkan. Tentu saja apa yang kami alami tak jauh beda. Sama – sama dikhianati oleh cinta pada pandangan pertama. 

"Maaf ya, aku jadi cerita." Ucapnya. Dia menoleh kepadaku dan mencoba tersenyum dengan mata masih berair itu. Aroma sedih di wajah itu masih jelas terpancar. 
"nggak apa – apa Mel, kisah kita tak jauh beda kok." Ucapku sambil membalas senyumnya. 

Kemudian aku menceritakan padanya tentang kisah pagi kemaren, hingga aku memberikan hadiah tendangan salto di dada Bagus. 
Kami lanjut bergerak hingga sampai di puncak tertinggi Borobudur. Tepat di depan stupa utama, yang paling besar.  

Sehabis ini berarti kami akan mengakhiri perjalanan di Borobudur. Aku was – was tentang kelanjutan pertemuan ini. Apakah kami akan berakhir dengan say goodbye sebagai dua orang asing yang bertemu di jalan? Atau ini akan berlanjut ke momen – momen lain di Yogyakarta bahkan Jakarta? 

Aku berdiri di sebuah sudut, lalu memandang jauh ke depan menatap amparan gunung yang menghijau. Sesekali aku menatap Amel dari jauh yang tengah sibuk dengan kameranya. Sebelum mengakhiri perjalanan kami disini, aku harus memutuskan sesuatu tentang kami. Apakah aku benar – benar sudah jatuh hati pada wanita ini? Atau ini hanya cinta semu sesaat? 

Aku memutar kembali pikiranku ke pertemuan pertama kami kemarin malam. Awalnya aku memang terpikat pada parasnya, terutama senyum sempurna yang terbentuk di bibir tipis itu. Kemudian perkenalan kami berlanjut ke obrolan yang sesungguhnya membuatku amat nyaman. Dia seolah datang dikirim tuhan untuk menyembuhkan luka hatiku. Obat yang sangat mujarab. Aku sudah sepenuhnya melupakan Putri. 

Tapi itu bukan berarti aku kembali percaya pada cinta pada pandangan pertama. Kami memang sudah menceritakan panjang lebar tentang pribadi masing – masing. Apakah itu cukup membuatku mengenalnya? Perkenal kami bahkan belum genap dua puluh empat jam.  

Aku mengarahkan lagi pandangan padanya. Amel memanggilku mendekat. Senyum itu amat manis tuhan, pikirku. Aku bergerak mendekatinya. Setiap langkah yang aku buat, bertambah keyakinan ku bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Aku melangkah lagi, semakin lama, semakin besar. Ini bukan sekedar cinta semu. Dia sukses memasuki tempat kosong di hatiku.  

Amel memintaku berdiri di salah satu sudut stupa utama. Dia mengambil beberapa fotoku. Setelah dirasa cukup, dia mendekat dan memperlihatkan hasil bidikannya. 
"Baguskan?" Ucapnya riang. 
Aku mengangguk.  
"Boleh aku bicara sebentar?" Aku menatap matanya lekat – lekat. 
Amel mengangguk. 
"Apakah kamu masih percaya cinta pada pandangan pertama?" Tanyaku. 
Amel mengangkat bahunya. "Aku tak tau Ndry. 
"Apakah cinta seperti itu benar – benar ada? Bagaimana seseorang bisa begitu percaya bahwa dia telah jatuh cinta, padahal belum sepenuhnya mengenal orang yang dia cintai?" Tanya Amel. 
"Aku merasakan itu Mel. Aku merasakan itu padamu." Ucapku.  
Dia tak merespon.  
"Apakah kamu juga merasakannya Mel?" Tanyaku. 
"Aku takut Ndry. Bukan takut padamu. Aku takut kalau kita salah mengartikan perasaan ini. Kita sama – sama sedang terluka. Apakah cinta ini benar – benar nyata?" 
"Aku yakin Mel. Kita dipertemukan disini untuk mengobati luka satu sama lain." Ucapku. 
Untuk beberapa detik wajahnya membatu seolah sedang memikirkan sesuatu. 
"Maukah kamu menunggu?" Tanya Amel. 
"Menunggu gimana Mel?" 
"Ini terlalu singkat. Kita sama – sama butuh waktu untuk berpikir jernih." Ucapnya. "Satu tahun lagi, tepat tanggal dan jam ini, 11 Maret 2015 pukul 12.06, kita bertemu lagi di tempat ini." 
"Hanya dengan satu syarat." Lanjut Amel. "Kita sudah benar – benar yakin kalau cinta ini nyata."  
Amel benar, ini terlalu singkat.  
"Bagaimana jika salah satu dari kita tak datang?" Tanyaku. 
"Tak ada yang boleh sakit hati Ndry. Harusnya dia bersyukur karena tidak jadi berhubungan dengan orang yang salah."  
Aku mengangguk. "Deal. Tapi aku pasti akan datang" Janjiku padanya. 
Amel membalasnya dengan sebuah anggukan pasti. 
"Aku harus kembali ke Yogya sekarang. Flight ku jam lima sore." Ucapnya. 
"Jadi kita berpisah sekarang? Boleh aku minta no ponsel mu?" 
Amel menggeleng 
"Oke." Ucapku.  
"See you next year ya." Amel berjalan meninggalkan ku di tengah terik mentari yang tepat berada di tengah stupa utama. Aku melambaikan tangan padanya sampai dia menghilang di balik tangga. 
Tentu saja, aku akan hadir disini satu tahun lagi, apapun itu. 
*** 
Dua jam berlalu semenjak Amel meninggalkan ku dengan sebuah kesepakatan. Bertemu lagi di Candi Borobudur satu tahun yang akan datang. Betapa sulitnya itu, menjaga janji untuk seseorang yang juga belum tentu menjaga janjinya, Satu tahun bukan waktu yang singkat, apalagi untuk hal semembingungkan ini.
  
Pukul dua siang, aku meninggalkan Candi Borobudur. Dari kejauhan ku tatap lekat – lekat puncak bangunan warisan dunia itu. Apakah aku akan berada disana setahun lagi? Jikapun aku datang, bagaimana dengan Amel? Apakah dia hanya ingin mempermaikan ku saja dengan cara yang lebih pintar dari yang Putri lakukan? Memaksaku menunggu. 

Aku sampai kembali di Hostel saat matahari berangsur tenggelam di telan malam. Reseptionis hotel memanggilku saat hendak menaiki tangga menuju kamarku di lantai dua. 

"Pak Andry, ada tamu yang ingin bertemu dengan bapak." Dia menunjuk dua orang pria berbadan besar di ruang tengah. 
Dua pria itu segera berdiri dan menghampiri kami. 
"Dengan bapak Andry?" Ucapnya setelah memberi hormat. 
Aku mengangguk.  
"Kami dari polsek Yogyakarta." Ucap seseorang dari mereka.. Dia menunjukkan sebuah kartu identitas kepolisian. 
"Bapak harus ikut kami ke kantor atas kasus penganiayaan saudara Bagus di Jakarta." Lanjutnya. 
Dengan tangan terborgol, aku digiring menuju mobil kepolisian yang ternyata sedari tadi sudah terparkir tak jauh dari hostel. Malam itu aku menginap di ruang tahanan sementara, dan paginya sudah diterbangkan ke Jakarta sebagai tersangka.  
*** 
"Berapa lama aku akan dipenjara?" Tanyaku pada pengacara yang datang menjengukku sore ini. 
"Tergantung keputusan hakim, akan menjeratmu dengan pasal penganiayaan ringan atau berat." Jawabnya. 
" Kalau ringan berapa lama, kalau berat berapa lama?" 
"Ringan paling cuma beberapa bulan, kalau berat bisa maksimal delapan tahun."  

Jika aku ditahan bertahun – tahun, itu artinya aku tak akan bisa datang tahun depan menemui Amel. Jika dia tak datang, maka tak ada yang harus aku sesali. Bagaimana jika dia datang? Seumur hidup dia akan membenciku. Dia akan menganggapku lelaki lemah yang tak sanggup menunggu.  

"Menurutmu ini ringan atau berat?" 
"Sebenarnya masih masuk kategori ringan. Kau hanya memukulnya dengan tangan kosong beberapa kali, dan menendangnya sekali."  
"Tapi dia tak melawan." Lanjut pengacara."Itu bisa menjadi pemberat untukmu. Dampaknya juga lumayan berat, tulang raangnya patah, tulang punggungnya juga retak karena mengenai meja resepsionis." 
Aku melamun panjang mendengarkan penjelasan pengacara. Bukan nasibku yang akan berakhir dipenjara saja yang aku takutkan. Apapun caranya tahun depan aku akan datang untuk Amel 
"Sebenarnya ada cara untuk membebaskanmu dari hukuman." Pengacara membangunkanku dari lamunan. 
"Apa?"  
"Kamu memohon maaf pada Bagus dan keluarganya. Jika mereka mencabut laporan, you are free."  
Semalaman diruang tahanan aku memikirkan dalam – dalam ucapan pengacara. Memohon maaf pada seseorang yang sudah mengkhianatiku? Dia pantas mendapatkan itu. Aku tak akan menjadi pecundang yang mengemis maafnya.  

"Kami akan menemui keluarga Bagus. Kami akan meminta maaf padaya." Ucap mama keesokan harinya ketika datang menjengukku.  
Aku menggeleng. "Tidak ma, Dia layak mendapat pukulanku, dan aku tak akan meminta maaf untuk itu." 
"Kami tidak mau, masa depanmu berakhir disini Ndry." Ucap Mama berlinangan airmata. 

Egoku berkata bahwa aku akan menjadi pecundang jika memohon maaf padanya. Namun aku tak akan mungkin menolak permintaan orangtuaku. Selain itu inilah satu – satu cara agar aku bisa memenuhi janjiku pada Amel tahun depan. Dengan berat hati akupun terpaksa mengizinkan orang tuaku mengemis maaf kekeluarga Bagus. 

Dua hari kemudian, akupun dibebaskan dari tahanan. Keluarga Bagus sudah mencabut laporannya. Malamnya bersama Papa dan Mama aku digiring ke rumah Bagus untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Aku memeluk kedua orangtuanya. Mereka sudah aku anggap keluarga sendiri selama bertahun – tahun, Namun hal yang terjadi beberapa hari yang lalu membuat semuanya tak akan lagi sama. 
Aku tak melihat langsung ke Bagus saat meminta maaf. Hanya dengan sebuah salaman tanpa sedikitpun menoleh. Ini bahkan pertemuan terakhir kami. 
*** 
Satu tahun kemudian.... 
Langit Magelang membiru, Awan – awan menjauh serasa membiarkan cahaya matahari menyala sepenuhnya. Dengan sebuah tas selempang kecil, aku memasuki kawasan Candi Borobudur. Perasaan was – was datang seketika ketika puncak Borobudur muncul dari kejauhan. Apakah Amel memutuskan hal yang sama dengaku? Datang dengan keyakinan penuh bahwa yang kami rasakan adalah cinta. 

Aku terus berjalan menuju tangga ke pelataran Borobudur. Pikiranku terputar kembali ke naik turun perasaanku setahun ini. Suatu pagi aku terbangun dengan keyakinan penuh bahwa hatiku memang telah tercuri olehnya. Pagi lainnya aku meragu bahwa dia hanya ingin mempermainkan ku dengan membuat janji selama ini. Namun pada akhirnya hari ini aku sudah disini, Aku cuma perlu berjalan sedikit lagi hingga ke Stupa Utama dan menantikan dia muncul atau tidak datang sama sekali.  

Kakiku melangkah ke satu anak tangga terakhir ke puncak Borobudur. Tepat didepanku saling beradu pandang, Amel berdiri anggun menyambutku dengan senyum yang sama. Jantungku berdetak kencang. Kami saling mendekat satu sama lain. 

"Jadi kamu datang?" Katanya. 
Aku mengangguk.  
"Kamu juga." Ucapku.  
"Setahun waktu yang sangat lama ya." Lanjutku. 
"Iya Ndry, lima menit setelah kita berpisah aku bahkan menyesali ucapku waktu itu. Kenapa harus setahun, kenapa tidak sebulan atau dua bulan saja." 
"Yang penting hari ini kita bertemu kan?"  
Amel mengangguk.  
"Jadi kamu merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan." Tanyaku. 
"I'm 100% sure, Ndry." Ucapnya.

Ingin rasanya memeluknya ditengah kerumunan Manusia ini. Namun kami hanya saling tatap tanpa mengiraukan terik matahari yang memanggang. Kami seolah tengah melepaskan dahaga rindu yang berkecamuk sekian lama.  

"Kita mau kemana?" Tanyaku melepaskan keheningan. 
"Camera House yuk?" Ucapnya. "nggak jauh dari sini, naik becak saja 7 menitan." 
"Yuk" ucapku menggengam tangannya.  
Dia balas menjabatku erat.  
*** 

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...