Pages

Sabtu, 18 Juni 2016

Cerpen "A Story in The Traffic Jam"

Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata
 
Pukul delapan malam saat Mulyono masih berkutat dengan kemacetan Jakarta. Sepeda motor keluaran tahun 2009 yang dia kendarai melaju tersendat – sendat diantara ratusan mobil dan motor lain. Dengan kecepatan maksimal 20 KM/Jam, rumahnya di Lebak Bulus terasa masih jauh dari Jalan raya Pondok Indah itu. Rasanya dia akan lebih cepat sampai di rumah dengan berlari dari pada mengendari motor.  

Dia memaksa melewati celah – celah antara mobil untuk bisa mempercepat laju motornya, namun tak banyak yang bisa dia lakukan. Mobil dan motor serasa berpegangan satu sama lain tak memberinya celah untuk menyalip.  
Sembari terus memperhatikan jalan, Mulyono sesekali melihat ke arah jam tangannya. Jarum jam terus berputar cepat, dia semakin terlambat. Sesekali dia merasakan getaran ponselnya di saku celana sebelah kanan. Keluarganya sudah menunggu lama di rumah.  

Hari ini anak pertamanya berulang tahun. Dia dan keluarganya merayakan dengan sebuah makan malam sederhana di rumah, dan dia sudah terlambat hampir satu jam. Mulyono menekan klason motornya meminta kendaraan di depan memberinya celah untuk menyalip. Tentu saja tak ada yang mempedulikannya. 

Setelah melewati Pondok Indah Mall, kemacetan mulai terurai. Mobil – mobil mulai sedikit berjauhan, dan memberinya celah kecil, cukup untuk motornya menyalip. Mulyono melewati celah sempit antara trotoar dengan sebuah mobil Pajero Sport di sebelah kanannya. Dia bisa mempercepat gerak motornya hingga 60 KM/ jam, sambil menghindari senggolan dengan spion mobil. 

Mulyono bisa melewati lima mobil ketika laju motornya terhenti oleh sebuah motor yang berhenti di depannya. Motor berplat luar kota itu tampak sedang ngadat. Pengendaranya mengengkol motor itu namun tak berhasil. Mulyono yang tak sabaran kemudian membunyi klason motornya. Dia terus menekan tombol klason. Bunyi klason panjang membahana seiring pengendara motor yang mempercepat engkolannya. Mesin motor itu akhirnya hidup. Pengendara kemudian melajukan kembali sepeda motornya.  

Mulyono memepet dari belakang berjarak beberapa centimeter saja. Dia kembali menengok ke arah jam tangan yang menunjukkan pukul delapan tiga puluh malam, semakin terlambat dari janjinya kepada si sulung tadi sore. Kalau saja dia berangkat lebih awal, mungkin saat ini dia sudah berkumpul dengan keluarga di meja makan mereka yang sederhana. 

Mulyono kemudian kembali membunyikan klason meminta pengendara di depan mempercepat gerak motor. Di sebuah perempatan, pengendara motor bebek itu berbelok sedikit ke arah kiri memberikan space untuknya mendahului. Dia meluncur dengan kecepatan 60 KM/Jam meninggalkan pengendara motor tersebut.  

Mulyono terus melaju, menyalip kendaraan demi kendaraan di depannya, berbelok ke kiri dan ke kanan mencari setiap celah kecil yang bisa dilalui motor. Setelah melewati sebuah mobil Toyota Avanza, jalanan di depannya mulai lengang, jarak antar kendaraan semakin melebar. Dia bisa memacu motornya dengan mulus di sebelah kiri di samping trotoar. 

Namun laju motornya berhenti mendadak. Rantai motor yang memang sudah tua itu putus. Tak lama belasan motor di belakangnya mulai memborbadirnya dengan serangan bunyi klason. Mulyono menoleh ke belakang, motor berplat luar kota yang tadi menghalangi jalannnya, tepat berada di belakang motornya. Pemuda itu tampak menenangkan pengendara lain. 

Pengendara motor itu memarkir motornya di tepi, mendekat ke arah Mulyono. Dia kemudian membantu Mulyono mendorong motornya ke pinggir. Pria yang sepertinya seumuran anak sulungnya itu kemudian melambaikan tanganya ke arah motor – motor yang terhenti di belakang Mulyono. Motor – motor itu kemudian berjalan meninggalkan mereka. Arus lalu lintas kembali lancar. 

"Bapak tau bengkel motor dekat sini?" Tanya pemuda itu. 
Mulyono mengangguk. "Ada di depan sana, kira – kira 100 meter." 
"Saya bantu dorong dengan kaki saya dari belakang. Bapak naik saja ke motor."  
Mulyono tak langsung menjawab. Dia masih ingat betul bagaimana dia mengklasoni pemuda ini karena motornya ngadat beberapa puluh menit yang lalu. Dia merasa malu menerima bantuan tersebut. 
"Tidak usah saya dorong saja." Ucapnya. 
"Tidak apa – apa pak. Saya juga ke arah sana."  

Mulyono tidak punya pilihan lain. Dengan muka serasa dicoreng, dia menerima bantuan pemuda itu. Setelah mengabari keluarganya tentang apa yang terjadi, merekapun bergerak ke bengkel sepeda motor. 

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...