Pages

Jumat, 20 Mei 2016

Film My Stupid Boss yang mengocok perut

 Sumber foto: Klik disini
Suasana studio siang itu dipenuhi suara tawa puas dari para penonton yang memenuhi hampir semua kursi. Acting Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari dalam film terbaru mereka, My Stupid Boss, itu sukses membuat penonton terpingkal - pingkal. Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama ini, sudah tayang perdana mulai 19 Mei 2016 di Bioskop - bioskop di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Reza Rahardian berperan sebagai Bossman di film ini. Bossman merupakan orang Indonesia pemilik sebuah perusahaan ekspor dan impor di Malaysia. Dia memiliki watak yang menyebalkan, terutama sekali terhadap karyawan - karyawannya. Tingkah - tingkahnya terhadap karyawannya inilah yang sukses mengundang tawa. Dia kerap menggunakan kata - kata aneh yang tentu saja tak dimengerti oleh karyawan - karyawannya orang Malaysia tersebut.

Bukan saja dari segi tingkah dan pemilihan bahasa, penampilan Reha Rahardian dalam film ini juga akan sukses mengocok perut anda. Lihat saja poster film yang sudah wara - wiri di internet sejak beberapa minggu yang lalu itu, berbeda sekali dengan karakter - karakter yang pernah ia perankan sebelumnya. Rambut yang sudah mulai rontok, kumis lele, perut buncit, dengan gaya berpakaian ajaib tak pelak mengundang tawa.

Dari beberapa karyawannya cuma satu orang Indonesia. Dialah Diana yang diperankan dengan apik juga oleh Bunga Citra Lestari. Diana yang merupakan istri dari sahabat Bossman sendiri juga tak lolos dari tingkah menyebalkan Bossman. Dia yang baru bergabung dengan perusahaan tersebut, bahkan sudah diuji kesabarannya oleh tingkah Bossman di hari pertama bekerja.

Jika anda mengharapkan film yang kuat dari segi cerita, maka film ini bukan makanan anda. Perjalanan cerita film ini biasa saja. Plot yang dibentuk juga tak mengundang penasaran berlebih. Fokus film ini tampaknya memang pada dialog, dan adegan - adegan komedinya. 

Film yang disutradarai oleh Upi ini juga terlalu banyak menggunakan Bahasa Melayu yang kadang sukar dimengerti oleh penonton Indonesia. Ya, terang saja film yang diangkat dari kisah nyata ini memang settingnya di ibu kota Malaysia, Kuala lumpur. Penggunaaan Bahasa Melayu mungkin bagi sebahagian orang juga menambah segi komedinya.

Jika anda mencari film yang siap mengocok perut, film ini layak anda tonton. Namun jika yang anda harapkan sebuah cerita yang kuat, anda hanya akan keluar studio dengan perut teraduk - aduk namun bukan dengan hati puas. Kembali lagi, semua ini masalah selera.

Rating: 7/10

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...