Pages

Jumat, 13 Mei 2016

Cerpen "Awan pembawa pesan"

  Sumber foto: Klik disini

"Boleh aku kesana?" Tanyamu di ujung telpon. Aku tak buru – buru menjawab, mengangkat sedikit telpon genggamku. Pukul 01.35 tengah malam.  
"Jam segini? Ada apa lagi?" Tanyaku sambil menutup buku pengantar pendidikan yang tengahku baca. 
"Boleh aku kesana?" Tanyamu lagi seolah tak mendengar pertanyaanku.  

Aku sudah bisa menebak, pasti ini tentang foto gumpalan awan yang kau potret petang tadi. Tentang ambisi gilamu mengumpulkan foto awan setiap hari. Ntah itu pagi, siang, ataupun petang.  

"Aku deh yang ke tempatmu." Ucapku mengalah. Tak sering memang, gilamu kambuh jam segini. Namun ketika itu terjadi, aku yang harus mengalah. Meringkut kedinginan menyusuri dua blok komplek perumahan kita, dan sampai di bangku taman di depan rumahmu. 

Dua belas menit lebih beberapa detik aku sampai di tempat yang kau mau. Di sambut sebaris senyum tipis rasa tidak enakan karena menyiksaku jam segini. Tapi tentu saja kau tak pernah mengatakannya, atau memang rasa tak enakan itu tak ada, hanya aku yang beralusinasi. 

Di dekapanmu telah ada sebuah tablet berwarna putih yang selalu menjadi orang ketiga di persahabatan kita. Dengan sahabat fanamu itu, kau akan mencerocos kurang lebih sejam tentang apa yang kau amati dari foto gumpalan awan yang kau tangkap. Aku akan tersenyum, mengangguk, tersenyum lagi, berkata wooow untuk mengklamufasekan rasa kantukku, tersenyum lagi, sampai gilamu berakhir. 

Kau membuka kunci tabletmu, dan sudah terpampang disana tanpa perlu menekan menu apa – apa lagi, sebuah foto awan sore yang diselubungi warna oranye matahari yang akan tenggelam. "Indah sekali Rin, kau foto dari mana?" Ucapku, dan tanyaku. Itu sudah ucapan dan pertanyaan baku, aku selalu mengawalinya begitu. 

"Sunsetnya indah sekali Rin, aku belum pernah melihat yang seindah ini" Lanjutku. Sunset itu benar – benar indah, aku tidak bohong. Sempurna melukis langit sore yang amat cerah saat tiga perempat matahari sudah bersembunyi. 
"Bukan sunset nya yang indah Gung, tapi awannya. Awan di samping matahari itu, coba kamu perhatikan baik - baik, sangat sempurna bentuknya. Lebar dan panjang yang sempurna. Gelembung – gelembung dengan struktur yang presisi satu sama lain." Ucapmu cepat. 

Tentu saja ini semua hanya tentang awan, bukan yang lain. Bukan langit sore yang cerah, bukan sunset yang sempurna, atau pantai indah tempatmu memotrek foto itu. Kau hanya tertarik dengan awan, bukan yang lain. 

"Iya Rin, awannya juga indah." Ucapku meralat. 
"Sangat indah Gung, sangat." Ucapmu lagi sambil terus menatap layar tabletmu itu. 
"Iya, sangat indah Rin." Aku harus membetulkannya lagi. 

Kemudian kamu mulai membanding – bandingkannya dengan foto awan – awan yang sudah kamu kumpulkan sejak tiga tahun yang lalu. Bagiku itu hanyalah awan yang tak ada bedanya, namun bagimu satu gundukan saja berarti banyak.  

"Cuba kamu lihat Gung, awan yang ini beda sekalikan?" Ucapmu memintaku memegang tablet berisikan ribuan foto – foto awan itu.  

Aku mencoba melihatnya dalam – dalam, namun bagiku itu hanyalah awan biasa. Tak ada objek yang ia tiru, bukan juga lukisan nama tuhan yang tergambar. Awan biasa namun sukses membuatmu bicara tanpa henti, hingga kau tak menyadari kalau sudah menahanku lebih dari dua jam disini. Ini yang terlama yang pernah ku ingat. 

Aku ingin pamit, sungguh ingin pamit sejak sepuluh menit pertama kita bicara. Mata ini terlalu mengantuk, dan ujian mata kuliah pengantar pendidikan pagi ini tak mungkin juga dilewatkan. Aku ingin menghentikankan mu dari tadi, namun tak ada jeda bagiku.  

"Wooow.." Ucapku sambil menguap. Sebuah kamuflase untuk menjaga perasaanmu. Selalu begitu. 
Kau terus menyerocos lagi. Duniamu yang itu masih sangat luas, dan harus kau jabarkan tengah malam ini juga. Namun aku harus segera mengakirinya, aku benar – benar tak tahan lagi. Ini sudah terlalu lama, dan sudah tak lagi masuk akal. Kenapa kau makin membebani persahabatan kita? 

"Rin, aku harus pulang sekarang." Ucapku setelah meyakin – yakinkan diri. 
"Iya, sedikit lagi." Ucapmu cepat. Namun kau kembali bicara. "Awan yang ini memang tak se cantik yang ini kan? Namun dia unik Gung, itulah nilai lebihnya." 
"Aku harus pulang sekarang Rin." Ucapku lagi baik – baik. 
"Sedikit lagi Gung, ada beberapa lagi, nanggung." Ucapmu menghiba.  
Aku hampir luluh, namun tidak kali ini. Kesabaranku sudah mencapai batasnya. 
"Rin, aku harus pulang sekarang. Aku sangat mengantuk, dan besok pagi ada ujian. Kamu tolong mengerti, jangan hanya mementingkan dirimu sendiri."   
"Ambisimu pada awan ini terlalu gila Rin." Lanjutku setelah jeda beberapa detik. 
Aku melihat perubahan raut wajahmu. "Apa maksudmu terlalu gila, Gung?" Tanyamu meninggi. 

Kita sudah sama – sama tersulut emosi. Aku tau betul tak ada yang bisa menghina ambisimu tentang awan. Bagimu itu pelecehan 

"Kau terlalu terobsesi tentang dunia awanmu itu Rin, sehingga mengabaikan semuanya. Kembalilah ke kehidupan nyatamu."  

Aku berjalan menjauh meninggalmu. Meninggalmu yang sedang emosi dan merasa terhina. 
Itulah terakhir kalinya kita bertemu. Bahkan dua bulan kemudian ketika aku harus meninggalkan Jakarta untuk mengikuti pertukaran pelajar ke University of London di Inggris, aku tak mengabarimu.  
*** 

Angin sepoi – sepoi berkejar – kerjaran menggoyangkan daun, melewati rumput, dan menukik tajam memasuki gerbang kampus University of London. Pergantian musim semi dan musim panas yang sempurna, matahari tanpa malu – malu bersinar menghangatkan gedung kampus bergaya klasik itu. 
Aku berselonjar kaki duduk di lapangan rumput di tengah kampus, seorang diri dengan sebuah laptop di pangkuan. Matahari sudah mulai turun, sehingga cahayanya terhalangi bagian gedung dan menyisakan tempat teduh di pinggir lapangan. Dari sini aku bisa menikmati cahaya matahari tanpa kepanasan di seminggu terakhir sebelum aku kembali ke tanah air. Tak terasa sudah setahun aku disini mengikuti pertukaran pelajar.  

Aku sedang browsing tentang aktivitas apa yang bisa aku lakukan seminggu ini. Aktivitas kampus sudah berakhir, dan memberiku waktu untuk berleha – leha. Antara mengelilingi London lagi sampai ke sudut – sudut yang belum sempat aku jamah, atau berangkat ke kota – kota di luar London.  
Saat fokus memperhatikan layar laptop, tiba – tiba suasana sekitar kampus berubah. Matahari yang tadinya masih bersinar terang, tiba – tiba meredup. Aku mengarahkan pandangan ke arah Matahari.  
Pandanganku terhalangi gedung kampus yang cukup tinggi itu. Aku berdiri dan bergerak mencari matahari yang makin condong itu. Tampak sebuah awan yang tak terlalu besar melintas tepat di tengahnya sehingga cahaya yang terik itu terhalangi. 

Aku kembali ke tempat tadi selonjoran. Namun sebelum sempat mendaratkan pantatku ke rumput, tiba – tiba sesuatu melintas di pikiranku. Aku bergerak kembali mencari matahari, dan memandangi awan yang menutupinya. 

Awannya tampak familiar. Aku segera merogoh ponsel di kantongku. Aku segera meluncur ke aplikasi Instagram dan mencari Profile Arin. Sebuah foto terakhir yang di upload Arin lebih dari satu tahun yang lalu dengan segera mengakhiri keraguanku. 

Itu awan yang sama persis. Mirip sekali dengan awan putih di kala sunset yang membuat Arin menahanku hingga jam empat pagi. Awan putih yang mengakhiri persahabatan panjang kami. Awan terakhir yang ia tunjukan padaku. Dan ternyata juga awan terakhir yang dia upload ke akun instagramnya. 

Aku bergegas mengambil kamera dari dalam tas, dan memotret awan itu. Sekitar lima belas foto berhasil aku ambil, hingga akhirnya awan itu tak lagi menghalangi cahaya matahari.  
Aku memindahkan hasil jepretanku itu ke laptop. Foto - foto awan itu aku amati baik – baik. Arin tak salah, itu memang awan yang sangat indah. Ukuran yang pas antara panjang dan lebar. Gelombang – gelombang yang tak berlebihan yang membuatnya cantik dengan sederhana. Dia seolah tertempel di langit memang untuk dikagumi. 

Aku mengirimkan foto itu ke Arin melalui email. Entah dia mau membukanya atau tidak. Arin harus tau bahwa akhirnya kau mengagumi awan yang sama. Awan putih itu mungkin saja datang jauh – jauh dari jakarta untuk menebus kesalahannya.  

Lima menit kemudian sebuah panggilan Whatsapp masuk ke ponselku. Nomor yang sudah lebih dari setahun tak menelpon itu, sore ini hadir kembali. Awan putih itu penyebabnya. 
"Halo Rin." Ucapku. 
"Hi, Gung." Suara itu akhirnya terdengar kembali.  
"Disana sore hari ya?" Tanyanya. 
"Iya, jam lima sore." Ucapku. Jakarta sekarang pukul 11 Malam. Berbeda enam jam dari London di kala Musim Semi. 
"Kamu masih ingat awan itu?"  
 "Iya, Rin. Itu awan yang sama kan? Awan yang Indah Rin, aku menyaksikannya langsung, awan yang sempurna."  
"Awan yang mirip, Gung. Bukan awan yang sama. Awan itu sudah hancur terbawa angin, atau bahkan sudah menjadi hujan." Terangnya. 
"Oh iya, Rin." Ucapku terkekeh. Tentu saja. 
Sempat hening beberapa detik, hingga akhirnya Arin memecah lagi kebuntuan itu.  
"Bagaimana disana?" Tanyanya. 
"Kenapa tak mengabariku?" Tanyanya lagi sebelum aku sempat menjawab. 
"Main pergi begitu saja?" Cecarnya. 
"Maafkan aku Rin." Aku tak punya jawab atas pertanyaan – pertanyaannya itu. Aku memang salah, pergi tanpa sempat menyelesaikan kemelut persahabatan kami. Bahkan diatas pesawat penerbangan Jakarta – London kala itu aku terus menyesalinya.  
"Mau kamu apa? Menghilang, lalu tiba – tiba muncul dengan foto awan?" 
"Awan itu membawa pesan Rin, bahwa harus ada yang dibereskan di antara kita." 
Arin tak merespon.  
"Maafkan aku, Rin. Aku tau ucapkan ku tak bisa ditarik kembali, ataupun di lupakan. Izinkan aku memperbaiki ini." Aku serasa menumpahkan isi kepalaku yang terpendam satu tahun lebih itu. 
"Aku sudah melupakan itu, Gung. Kamu menyadarkan ku betapa egoisnya aku dalam pertemanan ini. Waktu ngobrol kita hanya tentang awan, melalu tentang awan. Aku bahkan tak tau kalau kamu akan pergi sejauh dan selama itu. Persahabatannya macam apa yang aku pikirkan waktu Itu." Ucapnya.  
Aku salah mengakimimu tentang awan, Rin. Kita berhak memiliki interest masing – masing." 
"Iya, itu salahku, Gung. Aku selalu merecokimu dengan Awan, aku memaksamu menjadi seperti aku juga." 
"Tidak, Rin. Sudahlah kita lupakan yang dulu – dulu ya?" Ucapku buru – buru. 
"Iya, Gung." Ucapnya. Walau aku tak melihatnya, aku merasakan senyum di suaranya. 
"Kamu kapan kembali ke Jakarta?" Tanyanya kemudian. 
"Aku sampai senin depan, Rin." 
"Senin depan? Aku harus ke rumahmu, Gung. Meminta izin untuk diajak ke Bandara." Ucapnya riang. 
"Iya, kamu harus datang. 
"Pasti" Ucapnya penuh semangat. 
"Oh, iya. Aku boleh bertanya tidak?" Tanyaku. 
"Apa?" 
"Instagrammu kenapa tak aktif lagi?" 
"Sudahlah, Gung. Jangan diungkit lagi. Kamu merusak suasana lagi." 
"Bukan begitu, Rin. Kamu menyiksa dirimu jika harus melupakan Awan. Bukan persahabatan seperti itu yang aku mau." Ucapku. 
Arin sempat terdiam beberapa saat. "Iya, Gung. Aku sudah lama sekali tidak memoto awan." 
"Mempertahankan sahabat bukan dengan menjadi orang lain, Rin." 
"Iya, Gung."  
"Sampai di Jakarta, aku mau lihat dan dengar foto dan cerita tentang awan lagi." 
"Iya, siap Gung. Tapi tidak sampai jam empat pagi kan?" Ucapnya terkekah. 
"Sesekali bolehlah, tapi jangan sering – sering juga." Balasku sambil tertawa. Aku merindukan tawa seperti ini dengannya. 
"By the way, hasil foto – foto makin bagus, Gung."  
"Masa?" Tanyaku riang. 
"Iya, aku lihat Instagram kamu. Makin banyak yang like, makin banyak follower. Foto yang kamu kirim  tadi bukan hanya bagus awannya, tapi secara keseluruhan sangat cantik, Gung. Kamu bisa membuat foto jadi sangat berkesan. Aku bahkan tidak tau kalau kamu sangat berbakat di photography, Gung." 
"Merusak suasana lagi..." Celetukku. 
"Seriusan. Tampaknya kita harus traveling bareng nih. Aku hunting foto awan, kamu hunting foto pemandangannya. Seemed interested kan?"  
"That's great idea. Kemana?" Tanyaku semangat. 
"Kemana ya? Aku bingung." 
"Yaudah, Raja Ampat?" Ucapku. 
"Kejauhan." 
"Oke, ancol." Ucapku ketus. 
"Yaelah, okelah Raja Ampat aja." 
"Hahaha.. Gitu dong." 

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...