Pages

Minggu, 22 November 2015

Cerpen "The Steps"


Seragam sekolah Andi berwarna sedikit berbeda dengan kebanyakan teman - teman lain di sekolahnya. Jika yang lain memakai seragam putih biru, punyanya berwarna putih ke kuning-kuningan biru muda. Ya,  seragam yang dikenakannya sehari - harinya hanyalah hasil turun temurun dari kakaknya. Perbedaan inilah yang membuat Andi sedikit berkecil hati dan jarang sekali berkumpul dengan teman - teman sekolahnya sepulang sekolah.

Andi lebih memilih segera pulang ke rumah, selain untuk menghindar agar tak tampak terlalu berbeda, juga untuk membantu ibunya menjajakan kue kering di sekeliling komplek di sebelah kampung. Momen berjualan kue inilah yang sebenarnya selalu ia tunggu - tunggu. Selesai berjualan, setiap hari senin sampai rabu, dia biasa menyempatkan diri berkunjung ke rumah kakak perawat yang terletak tepat di ujung komplek. Setiap kali Andi berkunjung, si kakak selalu memberinya beberapa lembar cerpen yang kadang dia tulis sendiri, kadang juga karya penulis lain.  

Sore itu seperti biasa selesai menjajakan dagangannya, Andi bergegas menuju rumah kakak perawat. Kakinya serasa enteng dibawa berjalan, seakan sekujur tubuhnya tak sabar menanti kisah baru apa lagi yang dia akan dapatkan sore ini.  

Kakak perawat melihat kedatangan Andi, dan menyuruhnya segera masuk. Tangannya sudah memegang lima lembar cerpen. "Kali ini cerpen kakak sendiri." Ucapnya sambil menyerahkan kertas itu pada Andi. Dia kemudian berjalan ke arah dapur.  

Tanpa pikir panjang, Andi segera meraih kertas itu dan mulai membacanya. Seketika itu juga dia mulai masuk ke dunia imajinasi, dan terkubur beberapa menit di dalam sana.  

Lima belas menit kemudian cerpen itu selesai di lahapnya, Andi tertegun beberapa detik dan mencoba mengembalikan kesadarannya. Tanpa dia tau, matanya sudah berair sedari tadi.

"kenapa?" kata kakak perawat sambil tersenyum. Setiap kali tersenyum, dua buah lubang terbentuk di kedua sisi pipinya. Dia kemudian meletakkan segelas es jeruk di depan Andi.
Andi tak menjawab, Kesadarnya belum pulih betul. Dia masih dibawa hanyut oleh kisah yang baru saja dia baca.
"Gimana? Bagus gak?" Tanya si kakak bersemangat.
"Sedih sekali kak." jawab Andi malu. "Bagus sekali"

Kakak perawat tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang rapi. "Cerita itu sudah mulai kakak tulis dua bulan yang lalu, tapi baru kemarin malam selesai." ucapnya menjelaskan.
Dia kemudian mempersilakan Andi meminum jus jeruk yang sudah dia hidangkan.
"Oh iya, kamu suka bahasa Inggris ga?" lanjut kakak perawat.
"Tidak kak, sangat sulit. " Jawab Andi. "Lagian saya tidak punya kamus. Setiap pelajaran bahasa Inggris selalu meminjam kamus teman."
"Kamu harus bisa bahasa Inggris dek. Cerpen atau bahkan novel itu tidak hanya bahasa Indonesia saja, bahasa Inggris juga banyak sekali. Kamu harus membaca novel - novel bahasa Inggris juga, yang jauh... lebih keren." Ucap Kakak memberi penekanan pada kata "jauh".

Andi mengangguk, walau dia tak sepenuhnya tau bagaimana melakukan itu. Memiliki kamus sendiri baginya tampak terlalu mewah.

Keesokan harinya ibu guru bahasa Inggris membagikan hasil ulangan yang diadakan seminggu yang lalu. Satu per satu siswa di panggil ke depan untuk mengambil kertas ulangan mereka. Saat namanya dipanggil, Andi tau ada sesuatu yang tidak beres. Ibu guru tak lagi tersenyum seperti saat memanggil siswa sebelumnya. Sesekali dia menggeleng mengiringi langkah Andi ke depan kelas. Andi menerima kertas ulangannya. Sebuah angka empat terasa besar sekali tertulis disamping namanya. Sepanjang perjalanan ke rumah, Andi terus memperhatikan kertas ulangan itu. Baru saja kemaren sore dia berjanji kepada kakak perawat, namun hasil ulangan kali ini semakin membuatnya pesimis.

Setelah beristiraat sekitar satu setengah jam, Andi memulai rutinitas sorenya, menjajakan kue kering. Keranjang di tentengnya melewati satu rumah ke rumah lain, satu kerumunan warga ke kerumunan yang lain. Terik matahari memanggangnya sepanjang perjalanan, tapi tentu saja Andi tetap bersemangat, di ujung komplek nanti kakak perawat sudah menantinya dengan sebuah cerita baru.

Berjarak sekitar lima rumah dari rumah kakak perawat, Andi mulai merasakan sesuatu yang tidak biasanya. Pagar rumah terkunci rapat, dan digembok, mobil yang biasa parkir di depan rumah juga tidak ada. Dia melihat ke arah pintu utama, dan sama saja. Tidak biasanya hari rabu, kakak perawat tidak ada di rumah.  

Dia menengok ke arah matahari yang semakin condong. Belum terlalu sore pikirnya, dan dia memutuskan untuk menunggu. Berselang hampir satu jam, belum ada tanda - tanda kalau penghuni rumah ini akan segera datang. Dengan perasaan kecewa, Andi memutuskan untuk pulang.

***
Beberapa hari kemudian...
Andi mendekat ke rumah kakak perawat, gerbang depannya terbuka, sebuah mobil sedan yang biasa di parkir di belakang gerbang juga  ada disana. Itu artinya kakak ada di rumah. Seperti biasa Andi akan menunggu di depan gerbang tersebut sampai si kakak menyadari kedatangannya.

Seorang wanita paruh baya mengampiri Andi. Tersungging sebuah senyum tipis dari wajahnya.

"Andi ya?" tanyanya
Andi mengangguk, dan membalas senyum wanita itu. Dia sedikit mengambil kesimpulan kalau wanita itu pasti ibu kakak perawat.
"Masuk dulu" Si ibu mengarahkan Andi ke ruang tamu.  
"Sebentar saya ambilkan minum dulu. Es Jeruk kan?" Ucap Si ibu setelah mempersilakan Andi duduk.
Lima belas menit kemudian si ibu kembali dengan membawa segelas besar es jeruk dan sebuah buku di tangannya.
"Bagaimana jualannya? Habis?" tanya si ibu setelah mempersilakan Andi minum.
"Iya, sudah habis bu" jawab Andi.
"Oh iya, ini ada titipan untuk kamu." Si ibu menyerahkan sebuah novel ke tangan Andi.

Andi melihat ke arah novel di tangannya. Judul "To Kill a MockingBird" by Happer Lee tertulis di cover depan. Andi membuka novel bersampul putih itu, deretan kata - kata bahasa Inggris terpampang di depannya, dan membuat keningnya mengkerut. Apa dia harus membaca novel ini? pikir Andi.

"Kakak kemana bu?" tanya Andi mencoba mengalihkan kekagetannya.
Si ibu tak langsung menjawab selama beberapa detik. Dia menatap Andi dengan tatapan kosong, kemudian menunduk dan menghembuskan nafas panjang. "Dia sudah ada di surga." Jawab si ibu.

Andi tersentak dengan apa yang dia dengar. Dia paham betul apa yang dimaksud oleh ibu ini, namun dia mencoba untuk beranggapan bahkan dia salah dengar. "Maksud ibu?" tanyanya
"Dia sudah tidak ada." Jawab si ibu. "Dua hari yang lalu dia ditabrak sebuah mobil di depan rumah sakit, dia sempat sadarkan diri, dan meminta saya mengerahkan itu padamu." Si ibu menunjuk ke novel yang dipegang Andi.

Pikiran Andi berkecamuk hebat. Dia masih tidak paham bagaimana semua ke tiba - tiba itu terjadi, tentang kepergian kakak perawat, dan warisannya sebuah novel berbahasa Inggris.  

Andi pamit diri. Sepanjang perjalanan tetes demi tetes air mata mengalir dari di pipinya. Dia mencoba menghapus air mata itu ketika melewati kerumunan orang - orang, namun sebanyak yang dia hapus, sebanyak itu pula yang kembali menetes membanjiri pipinya. Seorang ibu - ibu yang sedang mengendong anaknya di depan taman di tengah komplek memanggil Andi menanyakan apakah dagangannya masih ada. Dia tak menjawab, dia terus berjalan melawan kecamuk di pikirannya. Ini rasa kehilangan pertama dalam hidupnya.

Sesampai di rumah, Andi membuka novel yang tadi diberikan oleh ibunya Kakak perawat. Dia membalik cepat halaman - halaman novel itu sampai halaman terakhir. Seketika puluhan ribu kata - kata bahasa Inggris menyeruak memasuki matanya. Andi tertegun, dan menarik nafas panjang. Tak banyak kata yang dia kenal.  
Dia kemudian membalik novel ke bab pertama, dan mencoba membaca kalimat pertama dengan terbata - taba.
When he was nearly thirteen, my brother Jem got his arm badly broken at the elbow.

Andi menemukan beberapa kata yang dia kenal. Ada kata when, he, dan brother. Dia mengambil pensil dan melingkari kata - kata yang dia belum tau. Besok ketika pelajaran bahasa Inggris, dia akan meminjam kamus temannya, dan berusaha menemukan arti kalimat pertama itu.

Andi paham bahwa akan butuh puluhan bulan untuknya menyelesaikan dan memahi novel ini. Namun ini ada sebuah warisan dan wasiat, dia harus menuntaskannya demi kakak perawat. Dia kembali membalik cepat halaman - halaman novel itu hingga akhir, dan kembali melihat sebuah jalan terjal di depannya. Apapun itu, dia akan menempuh jalan terjal itu hingga ujung.  

Beberapa hari kemudian saat pelajaran bahasa Inggris Andi memperhatikan dengan seksama apa yang dijelaskan oleh gurunya. Saat jam istirahat, Dia memutuskan tidak keluar kelas. Setelah meminjam kamus temannya, dia mencari arti kata demi kata yang belum dia kenal di novel.  

Ketika dia adalah hampir tiga belas, Saya saudara laki - laki Jem mendapat dia lengan dengan buruk patah di siku.

Andi mengerutkan dahinya. Katanya yang sudah dia rangkai dalam bahasa Indonesia itu bahkan masih belum bisa dia mengerti. Dia mencoba membaca lagi kata demi kata, dan mencoba menerka - nerka apa yang dimaksud kalimat itu. 

Tiga belas? apanya yang tiga belas? pikir Andi.
Tiga belas kilometer?

Dia mengusap - ngusap keningnya dengan telapak tangan. Dia tau betul Kata - kata bahasa Indonesia itu seperti rangkaian aneh yang tak seharusnya membentuk kalimat. Hampir dua puluh cerpen pemberian kakak perawat yang sudah dia baca, tak pernah dia menemukan kalimat seganjil itu dalam bahasa Indonesia.

apa kata bahasa inggris memang se aneh ini? pikirnya.

Bel tanda berakhirnya waktu istirahat menggelegar kesegala penjuru sekolah. Rombongan siswa - siswa kekenyangan memasuki kelas berduyun - duyun. Andi bergegas menutup novel, dan buku catatannya. Dia kemudian mengembalikan kamus pada teman sebangkunya itu.

Sepanjang perjalanan ke rumah, Andi memperhatikan kembali buku catatannya. Kalimat aneh itu kembali menyesakan dadanya. Kalimat itu seakan mengikatkannya bahwa hampir mustahil untuk membaca novel itu hingga selesai. Dia tak menemukan satu celahpun yang membantunya untuk menebak - nebak maksud kalimat itu.

Sesampai di rumah Andi melempar buku catatannya kesudut kamar. Pikirannya kacau, dia terlalu memaksa otaknya untuk berpikir. Novel pemberian kakak perawat itu digenggamnya erat. Mungkinkah novel ini akan menjadi pajangan saja?

Andi memasukan kembali novel itu ke dalam tas sekolahnya. Dia harus bergegas keliling komplek untuk menjual kue kering buatan ibu. Sepanjang sore itu, tentu saja pikirannya masih dipenuhi tentang novel bahasa Inggris yang tiba - tiba meneror hidupnya. Dia terus berjalan melewati rumah demi rumah, kerumunan orang demi kerumuman, hingga tanpa dia sadari kakinya berhenti lima meter dari rumah kakak perawat.

Sudah hampir seminggu dia tak pernah memasuki rumah itu lagi, dan selama itu pula otaknya tak pernah dimasuki cerita - cerita baru lagi. Sebelum kepergian kakak perawat, setidaknya ada tiga kisah baru yang dia baca dalam seminggu.  

Dia tau dia sedang sakau berat. Otaknya benar - benar membutuhkan kisah dan bacaan baru saat ini. Membeli novel atau majalah tentu saja dia tak sanggup. Pikirannya kembali tertuju pada novel bahasa Inggris yang membuat kepalanya berdenyut - denyut. Tak ada cara lain pikirnya. Memang hanya novel itu yang bisa mengobatinya dari sakau ini.

Andi bergerak meninggalkan komplek, dan menuju rumahnya. Sesampai di rumah dia buka kembali buku catatan yang tergeletak di sudut kamar. Ketika hendak menuju halaman tempat dia mencatat arti kalimat dari novel, matanya terhenti pada satu halaman. Ada dua kata yang amat familiar yang tertulis di halaman itu. Andi ingat itu sepertinya materi yang diajarkan ibu guru dua bulan yang lalu.  

Disana tertulis: My brother = Saudara laki -lakiku.

Andi bergegas membuka novelnya, dan menemukan dua kata itu di kalimat pertama yang sejam yang lalu membuatnya ingin menyerah. Dia membaca kembali seluruh tulisannya di halaman pada catatan tersebut, dan sekali lagi ada kata lain yang berhasil dia temukan, Kata his lengkap dengan cara menggunakan kata tersebut.  

Di novel ada kata - kata his arm. Berarti artinya "lengannya" pikir Andi.  

Berbekal beberapa kata yang sudah dia mengerti itu, Andi mencoba mengartikan kembali satu kalimat pertama itu.

Dia menulis pada secarik kertas: Ketika dia adalah mendekati tiga belas, saudara Laki - lakiku Jem mendapat lengannya dengan buruk patah di siku.

Kalimat itu masih terdengar ganjil bagi Andi, tepatnya pada bagian sebelum tanda koma. Namun dia sudah bisa menangkap maksud dari kalimat tersebut.  

Tentu saja, Pikir Andi. Tentang seseorang yang menceritakan bahwa bahu kakak laki - lakinya patah.

Andi tidak mau menyerah begitu saja, sore ini juga dia harus menemukan makna dari kalimat itu seutuhnya. Dia beranjak dari meja kecil di samping kasurnya, dan mulai berjalan berputar - putar di dalam kamar. Dia memikirkan segala kemungkinan dengan angka tiga belas itu.

tiga belas kilometer, tiga belas buah, tiga belas kali, tiga belas macam, tiga belas..... tiga belas hari, tiga belas bulan, tiga belas tahun?  

Ya, tentu saja tiga belas tahun.  
"Usia tiga belas tahun". Teriak Andi. "Bau kakak laki - lakinya patah di usia tiga belas tahun"

Andi melompak dan bertiak sejadi - jadinya di kamar yang tak lebih dari 9 M2 itu. Ibunya yang kaget langsung berlari ke kamarnya. Andi yang melihat ke datangan ibunya, langsung menyambar novel diatas meja, dan memperlihatkan pada ibunya.

"Bu, Andi tau arti kalimat ini" Andi menunjuk kalimat pertama pada ibunya. "Ketika dia berusia tiga belas tahun, Saudara laki - lakiku Jem, Lengannya dengan buruk patah di.... bagian siku." Ucap Andi Antusis. Dia kembali meloncat - loncat ke kamar berlantai kasar tersebut. Dia tak mempedulikan telapak kakinya yang lecet.

"Kamu ini, orang lengannya patah malah kegirangan" ucap ibunya.  

***
"Thank you" Ucap Andi.

Gemuruh tepuk tangan mengikuti langkahnya menuruni panggung, dan kembali ke tempat duduknya di barisan ke dua. Andi duduk, dan kembali melihat ke arah panggung yang selama lima belas menit yang lalu dia kuasai. Sebuah spanduk besar bertuliskan "National English Speech Competition" terpampang di di belakang mimbar yang tadi dia naiki. Yang jelas, Andi sudah memberikan yang terbaik untuk kompetisi pidato dalam bahasa Inggris ini, sekitar dua jam lagi hasil akan diumumkan. Tiga orang pemenang lomba ini akan mewakili Indonesia di Asian English Speech Competition yang akan diadakan di Korea Selatan tiga bulan lagi.
Sembari menunggu peserta - peserta lain menyelesaikan pertarungan mereka, pikiran Andi kemudian kembali menjelajah waktu ke langkah demi langkah yang dia tempuh hingga akhirnya sampai ke panggung itu.  

Dua tahun yang lalu, ibu Kakak perawat memberinya sebuah novel dalam bahasa Inggris, itulah langkah pertamanya yang amat berat. Namun setelah berhasil memahi kalimat pertama novel tersebut, antusias yang maha tinggi menyeruak memasuki dadanya. Dia kembali membuka semua catatan pelajaran bahasa Inggris yang selama itu dia singkirkan. Setiap minggu dia meminjam kamus teman sebangkunya untuk mendapatkan arti dan menghafal sebanyak mungkin kata baru yang dia temukan di novel. Dalam waktu tiga bulan novel itu berhasil dia tamatkan, dan seiring dengan berjalannya waktu nilai bahasa Inggrisnya semakin meningkat.
Andi tersadar dari lamunannya ketika suara tepuk tangan membahana di seisi ruangan.

"Sekali lagi tepuk tangannya yang lebih keras." teriak pembawa acara.
"Hasil keputusan juri sudah di tangan saya. Tak perlu menunggu waktu lama, inilah tiga pemenang yang akan mewakliki Indonesia di Asian Speech Competition di Korea Selatan."
Seisi ruangan mendadak hening menunggu saat - saat paling berharga dalam hidup mereka.
"Juara ke tiga, selamat untuk Septianto Bayu dari SMA 1 Makassar."
"Juara ke dua, selamat untuk Amelia Saraswati dari SMA 2 Jakarta Barat."
"Dan Juara pertama..... selamat Andi Pamungkas dari SMA 10 Jakarta Timur."

Andi bangkit dari tempat duduknya dengan perasaan bangga yang terkira. Air matanya menggenang mengingat kembali perjuangan yang sudah dia lalui. Jika waktu SMP dulu dia berbeda dengan teman - temannya karena baju seragamnya yang menguning, hari ini dia berbeda dengan teman - temannya karena menjadi orang pertama yang menginjak negeri Indah di Asia Timur itu untuk mewakili Indonesia.

TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...