Pages

Selasa, 27 Oktober 2015

Cerpen "Kembali"


“Ini masih jauh pak?” Tanya ku pada pemandu yang membawa kami ke tengah hutan ini. Aku memegangi lututku yang semakin berat. Rasanya kami sudah berjalan berjam - jam, namun belum ada tanda – tanda akan sampai di tempat yang dituju.  


Peluh juga terus saja menetes, mengenang hingga leher, dan terhenti di kerah baju kaos merahku. Sapu tangan putih yang tadi pagi ku bawa dari rumah, sudah basah dan tampak kucel oleh daki yang menempel.


“Sekitar dua jam lagi kang. Kita akan mendaki bukit itu” Dia menunjuk barisan bukit di depan kami.
“Desanya tepat di belakang bukit.”
“Kita istirahat dulu ya. Kaki gue udah mati rasa nih.” Ucap Nina setengah berteriak dari belakang kami.  

Aku menoleh padanya. Gadis tercantik di kampus itu sudah tak tau lagi bentuknya. Rambutnya yang dua hari yang lalu direbonding sudah berantakan kesana kemari. Punggungnya terdorong kedepan, menanggung beban sebuah tas ransel besar yang terisi penuh.

Kami memutuskan beristiraat sebentar di bawah sebuah pohon karet yang tumpuh besar menjulang. Aku memeriksa telepon genggamku, tak ada sinyal. Kami benar – benar sudah dibawa ke sudut dunia yang terasing. Kalau bukan karena syarat wisuda, aku dan Nina tentu tidak akan terdampar di tempat ini. Kurang lebih satu bulan kami akan menjalani hidup sebagai warga desa itu untuk mengumpulkan materi skripsi.  

Sekitar lima belas menit kemudian, walau tenaga belum sepenuhnya pulih, kami kembali melanjutkan perjalanan. Matahari tampak semakin turun, bencana jika kami terjebak tanpa cahaya di hutan ini. Pilihan memang cuma ada dua, melanjutkan perjalanan atau memberi harapan pada makhluk - makhluk asing penghuni hutan ini untuk menjadikan kami olok - olokan mereka.

Sekitar pukul lima sore kami sampai di kaki bukit yang cukup landai, dan saatnya mendaki mengikuti jalan sekatapak yang sudah disediakan penduduk desa. Aku bergelantungkan pada beberapa ranting pohon di kanan kiri jalan agar tidak berakhir dengan terguling - guling. Sekali - kali aku melihat ke arah Nina di depanku yang tampak kesusahan.

"Gimana? menyesal?" tanya ku pada Nina setengah mengejek.

Dia hanya melemparkan sepotong ranting ke arahku sebagai jawaban. Sedang tidak mau diajak bercanda rupanya.

Beberapa saat kemudian kami sampai di puncak bukit. Dari kejauhan tampak matahari sedikit demi sedikit tenggelam, menghasilkan goresan - goresan jingga yang terlukis dicakrawala. Selama beberapa menit itu, lelah kami serasa hilang, tertutupi oleh kagum mengaksikan karya agung tuhan.  

Setelah mentari itu lenyap, aku mulai memperhatikan pemandangan di depanku. Tak tampak ada desa seperti yang kami bayangkan. Hanya ada hanya sawah, kebun, dan pohon - pohon besar.

Seolah paham dengan keraguan kami, pemandu menunjuk beberapa titik yang tampak mengeluarkan cahaya oranye kecil. Masing - masing cahaya berjarak beberapa meter, ada pula yang berjarak puluhan meter dari yang lain. Kami paham itu rumah penduduk dengan cahaya lampu minyaknya.  
"Here we are" teriak Nina di sampingku. Beberapa kali dia menghembuskan nafas panjang.  

Kami bergegas menuju salah satu rumah penduduk yang akan menjadi tempat tinggal kami sebulan ini. Kami melewati pematang sawah, kebun jagung, dan kebun cabai untuk sampai di pemukiman. Pemandu menunjuk salah satu rumah di depan kami. Sebuah rumah kayu tak di cat, dengan atap rumbia telah menanti kami disana. Jendela kayu terbuka, dan tengah berdiri seorang ibu di baliknya.  
Ketika melihat kami, ibu itu bergegas menghampiri kami. Seutas senyum tersungging dari wajahnya.

"Ini teh yang akan tinggal disini?" tanya si Ibu.
Kami mengangguk resentak dan membalas senyumnya.
"kasep dan geulis pisan" Dia mencubit pipi Nina, dan menepuk pundakku.

Kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah melalui sebuah tangga yang tampak baru saja diperbaiki. Di dalam rumah berlantai kayu itu sudah menunggu beberapa orang, seorang bapak berkumis dengan senyum tak kalah lebar dari si ibu, yang kemudian kami tau adalah suaminya. Selain itu ada juga seorang bapak yang lebih tua dengan rambut yang sudah mulai pememutih, dia ketua suku disini. Ada juga dua orang anak kecil, laki - laki dan perempuan, Riri dan Puput, anak - anak si ibu.

Kepala suku kemudian memberitahu kami tentang aturan dan norma yang berlaku di desa ini, tentang batas - batas laki - laki dan perempuan, tentang tugas - tugas masing - masing warga untuk desa, serta tentang hal - hal tabu yang tidak boleh dilakukan. Kami mendengarkan dengan hikmat karena memang tak mau tertimpa bala apapun selama disini.

***
Aku terbangun oleh suara minyak panas yang menggelegar dari arah dapur. Bau ikan tri goreng seketika menyeruak ke dalam kamar Riri yang tak jauh dari dapur itu. Walau mata masih sangat berat untuk dibuka, aku memaksa untuk membukanya. Dari balik jendela kayu diatasku, tampak cahaya mentari pagi samar - samar. Belum terlalu terang memang, namun penghuni rumah ini sudah mulai beraktifitas.  

Setelah yakin nyawaku sudah kembali seutuhnya, aku bangkit dan bergerak keluar kamar. Di depan pintu ku lihat Nina masih mengucek - ngucek matanya, dan sedikit sempoyongan berjalan keluar kamar yang terletak persis di depan kamar ku dan Riri. Aku memberi isyarat padanya agar kami segera ke dapur membantu ibu memasak.  

"Punten pisan, kebangun ya" ucapnya melihat kedatangan kami. Dia sedang mengulek beberapa buah cabe rawit merah saat kami datang.

Aku berinisatif menolongnya membalik ikan teri yang sedang digoreng, namun ibu melarang. Cukup Nina saja katanya. Aku segera ke depan rumah menemui bapak yang ternyata sedang mengasah sabitnya.

Setelah menyantap makanan kampung yang super nikmat, aku bersama bapak berangkat ke sawah untuk menyabit padi yang sudah menguning. Kecepatan menyabitku satu berbanding sepuluh darinya. Ketika asyik bergelimang peluh di tengah sawah, aku berkenalan dengan beberapa penduduk desa yang kebetulan lewat.

Aktifitas kami tiba - tiba terhenti saat seorang warga lain datang.  
"Punten pak Asep." teriaknya.
Bapak mendekat. Samar - Samar aku mendengar percakapan mereka.
"Dari kemaren siang, abdi teh tidak lihat pak Deden, baik di warung ataupun di kebunnya." terang bapak tadi. "Takut ada apa - apa"

Kami bertiga bergegas menuju rumah pak Deden yang terletak di kaki bukit. Cukup jauh dari rumah maupun kebun bapak. Dalam perjalanan kami bertemu dengan warga lain yang kemudian bergabung dengan kami.

Dari warga aku tau bahwa pak Deden sekarang hidup seorang diri setelah istrinya meninggal beberapa minggu yang lalu. Mereka juga tidak dikarunia anak.  

Rumah pak Deden tampak sunyi, pintu dan jendelanya terkunci rapat. Di Samping rumah, induk ayam dan anaknya berkeliharan kesana kemari sambil sesekali berjalan menuju tempat air minum mereka, dan kemudian kecewa karena sudah tak ada lagi yang bisa diminum.

Kami mengetuk pintu rumah mencoba memanggil - manggil pak Deden, namun tak ada yang menjawab. Kami berinsitiaf mengintip ke dalam dari pentilasi yang berada di atas pintu. Bapak - bapak mengangkatku sehingga aku bisa leluasa melihat ke dalam rumah.  

Rumah tampak sedikit gelap. Cahaya matahari yang berhasil menembus pentilasi dan sekat - sekat antar dinding kayu sedikit membuatku bisa mengamati seisi ruang tamu. Tak ada - ada tanda - tanda kehidupan, tak ada siapa - siapa disana. Pintu dapur - yang letaknya tepat sejajar dengan pintu utama - terbuka, dan aku mencoba melihat semampuku ke dalam dapur , namun sepertinya juga tak ada siapa - siapa.  

Pintu kamar di sebelah ruang tamu juga terbuka, tetapi aku tak bisa melihat ke dalamnya. Namun tiba - tiba aku tersentak ketika melihat sesuatu yang tampak samar di lantai di bawah pintu. Aku mencoba memastikan apa yang ku lihat, tapi tak salah lagi, itu ujung jari manusia. Pasti ada seseorang yang tergeletak di lantai di dalam kamar.

Kami bergegas mendobrak pintu rumahnya. Cukup dua kali dobrakan saja, pintu sudah terbuka. Kami segera melihat ke dalam kamar, dan mendapati Pak Deden sedang tergeletak di lantai di samping lemari. Aku bergegas memeriksa nadinya di pergelangan tangan dan lehernya.

"Masih" ucapku lirih.

Kami segera mengangkat tubuh pak Deden, dan membawanya ke mantri desa di samping balai adat. Bersama - sama kami menggotong tubuh lemah itu menyusuri kebun, pematang sawah, dan jalan - jalan setapak berlumpur. Di perjalanan kami bertemu dengan beberapa orang lain yang segera menghentikan aktifitasnya membantu kami membawa tubuh Pak Deden yang tak berdaya. Rumahnya memang sedikit jauh dari pusat Desa, sehingga butuh perjuangan ekstra untuk sampai disana.

Sekitar lima belas menit kemudian kami sampai di ruangan pak Mantri. Beruntung karena kami cepat membawa pak Deden ke sana, kondisinya tidak terlalu parah, dan masih bisa ditangani oleh peralatan medis yang sangat sederhana.

***
Seminggu sudah kami menjadi bagian dari desa ini. Bangun pada waktu yang sama dengan mereka, memakan makanan yang sama, mengerjakan hal yang sama, dan menertawakan serta merisaukan hal yang sama. Sesuatu yang amat beda dengan yang selama ini aku rasakan di kota.

Biasanya setiap siang hingga sore, setelah membantu bapak di sawah, aku berkunjung ke rumah - rumah warga yang lain untuk sekedar berbincang, lebih tepatnya mewawancarai mereka, karena memang itulah tujuan aku kesini mengumpulkan materi untuk skripsi. Kadang aku main ke balai adat, bertemu dengan pemuda - pemuda yang sedang memperbaiki atap yang sudah habis dimakan usia. Kadang aku juga mampir ke sawah atau kebun warga lain untuk menemani pemiliknya sambil berbincang.

Sore ini aku berkunjung ke salah satu dari dua warung yang ada di desa ini. Kebetulan anak pemilik warung seusia denganku, namanya Bayu. Ketika aku mulai jenuh bergaul dengan cangkul dan sabit, atau tidak sedang berselera mewawancarai, aku akan menghabiskan waktu hingga Maghrib di warungnya, sekedar bencanda gurau tanpa skrip.  

Ketika asyik ketawa - ketiwi tentang hal - hal baru yang aku temui di desa ini, obrolan kami terhenti ketika seorang gadis berkerudung coklat mendekat ke warung Bayu. Aku memandanginya, dan seketika itu juga waktu seolah berhenti. Yang ada hanya dia dan aku yang sedang ternganga.  

Gadis berkulit putih bermata sendu itu semakin mendekat, membuat aliran darahku terpompa semakin cepat. Aku tersenyum menatapnya, dan dia membalas dengan segaris senyum tipis. Beberapa malam kemudian mimpiku hanya tentang senyum itu. Kami beradu pandang tepat dimata masing - masing sepersekian detik lamanya.   

Setelah membeli beberapa barang, gadis itu berlalu meninggalkan aku dengan sesuatu di hati. Sesuatu yang tanpa ku sadari tiba - tiba muncul, dan bersemayam disana. Dari Bayu aku tau kalau gadis itu bernama Yulia. Dia Sahabat tunangannya Bayu.  

***
Untuk membeli isi warungnya, seminggu sekali Bayu ke kota. Aku dan Nina memutuskan untuk ikut dengannya sekedar untuk mencari sinyal mengabari keluarga di rumah. Untuk mencapai Kota, kami berjalan menembus hutan untuk sampai di jalanan yang sering kali dilewati truk - truk besar pengangkut kayu. Pengemudi truk tersebut akan memberi kami tumpangan dengan membayar sejumlah uang. Cukup lumayan menghemat waktu dari pada harus berjalan kaki setengah hari menuju pasar di pinggir kota.

Tepat tengah hari kami sampai di pasar kecil di pinggir Kabupaten Sukabumi. Di pasar ini lah warga desa biasa membeli kebutuhan mereka, terkadang jika hasil kebun lumayan banyak mereka akan menempuh perjalanan berjam - jam untuk menjualnya di pasar ini.

Aku segera mengaktifkan telepon genggamku, sebaris sinyal cukup membuatnya bernyawa kembali.  
"Akhirnya kamu dapat sinyal?" tanya mama ada di ujung telpon.
"Dimana ini? di atas pohon kelapa?" candanya.

Kemudian obrolan kami berlanjut tentang aktifitas apa saja yang sudah aku lakukan kurang lebih seminggu ini, tentang warga desa yang sudah beraktifitas bahkan ketika matahari belum sepenuhnya bersinar, tentang satu tetangga dengan tetangga lain yang sangat akrab walaupun jarak antar rumah yang cukup jauh.

"Ada kasus baru yang seru ma?" tanyaku. Papa dan Mama adalah pemilik kantor pengacara terbesar di Bandung.
"Sekarang lagi pegang kasus sengketa tanah. Antara anak angkat dengan keponakan."
"papa dan mama pegang yang mana?"  
"Anak angkat. Yang menggugat."  
"Oh. Semoga lancar ma. Oh iya, titip salam ke Maya ya ma. Tadi aku telpon dia tidak angkat."
Maya adalah adik perempuanku satu - satunya.  

"Dia lagi ujian." terang mama

Setelah berbincang kurang lebih dua puluh menit, aku pamit diri. Sudah saatnya kembali lagi ke desa. Jika terlalu sore, biasanya sudah tidak ada truk yang ke arah desa. Kami tidak mungkin berjalan kaki dengan beban sebanyak itu yang dibawa Bayu.

***
Sore itu aku membantu salah seorang warga bernama bapak Yudha. Dia sedang memanen cabe rawit di kebunnya yang cukup besar, letaknya tak jauh dari rumah bapak Asep. Dari Bapak Yudha lah aku tau bawa tanah yang dia jadikan kebun tersebut adalah tanahnya pak Asep.

"Iya kang. Dari buyut saya dulu dipinjamkan tanah ini sama buyutnya pak Asep." Jawabnya memastikan bahwa aku tak salah dengar.
"Jadi ada 3 orang diatas bapak yang mewariskan hak pakai tanah ini?" tanyaku lagi.
"Iya kang. Dari buyut saya ke kakek saya, dari kakek saya ke ayah saya. Lalu sekarang sama saya" terangnya.
"Itu harusnya sudah hampir seratus tahun ya pak?"
"Tidak tau kang. Sepertinya begitu."  
"Dengan waktu selama itu, sampai bapak masih tau sejarah tanah ini?" tanyaku takjub.

Ketakjuban ku ini sebenarnya karena aku teringat kasus yang sedang ditangani Papa dan Mamaku. Masing - masing saling tuduh bahwa merekalah yang berhak atas tanah itu.

"Iya kang. Kakek saya dulu pernah bilang kalau tanah ini bukan milik kami, ini tanah keluarganya pak Asep. Ketika suatu hari nanti mereka meminta tanah ini kembali, kami harus ikhlas memberikannya lagi. Ayah saya sebelum meninggal juga berpesan begitu."

Aku mengangguk takjim salut dengan kejujuran keluarga pak Yudha. Turun temurun mereka mengingatkan tentang status tanah ini.  

***
Aku terbangun dari tidurku dengan sekujur tubuh basah oleh peluh, Sebuah mimpi buruk menyergapku. Tak banyak wajah - wajah yang ku kenal di mimpi itu, kecuali satu wajah, adik perempuanku, Maya. Wajahnya tampak pucat. Aku ingin mengampirinya, tapi aku tak bisa mendekat. Sebuah kaca besar menghalangiku.  

Namun tiba -tiba sebuah alat penghisap besar menarik tubuhnya, dia menggelapar - gelepar mencoba meraih apapun untuk menahan tarikan yang semakin besar. Aku memukul - mukul kaca mencoba membantunya, tapi tak ada lagi yang bisa aku lakukan, saat alat itu melumatnya hidup - hidup.

Keesokan harinya aku meminta bantuan Bayu untuk mengantarku ke kota. Perasaanku tak tenang sejak mimpi tadi malam. Apapun itu, sesuatu mungkin saja sedang terjadi pada Maya. Kami berangkat sekitar pukul 10 pagi melakui rute yang kami tempuh dua hari yang lalu.

Sesampai di Kota, aku segera mengaktifkan ponselku. Sebuah  sms dari mama langsung mengagetkan dan membuat jantungku berdetak tak karuan.

kalau kamu baca sms ini, telpon mama segera.

Sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi. Seakan semua kegelisahanku sejak mimpi buruk semalam, tertumpah saat ini menjadi kepingan - kepingan kenyataan.
Aku segera menelpon mama saat itu juga.

"Kamu harus pulang sekarang juga." ucapnya parau.
"Kenapa ma? ada apa?" tanyaku mendesak.
"Ada yang menyelinap masuk rumah kita, dan menusuk Maya dengan pisau. Kami menemukan Maya di ruang tamu bersimbah darah. Dia kehabisan banyak sekali darah. Saat ini Maya sedang koma di rumah sakit." ucapnya terisak - isak.

Seakan duniaku runtuh mendengar kabar tersebut. Adik perempuanku satu - satunya sekarang sedang bejuang antara hidup dan mati di rumah sakit. Air mata menetes membajiri pipiku tanpa bisa ku tahan.  

"Apa pelakunya sudah ditangkap?" tanyaku
"Belum. Tak ada jejak. Tak ada saksi mata. Tapi kecurigaan polisi mengarah pada kasus sengketa tanah yang sedang kami pegang. Mungkin pelakunya keponakan yang punya tanah itu." Mama semakin terisak - isak. "Kalau saja kami pulang lebih cepat, mungkin ini tidak akan terjadi"
"Tetangga kita tidak ada yang tau?"  
"Tidak."
"Apa mereka tidak mendengar keributan apa - apa di rumah kita? Jarak rumah kita dengan rumah mereka itu cuma sebatas tembok." Ucapku menahan emosi.  

Aku teringat bagaimana satu desa berhasil menyelamatkan nyawa pak Deden.  
"Tidak, sudahlah yang penting kamu pulang sekarang juga. Maya butuh kita disampingnya"  
"Iya ma, iya. Aku pulang sore ini."  

Aku dan Bayu bergegas kembali ke desa untuk mengambil barangku. Sore ini juga Bayu akan menemaniku lagi untuk mencari tumpangan ke terminal bus.  

Sesampai di Desa aku segera membereskan barang - barangku, dan berpamitan pada ibu dan bapak. Nina memutuskan untuk tetap tinggal disana untuk menyelesaikan penelitiannya.

Warga berkumpul di depan rumah pak Asep untuk melepas kepergianku. Satu persatu warga aku salami. Mereka sudah memberi ku pelajaran paling berharga selama disini.  

Saat menyalami warga lain, dari kejauhan mataku menangkap sosok gadis manis yang tempo hari ku lihat di Warung Bayu, Yulia. Dia sedang bersandar di dinding kayu sebuah rumah. Kepalanya tertunduk, wajahnya murung.  

Aku mendekatinya. Dia mengangkat kepala saat melihat kedatanganku. Aku menyodorkan tangan, dan dia meraih tanganku.
"Hati - hati di jalan a" ucapnya lirih.
Aku mengangguk.
"Bolehkah aku kembali setelah semua masalah di Bandung selesai?" tanyaku pelan.  

Dia menjawab dengan sebuah senyum, senyum yang sudah cukup mewakili seribu kata. Perasaan kami disampaikan dengan isyarat, dan sama - sama dimengerti dengan diam. Tentu saja aku akan kembali untuk wanita ini.
TAMAT

2 komentar:

Mutiara Dewi mengatakan...

Kok nanggung banget sih? Padahal bagus lo..

yogi sulendra mengatakan...

Terima kasih atas tanggapannya.. Iya, ceritanya memang sengaja saya bikin nanggung untuk membiarkan pembaca berimajinasi sendiri tentang ending yang mereka suka.. hehe

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...