Pages

Minggu, 14 Desember 2014

Resensi Novel The Pearl That Broke Its Shell By Nadia Hashimi

Judul: The Pearl That Broke Its Shell
Pengarang: Nadia Hashimi
ISBN: 978-0-06-224475-8
Penerbit: William Morrow
Bahasa: Inggris
Jumlah Halaman: 452













Sebutkan seorang penulis amerika keturunan timur tengah yang novel - novelnya sering mengangkat konflik - konflik yang terjadi ditimur tengah? Jika pertanyaan itu diberikan pada kalian saat ini, mungkin jawaban "Khaled Hosseini" akan langsung terlintas dipikiran kalian. Wajar saja, novel - novel karya Khaled Hosseini seperti The Kate Runner dan And the Mountains Echoed bukan saja sukses secara penjualan tetapi juga meraih berbagai macam award.  


Tetapi tahun ini telah lahir seorang penulis dengan latar belakang sama seperti Khaled Hosseini. Dengan novel debutnya berjudul The Pearl That Broke Its Shell, Nadia Hashimi mungkin akan menjadi salah satu penulis novel bertema timur tengah favorite kalian dalam beberapa tahun mendatang.

Sebagai penulis yang baru pertama kali melahirkan sebuah novel, tidak banyak informasi yang bisa ditemukan tentang Nadia Hashimi. Berbekal informasi singkat dari cover belakang novelnya, dapat kita ketahui bahwa dia adalah seorang warga amerika keturunan Afganistan. Orangtua nya pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1970an. Walaupun dengan keterbatasan informasi tentang penulisnya ini, novel ini berhasil memperoleh rating 4.1 di goodreads.com. Luarbiasa bukan?

The Pearl That Broke Its Shell mengangkat tema besar tentang ketidakadilan, penindasan, serta kesewenang - wenangan yang dialami oleh wanita Afganistan yang berlangsung berabad - abad. Dua tokoh utamanya, Rahima dan Shekiba yang masing - masing mewakili setting pada dua abad yang berbeda, Rahima pada abad 21 sedangkan Shekiba abad 20, namun permasalahan yang mereka adapi tetap sama. Pengekangan hak, keterbatasan gerak serta berbagai macam ketidakadilan lainnya tetap menjadi makanan harian mereka.

Apakah ada harapan ditengah budaya afganistan yang demikian? Ada, namun dengan ironinya sendiri. Bacha posh adalah sebuah tradisi kuno dalam masyarakan Afganistan yang mengizinkan seorang wanita untuk berpakaian dan berprilaku sebagai laki - laki sampai mereka menikah. Pada saat itulah Rahima dan Shekiba mendapatkan kehidupan baru mereka, dan merasakan apa itu yang disebut dengan kebebasan. Apakah itu berlangsung lama? Tidak, pada saat mereka harus menikah, mimpi buruk itu kembali terjadi.

Mungkin sudah banyak novel - novel yang mengangkat tema seperti ini, tapi tradisi Bacha Posh berhasil memberikan warna baru dalam novel ini. Tradisi tersebut bukan hanya menjadi tempelan pelengkap plot, tetapi adalah key dan motor yang mendasari kesuksesan novel ini. 

Tetapi ada beberapa hal yang disayangkan dalam novel ini. Salahkan satunya adalah cara Nadia Hashimi menceritakan kisahnya. Ada bagian yang harusnya di show tetapi dia tell. Sehingga mengurangi kenikmatan membaca bagi pembaca - pembaca yang lebih suka berimajinasi ketika membaca. Saya juga terganggu dengan kemampuan Nadia Hashimi dalam memilih kata, dan merangkainya. Mungkin tak adil jika harus dibandingkan dengan penulis sebesar Khaled Hosseini, tetapi he did much much better. Semoga novel - novel selanjutnya bisa lebih bagus. I can't wait for her next novel yang kabarnya bakalan dirilis juli 2015 dengan judul When the Moon is Low

Sekian :D


0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...