Pages

Sabtu, 26 April 2014

Cerpen "Tas Lusuh Bayu"


Tas ransel biru yang warnanya sudah memudar itu di letakkan Bayu perlahan di atas meja kayu kecil di tengah rumahnya. Penarik resleting tas yang berbenturan dengan triplek bekas yang dipungut ayah Bayu untuk dijadikan meja belajar anaknya itu, menimbulkan bunyi kas yang secara ajaib membuat seisi rumah menahan nafas. Mereka lalu serentak menggeser pantatnya ke depan, semakin mendekat ke arah Bayu.
Tas ransel tersebut agaknya memang sangat menarik perhatian seisi murah. Bagaimana tidak, saat Bayu keluar dari mobil sedan hitam yang mengantarnya pulang, keluarga bayu sudah bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang sangat berharga di dalam tas tersebut. Bayu tak menyandangnya di punggung selayaknya tas ransel biasa. Dia hanya meletakkan satu tali ke bahu sebelah kanan, dan tas itu dia dekap sangat erat dengan kedua tangannya di dada. Dia seolah tak mau ada yang merebut tas yang sudah hampir lima tahun bersamanya itu darinya. Dan ketika dia sampai di depan pintu rumah yang tak lebih luas dari pada ruangan kelas adiknya di SDN Cempaka Layu itu, seluruh anggota keluarganya sontak mengerubunginya.
“Apa isi tas itu Bayu?” saut Sari. Kakak tertuanya yang bulan depan akan menikah itu.
“Sabar kak, aku harus mengatur nafas dulu” saut bayu menyeringai.
Semua orang tanpa komando ikut-ikutan menarik nafas panjang, menahan hasrat mereka yang sudah menggebu – gebu untuk segera melihat isi tas yang sudah mereka tunggu sejak lima hari yang lalu itu.

***
Bu Susi mengaduk – ngaduk dedak dengan sebongkah nasi hampir basi yang dia dapat dari tetangga sebelah. Adonan kesukaan tiga ekor ayamnya itu, dia letakkan di sebuah panci bekas yang sudah digunakan untuk ayamnya dari generasi ke generasi. Saat menuangkan genggaman dedak terakhir ke dalam panci, bu Susi mendengar sebuah mobil memasuki halaman rumahnya yang berbatu – batu.
Bu Susi segera menuju kamar mandi kecilnya yang terletak disamping kandang ayam untuk mencuci tangan. Dia lalu bergegas menuju depan rumah untuk melihat siapa orang yang tersesat ke rumahnya. Terang saja, hampir tidak pernah ada mobil yang memasuki pekarangan rumah kayunya dan berhenti, kecuali mobil – mobil yang akan berbalik arah setelah sopirnya tersadar kalau dia memasuki jalan buntu.
Saat sampai di perkarangan, mata Bu Susi seperti hendak mau copot, dan bibirnya ternganga lebar melihat orang yang keluar dari mobil yang tampak sangat mewah di matanya itu. Bocah berseragam SMP yang baju putihnya semakin menguning itu adalah anak lelaki satu – satunya, Bayu. Jika dia tak salah lihat juga seseorang dengan baju kemeja abu - abu membukakan pintu mobil untuk Bayu, dan mempersilahkannya turun.
Bayu menyeringai lebar melihat ibunya yang sedang terpelongo. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke orang yang barusan membukakan pintu untuknya.
“Terima kasih pak sopir”
Lelaki yang umurnya hampir tiga kali umur bayu itu mengangguk kecil “Jangan lupa lima hari lagi saya jemput ya pak.”
Setelah mobil itu melaju meninggalkan mereka, dan bu Susi juga sudah sadar dari kagetnya, dia langsung mengintrograsi Bayu.
“Itu tadi mobil siapa?”
“Mobilnya pak Firman bu” Jawab Bayu polos.
“Pak Firman yang jualan gorengan di depan gang? ” Respon bu Susi tak percaya.
“Bukan Bu. Ini Pak Firmannya beda. Dia orang kota.” Bayu menjelaskan.
“Oh.. bapak yang tadi bukain pintu itu pak Firman?” Namun kemudian nada suara bu Susi meninggi setelah dia sadar dengan apa yang dia lihat beberapa menit yang lalu. “Kamu ya bay, tidak sopan sama orang tua. Sudah dibukain pintu, panggil kamu bapak lagi”
Belum sempat menjawab omelan ibunya, tiba – tiba Pak Tatang, Ayah Bayu muncul dari balik pintu, lengkap dengan satu pancingan yang dibuat seadanya dari kayu bekas, dan satu ember berisi 3 ekor ikan sungai ukuran sedang. Ikan – ikan yang sekali – kali masih mengelinjang itu akan menjadi uang untuk membeli beras untuk makan malam ini.
“Kenapa ini bu marah – marah?”
“Ini pak si Bayu tidak sopan sama orang tua” Bu Susi menjitak kepala Bayu. Satu kali.. Dua kali
“Bukan bu” Bayu buru – buru menjelaskan sambil mengusap – ngusap ubun – ubunya yang kesakitan “Yang tadi itu bukan Pak Firman bu. Itu Sopirnya. Begitulah orang kota bu, Sopir harus manggil bapak ke bos atau kenalan bos. Tadi Sopirnya pak Firman jelasin begitu, Bayu juga bingung sih bu.”
Tak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan istri dan anaknya, pak Tatang berjalan ke sudut kiri rumah dengan wajah kebingungan, kemudian melekakkan ember berisi ikan itu disana, lalu kembali bergabung dengan istri dan anaknya. Dia ikut – ikutan mengintrogasi Bayu.
“Ini kalian sedang ngomongin pak Firman yang jualan gorengankan?”
“Bukan yah...” jawab Bayu dan Bu Susi serentak.
Dahi ayah Bayu terlihat semakin berkerut
“ntar malam ya Bayu ceritain, Kak Sari dan Dea pasti mau dengar juga.” Dia tersenyum kecil.
***
Semua anggota keluarga Bayu sudah berkumpul di ruang tamu yang di malam hari jadi kamar tidur, dan yang di saat – saat tertentu jadi ruang makan keluarga itu. Cukup beralaskan tikar yang rajutannya sudah copot disana sini, keluarga ini makan bersama membentuk lingkaran. Namun kali ini bukan acara makan malam saja. Kak Sari, dan Dea, adik Bayu yang baru saja mendengar kalau Bayu pulang diantar dengan mobil mewah itu ikut – ikutan bersemangat seperti ayah dan ibu. Ditemani bau terasi yang menyeruak dari sepiring tumis kangkung ditengah mereka, Bayu melanjutkan ceritanya.
***
Bayu berjalan seorang diri melewati jalan setapak yang becek karna habis diguyur hujan tadi pagi. Puluhan pohon tinggi dengan daunnya yang lebat melindungi langkahnya dari terpahan sinar matahari di siang seterik ini. Ini adalah akses paling dekat untuk bayu dari sekolah ke rumah, atau sebaliknya. Setiap hari sekolah dia harus melewati jalanan di hutan ini dua kali sehari. Sebenarnya Bayu bisa melewati jalanan yang lebih bagus dan sudah di aspal lagi beberapa minggu yang lalu, tetapi itu memakan waktu tempuh hampir dua kali lipat dari jika dia melewati jalan di hutan ini.
Asyik memperhatikan langkahnya untuk menghindari genangan air di sepanjang jalan tersebut, tiba – tiba bayu mendengar suara dari kejauhan. Suara tersebut terdengar seperti suara orang yang kehabisan napas. Bayu melihat kesekeliling, tapi tak ada apa – apa yang terlihat. Bulu – bulu halus di pundak, dan tangannya mulai berdiri. Hal – hal serem yang diceritakan temannya tentang hutan ini mulai mengusik pikiran Bayu. Walau sudah berkali – kali lewat jalan ini, dan belum bertemu dengan gambaran – gambaran serem tersebut, namun Dia merasa sosok yang diceritakan tersebut akan menampakkan diri hari ini.
Bayu mempercepat langkahnya, namun baru beberapa meter, dia mendengar lagi suara yang terdengar semakin besar. Namun kali ini suara orang minta tolong. Terdengar parau dan berat. Dia mulai ragu, Hantu yang ceritakan temannya adalah seorang wanita muda yang sering ketawa dengan suaranya yang melengking tajam. Namun kali ini suara bapak – bapak.
Walau agak ragu, Bayu mencoba mendekat. Dia membalik badan, dan maju beberapa langkah melawan kakinya yang terasa berat. Sepertinya suara itu berasal dari pohon besar yang berjarak beberapa meter di depan pandangannya pikir Bayu. Dia terus berjalan pelan melewati rumput – rumput tinggi sambil sekali – kali memanjangkan lehernya ke arah depan untuk mencoba mengintip sosok di balik pohon tersebut. Tetapi dia belum melihat apa – apa. Suara minta tolong yang tadi terdengar juga sudah lenyap dimakan kesunyian hutan. Terganti dengan suara detak jantungnya yang semakin kencang. Bayu akhirnya memutuskan untuk kembali ke jalan setapak. Dia harus sampai di rumah sesegera mungkin pikirnya.
Namun langkahnya kembali terhenti ketika suara tersebut terdengar lagi, kali ini semakin kecil. Tanpa pikir panjang, Bayu berbalik arah ke pohon besar tersebut. Rasa takutnya dikalahkan oleh rasa penasaran. Dengan detak jantung yang semakin kacau, bayu akhirnya sampai di pohon tua yang memanggil – manggilnya itu. Dia melihat seorang pria dewasa seumuran ayahnya terkulai lemas di samping pohon. Pria itu memegangi dadanya yang kembang kempis. Suara tarikan nafas terdengar jelas di telinga Bayu. Dia berusaha sekuat tenaga menarik seluruh oksigen di sekitarnya, namun sepertinya tak ada yang berhasil. Selain itu wajah dan hampir seluruh tubuhnya bergelimang tanah. Sekilas dalam paniknya Bayu melihat beberapa goresan luka di tangan dan wajahnya.
Dia melihat kedatangan Bayu. Dia menggapai – gapai meminta tolong. Bayu lalu mendekat setelah memastikan bahwa pria itu benar – benar manusia.
“Kenapa pak? ada apa pak?” tanya Bayu panik.
Masih dengan tarikan nafasnya yang tak berirama, Pria itu mengangkat tangan, dan menunjuk-nunjuk ke arah atas pohon di depannya. Pohon itu termasuk berukuran kecil jika dibandingkan dengan pohon – pohon lain di hutan ini. Pohon tersebut terletak beberapa meter dari pohon besar yang Bayu amati tadi.  
Bayu lalu mengikuti arah yang ditunjuk oleh pria itu. Dia melihat sebuah tas hitam kecil tersangkut di salah satu dahan pohon itu. Dengan bakat alami yang dia dapat dari pergaulan di desanya, dia memanjat pohon itu dengan sigap, mengambil tas hitam tersebut, dan bergegas kembali ke samping pria yang semakin kehabisan nafas.
Dia langsung mengambil tas dari tangan Bayu, membuka resletingnya, dan mengeluarkan sebuah botol kecil dari sana. Terdapat sebuah corong kecil di ujung botol itu. Benda itu ditempelkannya ke hidung, dan dia  lalu menarik nafas sebanyak – banyaknya.
Selang beberapa menit, pria itu sudah kembali bisa bernafas dengan normal. “Terima kasih” katanya. Terdengar lega dihujung tarikan nafas pendeknya.
Bayu mengangguk sambil tersenyum kecil. Matanya sesekali melihat ke arah botol kecil yang dipegang pria bersuara berat itu.
“Siapa namamu?”
“Bayu pak” jawab Bayu.
“Saya Firman”
Bayu tersenyum kecil.
Setelah memasukan kembali botol kecil, Pak Firman lalu mengeluarkan hp dari dalam tas, dan terlihat menghubungi seseorang. “Pak, jemput saya sekarang ya.” Katanya pada seseorang di ujung telpon. Dia meminta Bayu untuk membantunya berdiri, dan memopongnya ke ujung jalan setapak yang tadi Bayu lewati. Mereka berbalik arah ke jalan beraspal di depan sekolah Bayu. Sesampai disana, sudah menunggu sebuah mobil sedan warna hitam. Sopir pak Firman langsung membantu Bayu memopongnya ke mobil.
“Bayu, kamu tinggal dimana?” tanya pak Firman dari dalam mobil.
Bayu melongok ke dalam mobil berkursi hitam mengkilap itu. Interior mobil langsung menarik perhatiannya. Matanya tertuju pada TV kecil di bawah spion dalam mobil. Dia bahkan tidak punya TV di rumah pikirnya.
“Disana pak, di balik hutan.” Tunjuk Bayu.
“Kalau begitu kamu ikut ke rumah saya dulu, nanti pak sopir yang antarin kamu ke rumah”
“gak usah pak, saya bisa jalan sendiri kok” jawabnya sambil sekali – kali plangak plongok ke dalam mobil. Dia memperhatikan setiap detail di dalamnya, hiasan yang di pasang di dashboard, Radio yang rangkanya memantualkan cahaya matahari yang melewati kaca jendela berfilm yang sedikit terbuka, dan karpet lembut yang diinjak sepatu kotor pak Firman. Tercium olehnya wewangian yang disemprotkan dari AC mobil di dekat pak Sopir.
“nggak apa – apa. Masih jauhkan ke dalam?”
Rasanya tak ada alasan yang tepat untuk Bayu menolak kesempatan langka ini. Dia menyetujui ajakan pak Firman, dan mobil itupun bergerak menjauhi sekolahnya. Mereka mengobrol di sepanjang perjalanan. Tentang sekolah Bayu, dan tentang pekerjaan pak Firman. Pak Firman mengatakan kalau dia adalah seorang dosen yang sedang mengadakan penelitian di hutan depan sekolah Bayu. Orolan mereka terhenti ketika mobil bergerak mendekat ke sebuah Villa sewaan di tepi jalan besar.
***
Mata Bayu menerawang mengamati ke seluruh sisi Villa. Villa ini memang tak terlalu jauh dari desanya. Setiap hendak pergi ke pasar dia selalu melewati Villa ini. Tetepi baru kali ini dia berkesempatan memasukinya. Kayu – kayu coklat mengkilat yang menopang villa ini menarik perhatiannya. Sangat kontras dengan susunan – susunan bambu tua yang membentuk rangka rumahnya. Lukisan – lukisan abstrak yang di tempel  di dinding tak kalah mencengangkan Bayu. Dia pernah melihat lukisan di buku pelajarannya, tapi itu melulu soal pemandangan, bunga – bunga, atau orang- orang penting, tak ada warna – warna tak beraturan seperti ini.
“Usia kamu berapa Bayu?” Tanya Pak Firman sambil menekan remote TV.
“Lima hari lagi, tiga belas tahun pak.”
“Oh, jadi kamu sebentar lagi ulang tahun.”
Sejak SD dulu, kata ulang tahun selalu menarik perhatian Bayu. Ada satu atau dua temannya yang merayakan, ikut – ikutan gaya orang kota pikirnya. Mereka biasanya mendapatkan hadiah spesial dari orang tuanya. Ntah itu buku buku tulis, pensil, atau yang paling bagus tas sekolah yang di beli di pasar impres. Untuk anak kampung seperti mereka itu sangat wah.
“Hmm.. Kalau gitu lima hari lagi kamu kesini. Saya kasih hadiah.”
***
“Kira – kira Bayu dikasih apa ya?” tanya bayu bersemangat pada keluarganya. Satu suapan sayur kangkung lagi masuk ke mulutnya.
“Temanku minggu lalu ulang tahun juga, dan dia dapat tas baru dari ibunya.” Jawab adik perempuan Bayu satu – satunya itu sambil mengingat – ngingat cerita Nina, teman SDnya yang cukup beruntung bisa merayakan ulang tahun.  
“Iya, mudah–mudahan dikasih tas ya sama pak Firman. Tas Bayu udah jelek banget.” Di melihat ke arah tas biru yang digantung di sudut rumah. Tak teritung sudah berapa kali ibunya harus menjahit ulang tas itu karena jaitannya sudah copot disana sini.
Ibu manggut – manggut sambil terus melahap nasi di piring plastiknya.
 “Kalau menurut kakak sih kamu juga bakalan dapat makanan enak Yu. Mungkin saja ayam goreng ala amerika yang tempo hari dibeliin bang Mamat di pinggir kota” Ucapnya. Pikirannya menerawang ke ayam goreng yang dibelikan calon suaminya dari penjaja makanan di trotoar tepi jalan beberapa hari yang lalu.
“Jadi sepertinya bakalan dapat tas, dan ayam goreng ya?” Bayu tersenyum membayangkan hari terspesial yang akan di hadapinya lima hari lagi itu.
***
Seluruh anggota keluarga bayu sudah berkumpul di tengah rumah. Seluruh mata mereka terpampang ke satu arah, ke arah Bayu. Tas yang bayu pegang di tangannya masih sebesar sebelum dia pergi ke penginapan pak Firman. Tak ada tanda – tanda kalau tas itu berisi gulungan tas baru, dan se kotak ayam goreng. Setelah menyadari itu, Dea dan Kak Sari mulai kurang bersemangat. Tetapi ibu dan ayah hanya diam, sambil memperhatikan tas lusuh bayu dengan sangat fokus. Mereka lalu menarik nafas lega berbarengan.
“Oke Bayu bukanya” senyum menyeringai kembali tampak dimukanya. Dia seperti paham dengan ketidaksabaran keluarganya. Bayu mulai menarik resleting tas, namun tiba – tiba.
“Assalammualaikum....” pak RT muncul dari balik Pintu.
“Sedang apa ini? Bayu mau sulap ya?” Bayu memang terlihat seperti akan mengeluarkan merpati, atau gulangan – gulangan kertas warna warni dari tasnya. Keluarganya tak ubahnya penonton penasaran yang menantikan – nantikan aksi spektakuler Bayu.
“Ini pak RT, kak Bayu dapat hadiah ulang tahun.” Jawab Dea
 “Dari Pak Firman. Bukan Pak Firman yang jualan gorengan loh. Dia orang kaya dari kota.” Dea buru – buru menjelaskan sebelum pak RT kebingungan..
Pak RT yang sukses dengan tambak ikannya itu ikut – ikutan penasaran, dan mulai memperhatikan tas di tangan Bayu dengan seksama. Matanya menatap fokus ke dalam tas.
“Kalau menurut saya sih uang. Biasaya orang dari kota gitu kalau ngasih orang kampung. Lebih gampangkan ngasih uang dari pada capek – capek ngasih hadiah. Lebih bermanfaat juga” tebak pak RT dengan yakinnya,
Bayu menggeleng
“Oh, padahal kan mending uang” Matanya mulai bergeleria  mengamati seisi rumah. Tikar yang didudukinya hanyalah tikar usang yang semakin pudar yang dibentangkan diatas lantai semen yang tak di cor. Tak ada juga barang elektronik yang bercokol di rumah ini. Uang lebih dibutuhkan disini pikirnya.
“Oke deh, Bayu buka sekarang.” Bayu menarik resletingnya cepat, agar keluarganya tak keburu mati penasaran.
Tangannya mulai masuk ke dalam tas, dan ditariknya sebuah amplop besar dari tas tersebut. Bayu membuka amplop itu, dari dalam amplop muncul selembar kertas putih. Dia membuka lembaran kertas itu.
“Surat?” tanya adik kaget.
“Dengan ini saya akan membayar seluruh biaya dan kebutuhan sekolah Bayu sampai kuliah S1” Bayu membacakan surat itu untuk keluarganya.
Ibu dan Ayah hanya terpelongo mendengar apa yang dibacakan Bayu, dan kemudian serentak mereka tersenyum, dan menghembuskan nafas panjang untuk yang kesekiankalinya. Kakak dan adek seakan tak berdaya hanya untuk mengatup bibir mereka.
Bayu senyum – senyum girang melihat respon keluarganya.
“Padahal kan mending uang” Ulang pak RT.
***
Dua hari yang lalu
Setelah bermain sepakbola di lapangan tengah kampung dengan teman – teman Bayu bergegas kembali kerumah. Setengah jam lagi dia harus melaksanakan tugas dari guru ngajinya, azan Maghrib. Dia harus bergegas mandi, dan bergerak ke musholla.
Dia berjalan cepat menghampiri pintu rumah, namun langkahnya terhenti setelah mendengar suara Ayah.
“Ayah nggak yakin bisa membiayai sekolah bayu sampai tamat bu” ungkap ayah.
“Ibu juga nggak yakin yah.” Ucap ibu parau.
“Kalau tau – tau Bayu harus putus sekolah, tas yang dari pak Firman nanti buat apa ya yah?”
“Jangan pikirkan itu dulu bu, kan belum tentu dapat tas juga.” Ucap ayah menenangkan.
Mendengar kerisauan orang tuanya, tanpa sadar air mata menetes dari pipi Bayu. Dia memutar badan, dan berjalan ke belakang rumah, menuju kamar mandinya. Setelah itu dia bergegas menuju Musholla untuk melantunkan azan Maghrib.
Seusai sholat, bayu berdo’a “Ya Allah, jangan beri Bayu tas baru”
***

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...