Pages

Rabu, 05 Juni 2013

Cerbung "A Perfect Ending for Daddy" Tamat

              Buk Maya menghardikku.
            Aku kaget. Dia benar – benar terlihat murka. Matanya memerah menatap tajam kearahku. Dengan sigap aku segera menjauh dari tatapan yang seperti hendak memakan itu. Aku memandang saja ke arah keningnya, yang penting mata seram itu bisa ku lewatkan. “Aku benar – benar ingin pulang buk.” Ucapku mulai membela diri. “Aku benar – benar ingin bertemu mereka, terutama papa yang sedang sakit. Tapi… segini saja akhir perjuanganku?”

            “Lupakan dulu semuanya, pikirkan nanti. Pasti akan ada jalan keluar. Sekarang papamu butuh kamu disana.” Sauranya makin meninggi.
            “Pulang, itu berarti sama saja aku menyerahkan nasibku kearah yang aku tak pernah mau” kataku mempertahankan diri.
            Aku lalu memutar kepala, menatap ke arah Reza yang sedang duduk tenang, tanpa memperhatikan aku dan Buk Maya. “Eh.. Za, lu seriuskan? Jangan- jangan itu akal-akalan lu yang sekongkol dengan orangtua gue agar gue mau pulang sekarang.” Aku mulai mencurigainya.
            “Ya Allah… gue serius” kata Reza reflek. Dia memutar kepalanya kearahku. Sorot matanya pasti. Dia bahkan tak berusaha menjauh dari tatapanku. Berarti dia serius. Ucap batinku.
            “Ibuk nggak mau menerima kamu lagi kos disini. Semua sisa uang kos kamu, akan ibuk kembalikan. Kalau perlu semuanya.” Buk Baya kembali bersuara, namun kali ini dengan nada yang lebih rendah. “Pulanglah sekarang juga, jika kamu masih peduli dengan mereka. Soal cita-cita kamu itu, ibuk pribadi masih setuju dengan pilihan kamu. Tapi untuk kebaikan bersama, kamu bisa melakukan seperti yang ibuk sarankan sebelumnya, jalankan keduanya, yang kamu mau dan orangtua kamu mau. Mudah-mudahan mereka mengerti.” Buk Maya lalu beranjak dari kursinya, dan berjalan pelan menuju dapur. Namun setelah beberapa langkah, dia kembali bersuara. “Jika kamu tidak bisa membuat orangtuamu bangga, cukup dengan tidak membuat mereka kecewa”
            Sekali lagi aku tertampar dengan kata-kata buk Maya. Kali ini tamparan itu lebih dahsyat dari sebelumnya. Aku diam saja, namun tiba-tiba kaki ku bergerak tanpa ku suruh, menuju kamar kos ku. Mengumpulkan beberapa helai pakaian yang aku tumpuk disudut kamar, dan menjajalnya semauku didalam tasku yang terlihat semakin menggembung. Beberapa menit kemudian, aku tersadar sudah berada diatas motor Reza yang dibawanya dengan kecepatan lumayan tinggi. Mungkin aku harus sedikit menahan egoku.
***
            Papa membuka matanya. Aku sedang duduk menunduk disudut kanan ruangan perawatan ketika mama memberi tanda padaku untuk segera bangkit dan menghampiri kasur tempat papa sedang berbaring. Aku bangkit, dan berjalan cepat kesisi kanan papa. Dia menolehkan kepalanya padaku, lalu tersenyum. Aku bisa melihat senyum itu dari balik alat bantu pernafasan yang terpasang disekitar mulut dan hidungnya. Aku tak berbicara, tepatnya belum menemukan kata yang tepat untuk ku ucapkan.
            Dokter muda yang menangani papa menyuruh salah seorang perawat untuk menyuntikkan beberapa dosis obat penenang. Papa lalu terlelap lagi untuk memulihkan kondisinya setelah koma selama dua hari itu. Disaat itulah aku kembali mendesak mama untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Penyakit apa yang membuat papa begitu. Setelah sampai kerumah sakit tadi, mama belum mau memberitahuku.
            “Ok..” jawab mama padaku. Dia lalu menghampiriku. “Papa kena tumor diotaknya. Kami baru tau beberapa bulan yang lalu.” ucapnya bergetar.
            Aku tersentak mendengar itu. Selama itu mereka belum pernah bercerita padaku tentang kondisi ini. Papa juga tidak pernah mengeluh padaku tentang kesakitan yang sedang dia rasakan. “Kenapa papa dan mama nggak cerita sebelumnya?” ucapku.
            “Kami belum mau membebani pikiranmu.”
            “Tapi kan aku juga harus tau. Kalau aku tau, mungkin adi nggak akan kabur dari rumah seperti ini ma” aku mulai merasa kalau kondisi papa yang semakin memburuk ini karena perbuatanku.
            Mama tak menjawab. Aku pikir itu semacam tanda persetujuan dari mama kalau aku yang membuat papa koma. Mama bangkit lalu berjalan ke arah papa. Dia melihat ke arah wajah papa yang sedang tertidur pulas karena obat penenang. Mama lalu berbalik badan, dan kembali menghampiri ku di sofa.
            “Soal masuk kepolisian” mama mulai berbicara lagi. “Kami-“
            “Adi sudah memilih ma.” Aku memotong perkataan mama. Aku paham kemana arah pembicaraan ini. “Ok, Adi nggak jadi kuliah. Adi akan jadi polisi seperti yang papa inginkan.”
            “Bukan begitu, dengarkan dulu mama cerita.” Mama seperti terdiam sebentar dan mulai melanjutkan perkataannya. “Dua hari setelah kamu kabur dari rumah, papa sudah setuju dengan pilihan kamu. Kami akan mendukung kamu kuliah di jurusan yang kamu pilih. Kamu nggak harus jadi polisi Di”
            “Tapi ma, bukan begitukan yang papa inginkan?” tanyaku.
            “Dia sudah memilih, dan itu keputusan papamu.”
            “Kalau Adi boleh menebak-nebak ma. Adi yakin papa takut tidak akan sempat melihat Adi sukses, jika adi memilih kuliah. Begitu kan?” Aku memberanikan diri berspekulasi.
            Mama tak menjawab. Aku anggap itu sekali lagi berupa sebuah persetujuan.
            “Adi sangat berharap papa bisa sembuh, dan melihat Adi sukses dengan pilihan Adi. Tapi Adi nggak mau menyesal dengan apa yang Adi pilih ma. Bukannya Adi pesimis dengan kondisi papa, tapi ini pilihan terbaik untuk semua. Adi….. akan masuk kepolisian minggu depan.” Berat memang menahan ego sendiri. Tapi aku tak punya pilihan lagi. Kali ini bukan soal memenuhi keinginan papa, tapi aku ingin melihat papa tersenyum sebelum dia akhirnya menyerah dengan kondisinya.
            “Jika itu memang keputusan kamu” mama menahan ucapannya. Airmatanya mulai menetes. “Terimakasih”
            Memang aku memilih menjadi polisi untuk membahagiakan papa. Tapi aku tak akan melupakan cita-cita besarku yang satu itu. Apapun yang terjadi dengan karir ku kedepan, aku tetap akan jadi penulis. Harus.
***
            Dua tahun kemudian…..
            Aku mengintip dari backstage ke arah ratusan penonton yang sudah duduk rapi memenuhi studio program talk show Kick Andy. Terlihat papa dan mama sudah duduk bersiap dibangku penonton paling depan. Tampak senyum puas, bahagia, dan bangga tersungging di pipi mereka. Terutama papa, walau dengan kondisi kesehatanya yang masih buruk, tampak tak ada beban baginya kali ini. Papa terlihat lebih muda dengan setelan jas dan celana hitam yang dia kenakan. Mama tak kalah menawan dengan gaun birunya.
            Aku lalu mengalingkan pandangan ke arah panggung, tepatnya ke arah sofa hitam yang disusun di samping kanan panggung yang tidak terlalu besar itu. Pembawa acara, Andy F. Noya tengah bersiap memulai aksinya malam ini. Dia tengah sibuk membolak-balik kertas yang mungkin saja berisi daftar pertanyaan yang harus dia tanyakan padaku dan beberapa orang lain yang juga diundang.
            Lima menit kemudian acarapun di mulai. Mas Andy lalu memanggilku. Aku muncul dari arah backstage menuju tengah panggung. Aku berjalan tegak layaknya seorang polisi muda, lengkap dengan setelan coklat kas kepolisian. Ratusan penonton bertepuk tangan menyambut kedatanganku. Tak terkecuali papa dan mama yang tampak sangat bangga. Aku melihat ke arah mereka, lalu tersenyum, dan mulai menyalami pembawa acara.
            Aku dipersilahkan duduk.
            “Ini sangat langka ya.” Mas Andy memulai aksinya. “Seorang anggota kepolisian, masih muda pula, tapi merangkap jadi penulis novel. Tak tanggung- tanggung juga, novelnya ini jadi nasional best seller. Bagaimana ini ceritanya, kenapa bisa nyasar jadi penulis?”
            Ya, aku diundang ke acara ini bukan sebagai anggota kepolisian yang akan menceritakan duduk masalah sebuah kasus hukum, juga bukan sebagai duta untuk mengajak masyarakat menahati aturan. Tapi aku diundang sebagai anggota kepolisian yang menjadi penulis.
            “Sebenarnya saya lebih dulu suka menulis sebelum menjadi polisi. Mungkin lebih tepatnya, penulis yang nyasar jadi polisi.” Kata-kataku disambut gelak tawa penonton.
            “Oh.. jadi sudah menulis jauh – jauh hari sebelum jadi polisi?” Mas Andy terlihat tidak percaya.
            “Iya.”
            “Ok.. saya ganti pertanyaannya.. mengapa bisa nyasar jadi polisi?”
            “Kalau boleh jujur.” Aku menahan perkataan ku sebentar. Lalu menoleh kepada papa. Dia tersenyum, lalu mengangguk. Papa sepertinya paham maksudku. Aku ingin minta izin. “Awalnya saya masuk kepolisian demi papa. Sebelum memutuskan jadi polisi, saya sebenarnya ingin kuliah dulu. Tapi setelah menjalani dua tahun ini, saya sadar kalau pilihan saya dulu untuk jadi polisi, sangat tepat.”
            “Awalnya karna orangtua, tetapi akhirnya menikmati pilihan jadi polis itu. Sangat menarik. Ok, kita kembali ke topic menulis. Mulai menulis sejak kapan?”
            “Saya sebenarnya mulai menulis sejak SMP. Tapi itu masih jadi koleksi pribadi saja, belum ada yang baca.” Jawabku.
            “Oke.. sekarang kita bahas perihal novel Because yang fenomenal ini. Kapan anda mulai menulisnya?”
            “Sekitar seminggu setelah saya menyelesaikan pendidikan di akademi kepolisian.”
            “Oh, saya pikir novel ini sudah anda tulis jauh – jauh hari.”
            “Tidak, saya punya ide menulis novel ini malah pada saat hari kedua di akedemi kepolisian. Dalam jadwal pelatihan yang padat, saya sempatkan menyusun konflik dan karakternya disana. Setelah punya waktu untuk menulis, baru akhirnya saya tulis novel ini. Alhamdulillah dua bulan selesai.” Terangku. Tepuk tangan penontonpun menggelora diruangan studio ini.
            “Novel ini lumayan tebal loh.”
            “Iya, rasanya ide itu mengalir begitu saja saat saya tulis.”
            “Apa novel ini terinsprirasi dari kisah nyata?”
            “Cuma tema besarnya yang terinspirasi dari seseorang yang baru saya kenal. Tepatnya yang saya jadikan karakter utama. Selebihnya saya karang sendiri.”
            “Siapa dia?”
            “Hmm… Saya pernah kabur dari rumah, dua minggu sebelum mendaftar dikepolisian. Karena saya ingin kuliah. Saya kos disebuah rumah. Karakter utamanya itu adalah ibu kos saya. Saya tidak enak menyebut namanya. Saya belum minta izin ke dia sebelum acara ini. Saya sudah kerumahnya tapi kata teman-temannya dia sudah pindah.”
            “Kenapa harus minta izin? Pasti dia bangga karna bisa menjadi sumber inspirasi anda.”
            Aku hanya tersenyum. Tak menjawab.
            “Ok, saya tebak ya. Apa namanya buk Maya?”
            Aku kaget. Lalu mengangguk saja untuk mengiyakan. Namun tiba – tiba seseorang yang ku kenal muncul dari belakang panggung. Itu buk Maya dengan jilbab putih dan baju gamisnya.
            Aku menyalami dan memeluk buk Maya. Aku terakhir bertemu dia delapan bulan yang lalu, satu hari setelah dapat email dari pihak penerbit kalau novelku akan diterbitkan. Setelah itu, aku semakin punya banyak kesibukan, tak sempat lagi menemuinya. Buk Maya tampak berbeda sekarang, bukan saja karna jilbabnya, tapi dia tampak lebih ceria dan tenang. Cukup beberapa detik saja, aku sudah bisa merasakan perubahan drastis yang terjadi padanya itu.
            Mas Andy melanjutkan pertanyaannya. “Buk Maya, bagaimana pendapat ibuk tentang Adi yang sekarang sudah jadi polisi dan penulis?”
            “Saya sangat bangga.” Buk Maya mengusap airmatanya, lalu melanjutkan kata-katanya. “Adi bisa memenuhi cita-cita orangtuanya, dan cita-cita dia sendiri.”
            “Apa ibuk menyangka akan dijadikan karakter utama oleh Adi di novelnya?”
            “Tentu saja tidak. Apalah saya ini, cuma mantan ibu kosnya dengan masa lalu yang pahit.”
            “Yang pahit bagaimana?”
            Aku mulai cemas kalau buk Maya akan menceritakan masa lalunya yang kelam itu. Novelku memang terinspirasi dari buk Maya, tapi ceritanya aku bikin sangat berbeda, agar cerita itu tidak berdampak buruk bagi buk Maya, dan keluarganya, terutama anaknya. Aku langsung memotong sebelum buk Maya sempat menjawab. “Kisah dinovel itu kan cukup pahit mas. Bagaimana seorang ibuk-ibuk harus melakukan sesuatu demi anaknya.”
            “Oh.. iya. Itu salah satu konflik paling saya suka di novel itu. Sangat luarbiasa menginspirasi. Ok, kita akan kembali setelah yang lewat berikut ini.”
            Pada saat commercial break, aku akhirnya punya kesempatan bertanya pada buk Maya. “Ibuk tinggal dimana sekarang?”
            “Ibuk sudah kembali ke cilacap, Alhamdulillah sudah dapat pekerjaan yang lebih bagus” jawabnya.
            “Syukurlah” jawabku sambil tersenyum. “Jadi ibuk sekarang bisa dekat dengan anak ibuk.”
            “Iya. Dan… sekarang dia sudah tau kalau saya ibu kandungnya.”
            Aku benar – benar senang mendengar kabar itu. “Dimana dia sekarang?”
            “Itu, dibangku barisan ketiga.” Buk Maya melambai pada anaknya. Abdul membalas, lalu tersenyum bangga pada kami.
***
             Papa tersenyum sangat lebar saat itu. Senyum yang sama yang ku lihat dihari pertama aku mengenakan baju coklat polisi didepannya. Dengan ekspresi yang sama pula, sesekali matanya berkaca-kaca. Saat mas Andy bertanya pada kedua orangtauku tentang kehidupan ku, papa terlihat paling bersemangat, itu bukan sekedar pujian, lebih tepatnya sanjungan.
Wajah sedamai itu, senyum selebar itu, mata berkaca-kaca itu, yang dia tunggu. Aku mewujudkan impiannya melihat ku menjadi polisi. Dan dia dengan ikhlas menantiku mewujudkan mimpi ku sendiri. Ketika kedua angan itu aku genggam untuk kami, maka ketika itulah papa bisa pergi dengan jiwanya tenang.
            Satu minggu setelah itu, papa tak pernah bangun lagi. Dia meninggalkan kami dalam senyumnya. Kami melepasnya dalam haru. Semua terasa sempurna untuknya. Aku beruntung sempat menjadi orang yang melukiskan senyum diwajah papa. 

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...