Pages

Sabtu, 25 Mei 2013

Resensi Novel Rantau 1 Muara - Ahmad Fuadi

Bertualang sejauh mata memandang, mengayuh sejauh lautan terbentang, dan berguru sejauh alam terkembang


Judul: Rantau 1 Muara
Pengarang: Ahmad Fuadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman: x + 407
ISBN: 978-979-22-9473-6


       Memiliki pendidikan yang bagus, dan pengalaman yang banyak ternyata tidak menjamin kelancaran seseorang untuk mendapatkan pekerjaan. Setidaknya begitulah yang dihadapi oleh Alif Fikri pada awal – awal kisah hidupnya setelah diwisuda di Unpad, dalam novel ketiga trilogi Negeri 5 Menara ini. Alif ternyata harus menerima kenyataan diwisuda pada saat yang tidak tepat. Pekerjaannya sebagai penulis tetap yang awalnya bisa menopang kehidupan dia dan keluarganya dikampung ternyata tak berlangsung lama. Tahun 1998 dalam keadaan politik dan ekonomi yang semakin tidak menentu, Alif harus berjuang cukup keras untuk akhirnya bisa diterima menjadi kuli tinta dimajalah lokal dengan bayaran pas-pasan.
      Seperti novel sebelumnya, Novel Rantau 1 Muara yang judulnya seakan mengikuti pola dari awal ini menitikberatkan kisahnya pada perjuangan hidup untuk cinta dan cita – cita. Dimajalah tempat dia bekerjalah, akhirnya Alif bisa menemukan sosok pengganti Raisa yang sudah menjadi istri sahabatnya sendiri, Randai. Gadis itu adalah Dinara, salah satu wartawan ditempat Alif bekerja. Namun kembali Alif harus mengalami pergolakan batin dalam mengartikan kedekatannya dengan gadis yang juga keturunan minang itu. Hingga akhirnya mereka harus berpisah karena Alif mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya ke Amerika, Alif masih belum bisa membaca tanda-tanda yang diperlihatkan Dinara.
       Mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 ke Amerika juga bukan tanpa kendala. Walau dengan segudang prestasi dan pengalaman dalam mendapatkan beasiswa-beasiswa sebelumnya, tak mudah bagi Alif untuk mendapatkan. Dia harus merasakan penolakan berkali-kali. Namun itu tentu saja tidak mematahkan semangatnya untuk mencapai apa yang dia mau. Juga dalam semangat memenangkan persaingannya dengan Randai sebagai orang pertama yang mendapatkan gelar S2 diantara mereka, Alif terus berusaha. Dengan bantuan sahabat-sahabatnya, termaksud Dinara, dia sukses mendapatkan apa yang dia mau.
     Perjuangan mendapatkan cinta sejati dari Dinara tak berhenti sampai disitu. Walaupun sudah jauh terpisah, Alif dan Dinara tetap berkomunikasi. Hingga akhirnya Alif memiliki keberanian untuk menyampaikan niatnya untuk mempersunting gadis keturunan minang yang dia taksir itu. Mendapatkan jawaban iya dari Dinara memang cukup mudah, tapi mendapatkan persetujuan dari Ayah Dinara harus membutuhkan usaha yang besar. Namun akhirnya mereka menikah dan melanjutkan kehidupan mereka berdua di Amerika.
       Hidup di Amerika membawa Alif akhirnya memiliki sahabat-sahabat baru setanah air, salah satunya Mas Garuda yang sudah menganggapnya adik sendiri. Namun peristiwa paling memilikukan yang mengancurkan gedung WTC pada tanggal 11 September 2001 membuat Alif harus kehilangan orang yang sudah dia anggap abangnya ini. Cukup lama Alif larut dalam kesedihan.
        Tamat S2 di Amerika tentu saja membawa nasib baik bagi Alif. Dia dan Dinara diterima bekerja pada sebuah Koran Amerika. Ini akhirnya mengubah kehidupan mereka secara ekonomi. Kesenangan hidup di Amerika membuat Alif awalnya tak berpikir untuk kembali ketanah airnya, Indonesia. Dengan desakan dari Dinara, dan meresapi kata – kata dari orang-orang terdekatnya, akhirnya Alif memutuskan untuk meninggalkan segala kesenangan itu dan melanjutkan hidup baru di Indonesia. Itulah makna dari judul Rantau 1 Muara itu sendiri, yaitu sejauh apapun merantau, pada akhirnya harus kembali lagi ke tanah air, Indonesia.
    Seperti novel- novel sebelumnya, dalam novel ketiga ini, Fuadi juga menyelipkan mantra-mantra dahsyatnya dalam mencapai cita-cita. Seperti di novel Negeri 5 Menara yang terkenal dengan “Man Jadda Wajada” – Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil atau di Novel Ranah 3 Warna dengan “Man Shabara Zhafira" – Siapa yang bersabar akan beruntung, dan novel ini memperkenalkan mantra baru “Man Saara Ala Darbi Washala” – Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan. Mantra – mantra yang Fuadi perkenalkan di novel-novelnya ini sangat inspiratif dan menjadi nilai plus dikarya – karyanya.
       Konflik demi konflik dalam novel karya Ahmad Fuadi ini disampaikan dalam alur yang cepat, terutama dibagian awal dan akhir. Pembaca tidak akan cepat bosan ketika membaca novel ini karena selalu ada konflik baru yang akan ditemukan setelah membaca beberapa halaman saja.
       Latar belakang Fuadi yang merupakan seorang wartawan membuat cerita ini diceritakan dengan narasi yang jelas yang tidak membosankan atau membingungkan pembaca. Namun cerita ini sendiri tergolong agak mirip dengan novel sebelumnya, Ranah 3 Warna. Bagian awal merupakan kisah dan perjuangan di Indonesia, serta bagian akhir merupakan kisah di Luar negeri.  Temanya pun tergolong mirip yaitu cita-cita dan cinta. Hal ini membuat pembaca pada akhirnya, jadi semakin mudah menebak – nebak konflik demi konflik. Selain itu, jika harus membandingkan kedua novel yang berstruktur agak sama ini, saya lebih suka Ranah 3 Warna karena Rantau 1 Maura jadi terkesan “sama saja” dengan sebelumnya. Namun terlepas dari struktur plotnya yang tergolong mirip, suasana orde baru di awal- awal kisah membuat novel ini menjadi cukup istimewa. Suasana Amerika yang digambarkan dengan pas juga membuat kesan “sama saja” tersebut jadi sedikit memudar.
       Kesenangan hidup yang ditawarkan Amerika pada Alif menjadi konflik yang cukup menarik. Bagaimana seseorang anak bangsa bisa larut dengan apa yang negeri orang berikan padanya, sehingga membuat dia lupa segala hal, termaksud keluarga dan tanah airnya sendiri. Proses-proses yang membuat dia akhirnya sadar cukup menarik dan beralasan logis, akan tetapi proses – proses itu terkesan dibiarkan menumpuk satu sama lain dibagian akhir novel, mulai dari mendengar cerita teman – temannya, dan berdiskusi dengan salah satu ustad di KBRI. Kesannya semua orang itu disengaja ditugaskan secara massive dan sekaligus bersama-sama untuk merubah pikirannya. Saya pribadi lebih suka konflik besar seperti itu diselesaikan dengan proses demi proses yang berjarak.
     Selain itu, ada beberapa bahasa asing dan daerah yang tidak diterjemahkan. Tentu saja tidak semua pembaca paham bahasa inggris dan bahasa minang atau bahasa daerah lainnya. Dari cetakan pertama yang saya dapatkan ini, dibeberapa halaman bahasa inggris, dan bahasa daerah ada yang tidak diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Saya mungkin bisa mengerti kedua bahasa tersebut, tapi tidak semua pembaca memahaminya.
       Saya punya sedikit kritik untuk cover novel ini. Angka satu dalam judul Rantau 1 Muara dibuat seperti arus air. Latar belakang cover yang berupa lautan atau sungai dengan perahu dibagian bawah, bisa saja membuat pembaca yang tidak tau menganggap angka satu itu tidak ada karena dikira cuma sebuah arus air. Sepupu saya mengalami kejadian ini, dia menganggap judul novel ini Hanya Rantau Muara.
     Demikian dulu resensi novel Rantau 1 Muara dari A. Fuadi. Semoga bisa menjadi bahan rujukan untuk pembaca pecinta karya sastra Indonesia. Semoga review ini bisa memberikan sedikit kontribusi pada kemajuan sastra Indonesia. Jika teman – teman memiliki pandangan lain, dan ingin berdiskusi, saya sangat mengharapkannya untuk perbaikan resensi-resensi novel saya kedepannya. Terimakasih!

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Resensinya bagus..layak nih diikutkan lomba resensi Kompasiana.com: "Ikuti Lomba Resensi dan Peluncuran Novel “Rantau 1 Muara”

yogi sulendra mengatakan...

@anonim: Terimakasih atas informasinya :D

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...