Pages

Rabu, 15 Mei 2013

Cerbung "A Perfect Ending for Daddy" Part 3

            “Maaf buk..” ucapku parau.
            “Minta maaf ke orang tua mu, jangan ke ibuk” Katanya.
Sekujur tubuhku mendingin mendengar kata – kata itu keluar dari seseorang yang menghabiskan hidupnya ditempat ini. Aku tak sanggup menjawab, kata – kata itu lebih dari sekedar tamparan bagiku. Kata – kata itu lebih menyakitkan dari sekedar rajam.
“Lingkungan seperti ini bagai lumpur penghisap. Hitam pekat, dan jika kamu terpeleset kedalamnya maka akan sulit untuk keluar. Baik sebagai pelaku ataupun penikmat, sama – sama sulitnya. Ibuk sudah merasakan itu. Jangan coba-coba Di.”
“Iya buk” Aku terus menunduk memandang kaki kotorku yang telah membawaku kebilik itu.
“Kamu juga masih terlalu kecil untuk terpeleset dalam lumpur ini. Ibuk sudah berjanji pada diri ibuk sendiri tak akan pernah membiarkan anak seusia kamu mencoba hal – hal seperti ini. Kamu ibuk biarkan kos disini, agar ibuk bisa mencegah. Ibuk tau masih ada beberapa tempat dekat sini yang masih kosong, dan pemilik kos itu tak akan peduli dengan ini Di. Makanya ibuk terima kamu. Jadi jangan coba – coba lagi kesana.”
Aku menggangguk sambil tetap berusaha keras menjaga agar mataku tetap menganga. Aku tak mau airmata ku yang sudah menumpuk itu menetes. Aku yakin dia melihat anggukkanku.
“Melihat anak seusia kamu, ibuk langsung teringat anak ibuk dikampung Di…. di Cilacap” dia melanjutkan. “Dia sekarang juga sedang siap – siap untuk ikut tes kuliah. Dia mau kuliah di Bandung kabarnya.” Suaranya memarau. Aku menoleh kearahnya. Dari cahaya redup lampu didepan kamarku, aku melihat dia mengusap matanya yang mulai berair.
Buk Maya pasti rindu dengan anaknya. “Sudah berapa lama ibuk tak ketemu dia?” aku memberanikan diri bertanya.
“Sekitar dua tahun yang lalu. Udah lama sekali kan?” katanya dengan suara yang masih agak parau.
Aku mengangguk. “Dia pasti juga kangen sama ibuk. Kenapa nggak pulang ke Cilacap?”
Dia tak bersuara sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu kembali mengarahkan tatapannya padaku. “Dia tak akan kangen sama ibuk. Ibuk cuma teman mama baginya.” Dia tersenyum. Bukan senyum ikhlas. Batinku yakin senyum itu amat dipaksakan.
“Maksud ibuk?” aku mencoba tidak mempercayai apa yang ku simpulkan.
“Ya, seperti yang kamu pasti pikirkan. Dia nggak tau kalau saya ibu kandungnya.”
Aku tak tau harus merespon apa. Ini terlalu menggagetkan, dan amat rumit bagiku. Seketika itu juga pikiran tentang orang tuaku langsung muncul. Betapa beruntungnya aku masih mengenal orangtua kandungku, dan dibesarkan dengan kasih sayang oleh mereka sendiri. Aku punya kesempatan untuk memanggil mereka papa, dan mama. Tidak seperti yang dialami anak buk Maya itu.
“Pulanglah, orangtua mu pasti kangen Di.” Ucap buk maya ditengah lamunanku.
Aku menggeleng. “Belum saatnya buk. SPMB tinggal 2 minggu lagi. Aku masih harus disini.”
“Mungkin saja mereka sudah berubah pikiran”
“Hidup belasan tahun bersama papa, aku paham bagaimana dia buk. Papaku belum pernah sekalipun menarik ucapannya. Adi mau kuliah. Mungkin ini pilihan terbaik agar Adi bisa kuliah buk” aku masih mencoba menahan genangan airmataku agar tidak keluar. Aku harus terlihat sekuat mungkin, sehingga buk Maya bisa berhenti mendesakku karna melihat keyakinan niatku ini.
“Yakinlah, apapun yang diputuskan orangtua mu, itu yang mereka yakini terbaik untukmu. Bukan untuk membebanimu. Mereka pasti sudah mempertimbangkan semuanya Di.”
“Tapi buk, seorang anak punya hak untuk memilih buk”
“Iya, itu benar. Tapi coba kamu bayangkan, jika saja saat anak ibuk berusia 2 tahun, ibuk tidak putuskan untuk menitipkannya dengan adik ibuk. Jadi apa dia disini sekarang? Mau kuliah? Tamat SMA saja ibuk nggak yakin dia bisa lalui di lingkungan seperti ini. Kamu sudah lihatkan bagaimana anak-anak muda disini hidup? Ibuk yakin keputusan yang ibuk buat belasan tahun yang lalu adalah yang terbaik. Begitu juga kamu kelak akan menyadarinya Di.”
Aku tak menjawab.
            “Lagian hidup disini tidak baik bagimu. Baru beberapa hari saja, kamu sudah keliru, bagaimana nanti? Pulanglah. Pikirkan semua ini baik – baik, bukan hanya tentang dirimu saja, tapi juga perasaan orang tuamu.” Buk Maya menepuk bahuku, lalu berjalan ke arah pintu, dan masuk ke dalam rumah. Tiba – tiba saja airmataku menetes tanpa bisa ditahan lagi. Aku mulai terisak – isak, semakin keras.
***
            Semalaman aku bergulat dengan dua sisi dalam diriku, sisi yang menginginkanku untuk tetap bertahan disini dan melanjutkan cita – citaku jadi sarjana sastra, atau sisi lain yang menyuruhku untuk menyerah, pulang, dan mengikuti kehendak orang tua. Dalam pergulatan alot itu, akhirnya sisi pertamalah yang menang. Life instinct ku mengarahkan ku untuk melawan, dan tidak hanya mengikuti apa yang dikehendaki takdir. Sungguh, baru akhir – akhir ini aku punya kekuatan sebesar itu, dan aku bangga akhirnya aku bisa berdiri dengan kaki sendiri.
            Buk Maya mungkin benar, orangtua ku tak bermaksud untuk membebaniku dengan rencana – rencana mereka. Tapi aku yakin aku juga benar, sudah saatnya aku memutuskan jalan mana yang akan aku tembuh dari ribuan jalan yang disediakan tuhan untuk mencapai sukses. Jalan ini, jalan yang ku mau, menjadi sarjana. Itu cukup, aku tak harus jadi komandan. Defenisi sukses kan berbeda – beda.
            Pagi ini selesai mandi, aku memutuskan untuk duduk – duduk diruang tamu rumah buk Maya. Ada sebuah TV ukuran sedang disana, tak sebesar dirumahku memang, tapi cukup untuk teman waktu senggang. Buk Maya datang dari dapur ketika aku sedang asyik menekan-nekan remote, memilih program yang mungkin menarik. Dia membawa sebotol cemilan dan meletakkannya dimeja didepanku. Dia memberi isyarat untuk mempersilahkanku menghabiskan isi botol itu. Aku mengangguk.
            Sudah beberapa hari dirumah ini, aku baru hafal isi kamarku saja, aku jarang ke ruang tamu, dan paling hanya sesekali ke kamar mandi. Mataku mulai bergeleria melihat kesekeliling ruang tamu. Ukurannya tak terlalu besar, sekitar dua kali besar kamar kosku. Sebuah TV diletakkan ditengah dinding disamping ruang makan. Didepan TV ada satu set sofa yang warnanya sudah mulai memudar, lengkap dengan meja. Didinding dekat pintu masuk, aku melihat ada beberapa foto yang dipajang disana. Aku berjalan ke arah foto – foto itu. Ada sebuah foto lama dengan gambar seorang bayi yang digendong ibunya. Iya, itu buk Maya dengan anak laki-lakinya. Disampingnya, ada foto seorang anak laki-laki remaja berkulit putih dengan memakai baju kaus merah dan celana jean hitam. Itu pasti foto anak buk Maya sekitar 2 tahun yang lalu.
            Aku memberanikan diri bertanya. “Ini anak ibuk?”
            Dia mengangguk.
            “Siapa namanya?”
            “Abdul” jawabnya sambil tersenyum.
            “Ganteng..” kataku memuji.
            “Iya, Ayahnya keturunan inggris.”
            Tampaknya aku tak harus bertanya lagi. Tak terlalu sulit menebak dimana buk Maya bisa kenal seorang bule, dan akhirnya memiliki anak darinya. Aku lalu berjalan lagi ke foto lain disamping foto remaja itu. Tampak seorang gadis muda dengan Toga dikepalanya. Dia tersenyum lebar, memegang ijazah ditangan kirinya. Dan, gadis muda itu mirip buk Maya. Sekali lagi, aku perhatikan foto itu baik-baik. Tak salah lagi, itu memang buk Maya.
            “Ini ibuk kan?”
            “Iya” jawabnya sambil tersenyum.
            “Jadi ibuk sarjana?” tanyaku kaget.
            Dia hanya mengangguk.
            Aku memperhatikan sekali lagi foto itu. Dibawahnya ada tulisan “Fakultas Ekonomi”.
            “Sarjana ekonomi?”
            “Iya” Dia berhenti sebentar lalu bicara lagi. “Duduklah disini, ibuk ingin cerita.”
            Aku mengampirinya dan duduk disebelahnya.
            “Ibuk Sarjana ekonomi dengan IPK yang lumayan membanggakan” katanya dengan tersenyum, seolah menyombongkan diri.
            “Hebat.. Tapi-“
            “Tapi ibuk salah jalan” buk Maya memotong ucapanku. Dia tampaknya paham kemana arahnya pertanyaan ku nanti. “Dua bulan setelah wisuda, ibuk dapat kerja disebuah perusahaan asuransi asing di posisi yang cukup tinggi. Tapi itu hanya berjalan 5 tahun. Ibuk hamil dari pacar ibuk yang keturunan inggris itu, ayahnya Abdul, dan dia memaksa ibuk mencuri informasi penting perusahaan untuk perusahaannya. Jika tidak mau, dia tidak akan bertanggung jawab.” Buk Maya menyeka airmatanya, lalu berhenti sebentar mengatur emosi, dan kemudian melanjutkan ceritanya. “Ibuk akhirnya memutuskan untuk mencuri data yang dia minta. Ibuk ketahuan sebelum sempat menyerahnya data itu. Ibuk dipecat dengan tidak hormat, dan begitulah akhirnya sampai ditempat ini.”
            Aku terdiam.
            “Ibuk menceritakan ini bukan untuk mengatakan kalau kuliah dan dapat gelar sarjana itu tidak baik, dan tak ada gunanya. Sangat baik dan sangat berguna. Pendidikan itu penting. Maksud ibuk tadi, sesuatu yang kita yakini dan sudah kita bagun bertahun – tahun bisa hancur karna pilihan yang salah. Ibuk salah pilih pacar, dan salah pilih jalan keluar untuk mengatasi masalah ibuk. Jika saja ibuk tidak melalukan hal tersebut, mungkin sekarang ibuk bisa hidup sebagai orang baik. Jika saja ibuk mau bercerita ke orangtua tentang masalah ini, mungkin akan dapat jalan keluar yang lebih baik. Kamu, dan orangtuamu juga tentunya, punya pilih masing – masing. Belum tentu pilihan kalian itu yang terbaik untukmu kan? Pulang, dan berundinglah sekali lagi, jangan sampai kalian bertiga terpeleset memilih yang salah.”
            “Papaku itu keras kepala buk. Dia tidak akan mau merubah pikirannya.”
            “Apa bedanya dengan kamu? Kamu juga nggak mau merubah keputusanmu kan? Jika kamu pulang setelah tes SPMB, dan lulus. Apa orang tua mu akan mengizinkan kamu kuliah? Belum tentu juga kan? Jadi ini tidak akan selesai? Tak akan ada titik temu? Menurut ibuk ada, jika kalian sama-sama berunding, dan sedikit mengalah.”
            “Oke, menurut ibuk siapa yang benar? Adi cuma ingin bertanya dari sudut pandang orangtua.”
            “Kamu. walau gelar ibuk sekarang terbuang sia – sia. Lima tahun menjadi orang benar karna gelar itu, cukup untuk ibuk menyimpulkan kalau kuliah itu penting.”
            “Jadi kalau Adi mengalah, apa jadinya buk?”
            “Bukan kamu saja yang harus mengalah, papamu juga harus” jawabnya cepat.
            “Maksudnya gimana? Kalau sama- sama mengalah, titik temunya dimana?” Aku semakin tak mengerti.
            “Lakukan dua-duanya. Keinginanmu, dan keinginan orangtuamu.”
            “Caranya?”
            “Tawarkan solusi ini ke orangtuamu. Kamu kuliah dulu empat tahun ini, setelah lulus baru daftar polisi. Adilkan?”
            “Tapi aku ingin kerja dan menjadi penulis.”
            “Polisi itu bukan pekerjaan ya?”
            “Iya sih”
            “Kamu hanya belum mengalah.” Ucap buk Maya dengan nada agak meninggi. “kalau orangtuamu mau mengalah, dan membiarkan kamu kuliah dulu. Berarti kamu juga harus mengalah dengan menjadi polisi.”
            “Dan cita-citaku jadi penulis?” Aku masih belum bisa menerima solusi ini.
            “Ya bisalah, menjadi polisi sekaligus penulis. Malah akan lebih menarik bagi pembaca”
            Aku mulai setuju dengan ide yang ditawarkan buk Maya. Benar itu terdengar Adil. Jika orangtua ku mau membiarkan aku kuliah, setidaknya aku juga harus mau membiarkan diriku jadi polisi.
            “Tapi apa papa akan mau mendengar solusi ini buk?”
            “Coba dulu..”
            Pembicaraan kami terhenti ketika seseorang muncul dari balik pintu. Itu Reza. Wajahnya tampak panik, dan napasnya tak beraturan. Dia memandang kearah mataku tajam.
            “Ada apa Za?”
            “Bokap lu masuk rumah sakit. Buruan kesana”
            Jantungku mulai berdetak tak beraturan mendengar itu. Semakin kencang. Ada apa dengan papa?
            Bersambung…….

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...