Pages

Kamis, 02 Mei 2013

Cerbung "A Perfect Ending for Daddy" Part 2

Aku menyibak tirai jendela kamar kos ku ke samping kanan. Dari luar sana tampak beberapa perempuan muda lalu lalang dengan pakaian menantang. Berjalan berlenggak lenggok mencoba mengimbangi sepatu high hilnya yang amat tinggi. Dandanan serba menor sudah tertempel diwajah belianya. Selain itu, beberapa yang sudah cukup berumur juga ada. Mereka menenteng setumpuk foto – foto gadis – gadis remaja yang siap dijajakan. Itu mami – mami nya, penguasa tempat ini. Pakaiannya tak kalah menantang, namun dengan tampangnya yang cukup menakutkan.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tempat ini sudah beroperasi. Bilik – bilik dari papan seadanya sudah beberapa kali dimasuki lelaki – lekaki haus yang sedang mencari pelepas dahaga. Beberapa germo ditepi jalan tampak sedang melambai – lambai ke arah kendaraan yang lalu lalang didekat sini. Cukup rame, beberapa ada yang tergiur, namun cukup banyak juga yang tak menghiraukan panggilan – panggilan itu. Dari kejauhan tampak seorang bapak – bapak gendut keluar dari mobil sedan hitamnya, lalu menghampiri seorang germo yang tampak sudah mengenalnya. Wajahnya sumbringah, tertawa lepas penuh rayu memberi setumpuk foto kebapak itu. Tak lama memilih, bapak itu menentukan mangsanya malam ini. Sang mami lalu memanggil seorang gadis remaja jangkung keluar dari markasnya, yang lalu mengikuti sang bapak kedalam mobil itu. Mobil itu melaju cepat, seolah tak sabar.
Pemandangan ini amat baru bagiku. Bukan saja pemandangan neraka yang tersuguh tepat didepan kamar kos kecil ini, tetapi juga suasana dikamar ini. Baru kali pertamanya aku menghirup nafas semalam ini bukan dikamar ku sendiri. Aku benar – benar terdampar pada suatu keadaan yang sangat berbeda. Dimana kamar bersih yang dingin itu, kini digantikan dengan suasana sumpek yang dikelilingi hawa neraka. Namun disinilah aku akan mulai mencari kehidupan luar yang selama ini tak bisa ku akses. Aku tak berniat menjadi hitam, namun hanya sekedar untuk mengenal hitam, sehingga akhirnya menyadari bahwa didunia ini tak hanya ada satu warna. Satu warna itu yang dihajarkan oleh orang tuaku, dan cuma sebatas itu yang aku tau.
Aku kembali menutup tirai jendela kamar kos ku, lalu berjalan menghampiri kasur gulung tipis yang dipinjamkan oleh sang pemilik kos. Disamping kasur itu teronggok sebuah tas berwarna hitam yang tampat menggendut disesaki baju – baju yang aku jajal sekenanya. Aku lalu membuka resleting depan tas itu, dan mengeluarkan sebuah foto ukuran sedang yang ku ambil dari kamar orang tua ku saat itu. Keluarga kecilku terpampang difoto itu. Kembali air mata menetas tanpa disuruh, mengalir deras menyusuri lekuk pipi. Aku mencoba untuk tidak terisak. Aku sudah memutuskan, dan perjalanan ini harus dimulai. Tak lama, hanya sampai selesai SPMB, atau mungkin sampai aku menemukan warna – warna kehidupan yang aku cari.
***
Aku selesai mengerjakan beberapa contoh soal SPMB tepat pukul 3 malam. Mataku belum juga mengantuk sepagi itu. Akumulasi perasaan bersalah, digabung dengan semangat menggebu – gebu untuk lulus SPMB dijurusan yang aku suka, akhirnya memaksa otakku untuk mengatakan bahwa aku tidak harus tidur malam ini. Lelah mengerjakan soal – soal yang lumayan banyak dibuku kisi – kisi soal SPMB baru yang aku beli kemaren untuk menggantikan buku yang beberapa hari sebelumnya dikoyak – koyak papa didepanku, aku memutuskan untuk mencari udara dingin sejenak diluar. Para wanita – wanita penjaja birahi itu masih berkeliaran, beberapa tamu masih ada yang datang, namun jalanan sudah sunyi. Hanya beberapa kendaraan yang memang sengaja singgah disini yang terdengar. Germo – germo yang berdiri di tepi jalan juga tampak sudah berkurang, tinggal satu orang saja yang terlihat, dimanding tadi yang berjumlah sekitar 5 orang.
Aku memutuskan untuk duduk dibangku panjang didepan jendela kamar kos ku. Aku lalu melamun memandangi bilik – bilik kecil yang disusun rapi didepan sana. Tak terlalu dekat memang dengan kos ku, tapi bisa terlihat dengan jelas dari tempat ku duduk ini, atau tadi dari balik jendela kecil kamar ku. Satu atau dua pria tampak keluar dari bilik itu sambil membetulkan posisi celana jeannya. Ada juga yang tampak masih memegangi selangkangannya. Beberapa saat kemudian tampak wanita – wanita keluar juga dari bilik itu sambil membetulkan pakaian atau rambut mereka yang berantakkan.
Aku tersentak dari lamunan ketika menyadari seseorang wanita dewasa berpakaian seksi membuka pintu rumah tempat kos ku. Aku memperhatikan wanita itu dengan seksama, hingga akhirnya menyadari siapa dia saat wanita itu mulai bersuara. “belum tidur? Ngapain disini? bahaya anak kecil berada diluar jam segini ditempat seperti ini pula” katanya. Itu ibu kos ku yang sebelumnya aku temui saat bertransaksi menyewa kamar kosong dirumahnya.
“Oh.. ibuk.. Cuma cari angin aja buk… Nggak bisa tidur.” Jawabku jujur dengan terbata – bata. Aku benar – benar kaget saat menyadari kalau ibuk ini adalah salah satu germo yang ku amati tadi.
Ibu maya, ibu kos ku itu, mendekat, lalu duduk disampingku. Dia tampak diam sejenak, lalu akhirnya mulai bersuara lagi beberapa saat kemudian. “Kamu baru tamat SMA kan?” tanyanya memulai.
“Iya buk” jawabku penasaran. Aku tak menoleh kearahnya. Tampangnya cukup menakutkan dengan dandanan menor seperti itu. Jauh berbeda dengan dia yang aku temui sore tadi.
“Hmm.. berarti seumuran dengan anak ibuk” lanjutnya
“Jadi.. ibuk punya anak? Kok aku nggak lihat dari tadi. Dimana dia?” tanya ku mulai penasaran.
“ Dia nggak tinggal disini. Dia dikampung. Tinggal sama adik ibuk” jawabnya
“oo..”
“Ya sudah, sekarang masuk kedalam. Tidur dulu. Jaga kesehatan untuk SPMB bulan depan” katanya. Aku mematuhi, lalu berjalan masuk ke kamarku.
***
Aku terbangun pukul 10.15 pagi saat seseorang mengetok pintu kamarku. Aku berjalan dengan setengah sadar ke arah pintu, lalu membukanya. Tampak Reza berdiri didepan pintu kamar dengan menenteng sebuah kantong plastik putih ukuran sedang. Dia masuk, sementara aku berjalan lesu kembali ke arah kasur tipis yang tadi ku tiduri. Mataku masih berat, namun telingaku sudah cukup mampu bekerja lagi. Reza terdengar meletakkan kantong plastik yang dia bawa tadi diatas meja kecil ditengah kamar ini, lalu berjalan ke arah ku dan duduk disamping kasur. Dia lalu mulai bersuara.
“Ngapain lu semalam?” tanyanya curiga
Aku menjawab seadanya. “Belajar..”
“Yakin? Nggak macam – macam kan?” tanyanya sambil terdengar tawa kecil diujung tanyanya.
“Mata lu” jawabku
“Oh.. iya. Tadi nyokap lu kerumah gue, ngantarin makanan.”
Mataku langsung tersentak dan terbuka lebar mendengar itu. “Lu yakin?” tanyaku kaget.
“Iya? Katanya beberapa hari yang lalu dia kesekolah, nanya alamat gue”
“Trus.. Trus… papa gue udah tau dong?” tanya ku ketakutan.
“Kagak, nyokap lu minta tolong sama pihak sekolah, untuk nggak ngasih info apa – apa ke dia.”
“Syukurlah. Trus. Mama tau gue disini?”
“Nggak juga. Gue bilang aja kalau lu nggak mau diganggu dulu. Jadi nggak gue kasih tau.” Terangnya. “Itu makanannya dimakan, takut dingin.” Lanjutnya ke arah kantong plastik putih yang dia letakkan diatas meja tadi.
            Aku kemudian langsung melahap masakan mama yang memang sudah sangat ku rindukan. Sedangkan Reza sedang sibuk memperhatikan lingkungan sekitar kos ku melalui jendela. Beberapa lama setelah dia sibuk mengarahkan pandangannya ke kiri dan kanan, dia kembali memulai aksinya.
            “Lu serius masih perjaka kan ya?” tanyanya dengan tetap melihat ke luar jendela. Aku tak melihat wajahnya, tapi sangat yakin kalau dia sedang tersenyum lebar.
            “bangsat lu..”
            “hehe.. semalam rame nggak sekitar sini?”
            “rame banget..” jawabku seadanya sambil tetap menguyah makanan dimulutku
            “cantik – cantik nggak?” tanyanya penasaran.
            “nggak terlalu jelas sih dari sini. Tapi sekilas gue lihat, lumayan cantik, seksi – seksi pula.
            “wah.. kalau gue tinggal disini kayaknya nggak bakalan tahan ini”
            “Syukurlah, gue nggak sebangsat lu”
            “Eh.. lu masih normal kan ya? Nggak tergoda gitu lihat yang kayak gini. Gue aja ngiler ngebayanginnya”
            “Kampret lu..”
            “haha..”
***
             Semakin malam aku semakin kerasukan. Kata – kata Reza tadi pagi semakin jelas terbayang – bayang dipikiranku. Dengan pemandangan senyata ini, harusnya tak ada alasan bagiku untuk tidak mencoba. Sorot nakal mata mereka saat melintas didepan ku yang sedang duduk pasif dibangku panjang di depan jendela kamar, seharusnya mampu menarikku untuk menempati salah satu dari bilik – bilik itu. Tawa renyah yang secara sengaja diciptakan untuk menarik hasrat – hasrat ku keluar, nyatanya belum cukup sukses membuat ku terperosot. Apa aku tak cukup lelaki untuk melakukan ini? Aku punya kesempatan. Cukup berjalan sebentar saja, maka pembuktian diri ini akan terjawab.
            Aku tersentak dari lamunan panjang dan tatapan kosong ku yang terarah ke barisan bilik – bilik kusam itu, saat seorang wanita yang cukup berumur dengan pakaian serba minim mengampiriku.  Otakku langsung memberitahu bahwa wanita ini adalah salah satu dari beberapa germo, selain ibuk kos ku, yang ku lihat malam kemaren. Dia tersenyum – senyum kecil menatapku yang secara sigap menyusun pertahan diri. Jika dia macam – macam, aku akan segera berlari kerumah. Harus! Namun wanita itu biasa saja, dia belum menyentuhku, dan hanya duduk dibagian kosong bangku panjang yang ku duduki. Aku tak menoleh ke arahnya, dan lebih memilih melihat ke samping kanan, berpura – pura memperhatikan mobil – mobil yang lalu lalang.
            “Anak baru disini ya?” dia lalu mulai bersuara.
            “Iya buk” Sekejap aku menoleh kearahnya. Tampak wajahnya dipenuhi dengan tempelan – tempelan make up tebal. Lalu tak kalah cepat, aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah jalan.
            “Ibuk….? panggil aja mami. Anak – anak sini sebelumnya juga manggil gue mami”
            “Iya… ma.. mi” aku terasa ingin muntah menyebut panggilan itu untuk wanita konyol ini.
            “hmm.. anak kuliah atau kerja?”
            “baru tamat SMA, baru mau kuliah buk.. eh mami” nada suara ku semakin bergetar.
            “oh.. masih ingusan.”
            Aku tak menjawab.
            “Kayaknya anak rumahan juga nih” lanjutnya sambil tertawa kecil diujung kalimatnya.
            Aku masih diam. Namun semakin ketakutan. Aku mulai mengusap – ngusap telapak tangaku untuk menenangkan diri.
            “Belum pernah gituan kan? Pasti belum deh? Haha…”
            Wanita ini sepertinya memang sedang berusaha menjeratku. Aku paham, namun ada dorongan dari sisi batin ku yang lain menahan kaki ku untuk tak bergerak dan menjauh darinya. Dorongan itu bahkan lebih dasyat dari usahaku untuk tak terjebak. Sisi putihku serasa dikepung oleh pusaran kekuatan hasrat yang lebih kuat. Apa aku akan menghitam disini? Aku tak ingin.
            “Pengen nyoba nggak?” wanita itu semakin berani menebar jala nya untuk menjeratku.
            “nggak” aku menggeleng, namun batinku yang lain semakin bersemangat memaksa ku. Sisi putihku masih bisa bertahan.
            “Tempat kos Buk Maya ini sudah sering ditempati anak kos. Memang kamu yang paling kecil. Rata – rata sudah pada kerja. Mereka yang tinggal disini sebelum kamu, jadi langganan Mami lo. Hehe..”
            Aku hanya diam, bibirku berusaha keras ku tutup melawan hasratku untuk mengatakan yang tak seharusnya. Namun sisi hitamku semakin membesar. Candaan – candaan Reza tadi siang secara tak sengaja menguatkan sisi hitamku itu untuk menguasai diriku sepenuhnya. Rayuan wanita dewasa yang ada disampingku itu juga semakin sukses membuat pertahanan diriku melemah. Tiba – tiba gambaran – gambaran apa yang akan aku rasakan di dalam bilik itu, secara cepat menggerogoti seluruh batin ku. Pertahan diriku semakin kritis.
            “Mami kasih diskon deh” dia mencoba metode terakhirnya
           Aku terperangkap, batinku berkianat. Aku gagal menjadi Ikan yang dagingnya tetap manis di air asin. Sisi hitamku tiba – tiba tertawa puas. Tanpa sadar kaki ku telah melangkah mengikuti wanita itu.
***
            Aku serasa tak sadar. Ragaku kini sudah berada disalah satu bilik yang sebelumnya ku lihat dari balik jendela atau ketika sedang duduk di kursi panjang didepannya. Seluruh jiwa ku benar – benar sudah dikuasi hasrat ini. Tinggal sedikit sisi putih yang masih beronta- onta namun tak lagi ku pedulikan. Aku sudah terlanjur berada dibilik ini, tak seharusnya mundur. Benar, aku tak salah langkah kali ini.
            Tiba – tiba bunyi langkah kaki mendekat ke arah ku. Seorang wanita muda masuk ke dalam kamar melalui pintu yang hanya ditutupi selembar kain tipis saja. Jantung ku tiba – tiba berdetak keras saat melihat sosoknya masuk dan menghampirku. Kedua bibir tipisnya tersenyum ke arahku, seolah memberi pertanda untuk memulai. Dia semakin mendekat, lalu duduk disampingku, diatas kasur tipis dengan seprai seadanya. Pandangannya tetap menatap kearahku. Detak jantungku semakin tak karuan.
            Wanita itu lalu meraih tanganku dan menggiringnya menyusuri pipinya. Lalu mengarahkanya semakin kebawah, namun tiba – tiba seorang yang ku kenal muncul dari balik tirai pintu. Lalu berjalan cepat, meraih tanganku dari genggaman wanita muda tadi, dan menarikku keluar dari bilik itu. Dibalik sinar lampu yang redup, aku lihat wajah marahnya. Aku menunduk malu atas perbuatan bodoh ku sendiri. Dia lalu menarikku lagi, menuju rumah.
            “eh.. maya dia belum bayar” Germor tadi mengejar kami.
            “Nanti gue yang bayar. Emang kampret lu ya. Anak ingusan gini lu bawa – bawa kesana. Anjing” Jawab ibu Maya, ibu kos ku, dengan penuh amarah. Aku merasa tertampar mendengar dia mengucapkan itu.
            “Eh.. urusan gue.” Dia lalu berjalan menjauh dari kami menuju markasnya.
            Buk Maya melepaskan tanganku. Lalu berjalan terus menuju kursi panjang didepan kamarku, dan duduk disana. Aku mengikutinya dengan tetap menunduk.
            Bersambung….

1 komentar:

Oskar Glauber mengatakan...


Incredible! This blog looks just like my old one! It's on a entirely different topic but it has pretty much the same page layout and design. Wonderful choice of colors! facebook log in facebook

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...