Pages

Selasa, 23 April 2013

Cerbung "A Perfect Ending for Daddy" Part 1

Aku terkejut. Papa membuka pintu kamarku yang tak ku kunci itu dengan paksa. Lalu menyentakkannya ke sisi dinding hingga bunyi keras pintu itu saat menubruk dinding cukup membuatku semakin gemetaran. Aku menggigil ditengah cuaca panas yang amat menyengat ini. Aku menolehkan pandangan ke belakang, menghadap ke arahnya. Dia menatapku penuh amarah, benar – benar kerasukan seperti hendak melahapku hidup – hidup. Aku bergegas menutup buku tebal besar yang sedang ku baca, lalu secepat mungkin memasukannya kedalam lemari buku disamping meja belajarku.
            Dengan amarah yang semakin memuncak, papa berjalan bergegas menghampiriku, lalu mendaratkan sebuah tamparan keras yang tak main – main. Aku bergerak mundur ke arah jendela, lalu meringkuk di samping meja belajar. Aku ketakukan. Tanganku gemetaran. Aku tak lagi melihat ke arahnya, pandangan ku paksa menoleh ke arah pijakan kaki dibawah meja belajar sambil sesekali memegangi pipiku yang masih terasa berdenyut – denyut.
            Walau tak melihat ke arahnya, aku tahu dia masih menatapku yang sedang meringkuk dibawah sana. Dia lalu membuka paksa lemari buku ku, dan mengambil sebuah buku tebal yang sedangku baca tadi. Dia mulai bersuara. “Mau jadi anak durhaka kamu? Pembangkang.” Bentaknya berapi – api. Aku tak menjawab, tak cukup mampu menjawab. Kali ini aku sebenarnya ingin memberontak, tapi nyali ku belum cukup besar menghadapinya.
            “Sudah papa bilang, kamu tidak akan kuliah. Ingat itu. Dua minggu lagi kamu sudah harus mendaftar di kepolisian. Persiapan kan diri baik – baik, dan lupakan semua omong kosong ini.” Dia kembali bersuara lantang. Aku masih beringkuk ditempat tadi, dan masih tak melihat ke arahnya. Namun tiba- tiba dari arahnya jelas ku dengar suara sobekan kertas bersautan, serpihan – serpihan kertas dari buku Kisi – Kisi Soal SPMB yang tadi ku baca itu berterbangan. Beberapa bagiannya mendarat juga didekatku.
            Aku tersulut api amarah juga, tak kalah berkobar dari amarahnya. Aku mengangkat kepala ku, menoleh ke arahnya yang masih merobek satu per satu lembar kertas buku itu. Aku mengangkat seluruh badanku, dan menatap matanya dengan tajam. “Apa mau papa memaksaku melakukan sesuatu yang tak ku ingin? Selama ini aku mengalah mengorbankan impian ku demi impian papa yang sama sekali tak ku suka itu. Tapi papa lihat sendirikan hasilnya? selalu berantakkan. Kali ini aku benar – benar tidak akan melakukan ini. Maaf”
            “Oh.. sudah berani kamu ya, mentang – mentang sudah lulus SMA, jadi sudah merasa dewasa dan punya keberanian membantah orang tua” bentaknya
            “Kali ini tolong mengerti pa. Biarkan aku mengejar cita – cita ku sendiri. Aku akan kuliah, dan menjadi sarjana. Menjadi jendral berpangkat itu, seperti yang papa mau, bukan impian ku.” Suaraku masih lantang, tapi jelas aku menghiba.
            Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipiku, papa masih kokoh dengan pendirian konyolnya. Dari arah luar, kami mendengar suara mama beraung – raung diruang tamu. Sambil terisak – risak dia bersuara untuk menghentikan kami. “Sudah.. cukup.. kalian berdua hentikan ini”
            Papa keluar dari kamarku dengan amarahnya yang masih belum mereda. Sebelum meninggalkan kamar ku dia membanting keras – keras buku tebal yang sudah sukses dia robek – robek itu ke lantai. Lalu ketika melewati pintuku, dia sekali lagi membanting pintu kamarku, terdengar lebih keras dari yang dia lakukan sebelumnya saat masuk kekamarku.
            Aku kembali menurunkan badanku. Sambil bercucuran air mata, aku mengumpulkan satu per satu potongan kertas buku itu. Aku lalu menggenggam potongan – potongan itu ditanganku dengan sekuat tenaga. Papa ku sendiri telah merobek – robek cita – citaku.
***
Aku tak pernah menjadi AKU yang sebenarnya sebelumnya. Sebuah remot kontrol sudah dipegang orang tua ku sejak aku bisa mengingat. Mereka mengendalikan gerakku, kemana aku harus melangkah, berlari, bahkan apa yang harus ku pikirkan. Bisa jadi juga aku ini wayang, dan sebagai dalang mereka punya kuasa untuk mengatur jalan cerita hidupku. Aku tak pernah bisa melakukan apa yang sesungguhnya otak dan hatiku mau. Semua sudah diatur dengan sempurna oleh mereka. Namun hari ini, aku menemukan suatu hal. Aku tak bisa lagi begini. Aku harus punya tenaga untuk menggerakkan kaki ku sendiri, dan membawanya melangkah kemanapun aku mau. Pikiranku langsung tertuju pada rencana besar yang mungkin akan amat beresiko, namun harus aku lakukan.
Za, dimana lu? Bantuin gue sebuah sms aku kirim ke sahabat karibku.
Tak lama sebuah tanda sms masuk berbunyi. Aku segera mengambil hp dan membaca sms dari Reza. Gue lagi dirumah, kenapa? Ada masalah lagi dirumah?
Iya, lu tunggu aja depan gerbang komplek rumah gue jam 3 nanti. Gue numpang nginap dulu dirumah lu, dua hari aja sampai dapat tempat kos. Balasku
Reza tak membalas sms ku, namun langsung menelpon. Aku langsung me reject telponnya. Dan segera mengirim sms. Gue lagi nggak bisa ngomong. Suara gue lagi parau. Lu nggak usah tanya kenapa.
Lu ngomong ke nyokap lu dulu aja. Gue agak takut bantu lu untuk urusan ini.
Payah lu, ya udah deh.. ntar gue sms lagi. Balas ku
            Dari arah luar ku dengar mobil Papa menjauh dari pekarangan, dan dengan kecepatan tinggi langsung menuju gerbang komplek. Aku keluar dari kamar sesaat setelah suara mobil itu tak terdengar lagi. Di ruang tamu, tak ada siapa – siapa. Mama juga tidak ada di kamarnya. Otakku langsung memproses sebuah rencana besar yang ku pikirkan tadi. Bergegas aku menuju kamar, dan meraih hp lalu mengirim sebuah sms ke nomor Reza. Jemput gue sekarang!
            Setelah itu aku segera mengambil sebuah tas ransel ukuran sedang, dan memasukan beberapa potong pakaian ke dalamnya. Lalu bergegas ke kamar orang tua ku, dan mengambil beberapa lembar uang yang diletakkan didalam laci dilemari samping tempat tidurnya. Aku bergegas keluar kamar, namun langkahku terhenti pada sebuah foto keluarga ukuran kecil yang dipajang didinding didekat pintu. Aku menghampiri foto itu, disana ada kami bertiga, Aku, papa, dan mama sedang tersenyum lebar. Foto itu diambil beberapa tahun yang lalu, satu hari setelah kelulusanku di SMP. Aku mengambil bingkai foto itu, dan mengeluarkan foto, lalu meletakkan kembali bingkai itu pada tempat semula. Sedikit demi sedikit airmata kembali menetas dipipiku, hingga jatuh membasahi lantai. Sempat saja langkahku memberat untuk melanjutkan rencana konyol ini, namun kembali aku tersadar bahwa sudah saatnya aku mengambil kontrol untuk diriku sendiri.
            Aku melangkah pasti meninggalkan alaman rumah menuju kedepan pagar. Reza baru saja sampai, dan aku menyuruhnya bergegas. Dia tampak ragu, namun aku memaksa, dan mengatakan bahwa ini sudah menjadi keputusanku. Sekali lagi mata ku berair saat motor Reza semakin menjauh dari rumah. Kami terus melaju tanpa melihat lagi kebelakang, dan berhenti disebuah kafe kecil tempat biasa kami nongkrong.
            “Gue jujur, nggak mau nerima lu dirumah gue Di” Reza mulai bersuara setelah beberapa saat hanya hening yang ada diantara kami.
            Aku tak menjawab, aku tau dia tak serius
            “Jadi apa rencana lu selanjutnya?”
            “Gue mau mandiri, gue mau kuliah, jadi tolong cariin gue tempat kos sementara dulu sampai selesai SPMB aja. Setelah gue lulus, gue mau pulang lagi. Semoga aja papa berubah pikiran”
            “Lu nggak serius kan?”
            “Iya, kayak gini wajah bercanda kan?” aku menunjuk wajahku yang ku yakin terlihat amat berantakkan.
            “Ya udah deh, seperti kata lu, gue cuma bisa nampung lu dirumah gue 2 hari aja. Gue takut orang tua gue banyak nanya, dan akhirnya tau kalau lu lagi kabur dari rumah. Mereka nggak akan setuju. Lu ngertikan? Dan……. Syukurlah orang tua lu nggak tau rumah gue. Tapi mereka bisa aja tanya ke sekolah kita dulu kan?  makanya cuma 2 hari waktu yang agak aman.”
            “Iya, gue paham.”
            Aku lalu mengambil hp ku dari kantong, dan menulis sebuah sms untuk mama.
            Ma, Pa. Adi cuma pergi sebentar sampai selesai SPMB. Tadi Adi ngambil uang di laci, agak banyak. Sorry sudah bikin masalah!
            Aku lalu mematikan hp, membuka cover belakangnya, dan mengeluarkan kartu sim nya. Lalu memasukan kartu sim itu kedalam dompetku. Hidup itu pilihan, dan aku memilih ini.
***
            Selama ini aku anak baik. Tidak pernah terlambat pulang, tidak pernah pergi tanpa seizin orang tua, dan tidak pernah menginap dirumah teman. Semua berjalan seperti kehendak orang tuaku. Namun malam ini semua berubah total. Aku telah memilih, dan yakin tak akan pernah menyesalinya.
Sebelum tidur aku sempatkan melakukan kebiasaanku yang mungkin orang tua ku tak pernah tau. Mereka hanya tau, kalau aku harus suka sepakbola, harus menjadi polisi yang sukses, dan segala macam impian mereka padaku. Mereka tak akan pernah tau kalau aku suka menulis. Kalau aku berimpian jadi penulis. Mereka tak akan pernah menyangka kalau aku berimpian memenangkan sebuah penghargaan sastra dan menyebut nama mereka di atas panggung kehormatan itu untuk berterimakasih atas support yang mereka berikan. Hanya impian bodoh, tapi itu yang hati ku mau.
Aku menancapkan flashdics ku di laptop Reza. Dia sedang asyik memainkan game dengan Play Station barunya. Sebuah file berjudul Jendral dan Bayangannya.docx aku buka. Deretan kata – kata yang sudah aku rangkai sejak beberapa bulan yang lalu terpampang indah disana. Bagi ku, tulisan sebanyak 151 halaman itu adalah nyawaku. Hanya saat bersama tulisan – tulisan inilah aku merasa punya kendali untuk tubuhku sendiri. Aku membiarkan jemariku melakukan hal yang dia suka, serta membiarkan otakku memilikirkan hal yang dia inginkan.
Cerita yang sedang ku tulis itu belum selesai. Baru setengahnya saja, dan aku berniat menyelesaikan itu, dan mengirimnya ke penerbit untuk membuktikan pada orang tau ku, terutama papa, kalau anaknya ini bisa menjadi orang dengan cara yang tidak mereka sangka. Malam ini aku mulai menulis lagi. Aku kembali merasa jadi diriku. Seketika itu juga sebuah beban berat yang aku tanggung tadi menghilang, dan aku memasuki dunia baru yang sedang ku ciptakan dalam kisah itu.
***
Aku sedang diperpustakaan daerah bersama Reza untuk membaca beberapa buku untuk persiapan SPMB. Reza akan mengambil jurusan komputer, sedangkan aku akan mengambil jurusan sastra inggris. Ketika sedang asyik membalik beberapa buku bacaan, Reza mengarahkan hp nya padaku. Sebuah BBM dari temannya.
Lagi sulit nyari tempat kos sekarang, banyak yang butuh menjelang spmb ini. Tapi kebetulan aku ketemu yang agak murah. Tapi letaknya itu agak beresiko, aku ragu kalau temanmu itu mau tinggal disana. Diakan anak rumahan. Jangan kaget, letaknya dekat lokalisasi. Tapi ada satu lagi, harganya nggak bisa nego lagi, cukup mahal. Tapi yang ini letaknya disamping masjid. Dia mau yang mana?
“Yang dekat masjid ni aja Di, biar gue yang nambah kalau duitnya kurang?” tanya Reza, dia tampak endak membalas BBM itu, namun ku cegah.
“Yang pertama aja!” jawabku pasti
“eh.. lu suka bercanda ya? Nggak ah.. Mau mangkal juga lu disana?”
“Ikan yang hidup di air asin aja, dagingnya manis. Lu pikir gue serapuh itu. Selama ini gue dikelilingi kehidupan baik dan teratur. Kali ini gue mau mencoba yag berbeda Za. Yang benar – benar menantang. Tenang aja, gue disana cuma mau tinggal, bukan macam - macam”
Bersambung……

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...