Pages

Jumat, 29 Maret 2013

SONGLIT "You Belong With Me" - Taylor Swift - Cerbung Tamat

         Cuaca sore ini tampak begitu bersahabat, tidak panas, namun tidak hujan juga. Saat yang baik untuk menghabiskan waktu menikmati sore di taman depan rumah, dengan sebuah gitar coklat kesayanganku. Dari sini seperti biasa, bisa ku lihat bocah – bocah SD sibuk dengan rutinitas mereka, bermain bola kaki di tengah lapangan basket yang keranjangnya sudah robek disana - sini. Cat merah pekat yang dioleskan diatas papan penyangga keranjang basket itupun, sudah tampak putar dimakan usia. Kayu – kayunya juga tak sekokoh dulu.
            Sebelum mengocek senar gitarku, ku sempatkan juga memperhatikan permainkan mereka. Gawang dibikin seadanya dengan batas dua buah batu bata. Ukuran gawangnya juga tak terlalu dipermasalahkan, yang penting sama besar, dan permainanpun bisa dimulai. Dengan skill seadanya, Bocah – bocah ini pun mulai mengoper bola dari kaki ke kaki. Lumayan seru, berlari, mengoper bola, berhasil di potong, dan terjatuh.

            Saat terpaku memperhatikan tingkah – tingkah lucu bocah yang baju mereka sudah kotor terkena percikan air yang mengenang dibeberapa sudut di tengah lapangan, seseorang menepuk pundakku. Senyumku mengambang melihatnya. Siapa lagi kalau bukan Kikan. Gadis itu selalu tau dimana aku sore – sore begini. Kalau bukan berlatih bersama teman – teman lain di studio, pasti aku sedang disini, tetap dengan tema yang sama, MUSIK.
            “Itu gitar kenapa dipegang aja, nggak dimainin?”
            “Itu bocah- bocah lagi asyik juga kayaknya” jawabku cengengesan.
            Kikan hanya tersenyum mendengar jawabanku. Dia lalu menyandarkan kepalanya di bangku kayu bercat putih yang mulai terlihat kusam yang sedang kami duduki ini. Kepalanya menengadah ke atas, melihat puncak pohon tinggi berdaun lebar diatas kepala kami. Aku lalu memandang lagi ke arahnya.
            “Kenapa?” tanya ku.
            Kikan tak menjawab. Cuma sesekali dia memiringkan mulutnya ke kanan dan kiri. Mungkin dia sedang tidak mood mengobrol. Aku lalu kembali memperhatikan bocah – bocah yang sedang berlari mengejar bola. Ceria, seperti tak ada masalah dalam pikiran mereka. Tunggu saja, saat kalian mengenal cinta, maka masalah itu akan datang. Dan masih bisakah kalian tersenyum sebebas ini?
            “Ndra” Kikan terdengar mulai berbicara lagi. Aku menoleh lagi ke arah nya.
            “Kamu udah dengar belum?” lanjutnya.
            “Dengar apa?” aku penasaran.
            “Aku dan Bayu udah putus”
            Bolehkah aku tersenyum lebar mendengar ini? Tapi tak mungkin, aku harus terlihat bersimpatik di depannya. “Serius? Siapa yang-”
            “Aku yang mutusin dia” jawab Kikan, memotong pertanyaanku.
            “Kenapa?” harusnya aku tak perlu banyak tanya lagi. Harusnya saat ini aku merayakannya untuk hatiku.
            “Ntahlah, aku nggak nyaman dengan dia.”
            “Ohh” Pasti tak senyaman bersamaku kan?. Lanjutku dalam hatiku.
            “Tak senyaman bersamamu, ndra” Kikan mengangkat kepalanya dari sandaran bangku. Dia menatapku tajam, tepat ke arah mata. Aku salah tingkat.
***
Narrator: Kikan
             Nafasku tertahan sejenak saat melihatnya. Oksigen serasa menjauh dariku, tergantikan oleh pesonanya yang tak ku mengerti. Rasa apa ini? Baru pertama kali aku merasakan perasaan aneh ini. Jantungku berdetak kencang saat melihat dia turun dari tangga berkramik putih dengan corak biru dibeberapa sisi yang selaras dengan keseluruh warna ruang tamunya itu. Dia terus berjalan memegang pegangan ditangga yang juga bercat putih itu, menuju ke arah kami yang sedang duduk di sofa empuk di ruang tamu rumahnya. Semua orang, termasuk orang tua ku juga, serasa menghilang dari pandangku. Yang ada hanya kami dengan gugup saling menatap satu sama lain. Aku linglung dan segera mengalihkan pandanganku ke arah gelas berisi jus jeruk dengan embun – embun menguap dari dalam gelas menuju sisi luarnya, yang baru saja diletak mamanya diatas meja.
            “Oh iya, kenalkan ini Indra, anak kami yang paling kecil” mamanya meperkenalkan sosok yang ku lihat itu.
            Dia tersenyum kepada kami, dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Dari ibu, menuju ayah, ke bang Tommy, dan terakhir sampai juga padaku. Tangan kami bertemu untuk pertama kalinya. Aku gugup, dan masih mencoba untuk tenang. Dengan nada berantakkan ku coba memberi salam, dan memperkenalkan diri. Dia terlihat tak kalah gugup. Hari itu aku tau, kami akan DEKAT.
            Sedekat apa? Kalian tau kan? Kalian pasti sudah mendengar cerita ini darinya. Kami cuma sebatas sahabat sampai tiga tahun mendatang, tetap seperti itu. Jujur, aku berharap lebih, tapi semuanya terlihat semakin rumit, dan tak tau ujungnya kemana. Biarku coba ku ingat – ingat lagi bagaimana arus kisah ini mengalir.
            Dari mulai ketika Indra terlihat gugup karena diisengi kakaknya didepan kami. Kemudian berlanjut ke kisah aneh disore hari. Apa kalian masih ingat part itu? Ketika aku sedang menata bunga di lantai 3 rumahku, dan dia kedapatan mengintipku dari rumahnya. Aku harus berusaha keras mencari cara untuk menenangkan situasi itu. Aku kesulitan memilih respon mana yang harus ku pilih. Jujur, aku senang mengetahui dia kedapatan mengintipku. Itu berarti dia sedang menyembungikan sesuatu dihatinya. Tapi, anggap saja respon ku wajar. Aku masih terlalu muda untuk memperlihatkan respon “nakal” kala itu. Jadi, pura – pura tidak tau dan mengajak kakaknya mengobrol adalah cara paling wajar untuk gadis seusiaku saat itu. Anggap saja ini wajar.
            Kalian tau apa yang kupikirkan sejak sore itu? Semalaman peristiwa itu tak bisa lenyap dari pikiranku, bahkan sampai terbawa mimpi. Dia memegangi tanganku disana, jika ku tak salah, itu ditaman. Kami menatap dan berdua saja cukup lama, hingga akhirnya sebuah suara terdengar memanggilnya dari kejauhan. Aku memaksanya untuk tetap tinggal dan lebih lama lagi bersamaku. Tapi dia memang harus pergi, dan aku sendiri juga harus bergegas kesekolah baruku itu, sekolah yang sama dengannya.
            Pagi itu, tepat setelah sore cerah saat dia kedapatan mengintipku, ayah menawarinya tumpangan ke sekolah. Jelas sekali terlihat dia tampak ragu ketika melangkah ke mobil kami dan duduk dibangku belakang tepat disampingku. Sejenak hanya hening yang menemani kami bertiga. Hingga ayah memulai bicara, dan kedekatan kami makin bertambah melalu obrolan. Disekolahpun, seolah takdir mengizinkan, Aku ditempati dengan kelas yang sama dengannya. Kami berlanjut, menjadi semakin dekat.
            Tapi biar ku tegaskan sekali lagi, hanya sedekat itu. Kami teman, lebih tepatnya sepasang sahabat, dan tak terlihat ada tanda-tanda kalau Indra menginginkan lebih. Padahal aku mengharapkannya. Dia memang memperlakukanku istimewa. Salah satu yang paling istimewa menurutku adalah saat dia membawakan lagu favoritku saat itu. Anugrah terindah dalam hidupku dari Sheila on 7. Dia membawakannya dengan sangat menawan, dan diiringi dengan kocekan gitar yang amat sempurna. Saat itu aku semakin yakin kalau pria ini istimewa.
            Tapi beginilah jadinya. Seperti yang kalian tau, setelah tiga tahun kami tetap seperti ini. Bahkan ketika aku memancingnya untuk mengungkapkan sesuatu, Indra malah memperlihatkan reaksi yang amat berbeda, yang membuat semuanya semakin berantakkan. Bayu, sahabat karibnya, menembakku. Sebenarnya aku tak akan ragu untuk menjawab tidak karena memang saat itu tak ada sedikitpun perasaanku untuknya. Tapi aku malah menunda, dan bertanya pada Indra apa pendapatnya. Indra malah menyemangatiku untuk menerima lelaki yang tak ku inginkan. Jadilah begini, aku jadian dengan Bayu dengan hati tak mau. Sungguh tak mau.
            Semua berjalan memang tak pada tempatnya. Bukan Bayu yang ku mau, dia bahkan tak bisa mengertiku. Hanya Indra yang paham denganku. Tak ada yang senyaman saat mendengarkan dia bernyanyi di taman untukku. Tak ada yang sebahagia saat dia memujiku. Cuma dia yang tau cara membuatku luluh. Dia yang hatiku mau. Ketika sangat lelah dengan sesuatu, seperti saat pulang kencan TERPAKSA ku dengan Bayu, dengan melihatnya sebentar saja hati ini kembali damai. Aku gagal menemukan alasan untuk bersama Bayu lebih lama lagi. Makanya aku menyerah.
***
Narrator: Bayu

            “Tak senyaman bersamamu, ndra” Kikan mengangkat kepalanya dari sandaran bangku. Dia menatapku tajam, tepat ke arah mata. Aku salah tingkat. Bibirku terkunci, nafaku tetahan.
            “A..ku…” Kikan terbata-bata, lalu berhenti seperti menarik nafas lebih jauh dan dalam dari sebelumnya.
            Jangan lanjutkan, please. Biarkan ku bernafas sejenak dulu. Ini mengejutkan. Biar aku yang menembakmu. Jangan bilang apa-apa sebelum aku memulainya. Aku tak mau jadi pecundang kali ini. Biar aku menyelasaikan tugasmu Kan, setidaknya kamu sudah berhasil membuka pintu itu. Pikirku cepat
            Kikan masih terdiam, dan mengalihkan tatapannya pada anak-anak yang masih tetap bermain bola ditengah taman ini. Mereka bersorak – sorai. Agak mengganggu kami tentunya. Harusnya sejarah kami dimulai ditempat yang lebih pas.
            “Biarku yang mulai bicara” kataku tegas. Kikan kembali menatapku
            “Mulailah..” katanya seakan paham.
            “Jangan disini. Besok kita makan ke mall gimana?” aku sering memimpikan awal yang romantis untuk sebuah hubungan. Kali ini harus diwujudkan.
            “Disini lebih baik dari dimanapun Ndra? Ini tempat dimana kita selalu bersama. Jangan tunda lagi. Aku sudah lelah menunggu selama-“
            “Ok.” Aku memotong pembicaraanya. Kemudian menarik nafas sejenak, dan mulai berbicara lagi. Aku tetap memandang ke arah matanya “Kikan, aku sudah mengukaimu dari saat pertama kita bertemu. Mau nggak jadi pacarku?” Ini terdengar sangat kaku. SANGAT.
            Dia mengangguk, lalu tersenyum lebar.
            Mukaku memerah.

TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...