Pages

Senin, 04 Maret 2013

SONGLIT "You Belong With Me" - Taylor Swift - Cerbung Bagian 6

            Aku langsung terbulalak mendengarnya. Nafasku tertahan sejenak. Tiba-tiba seorang membuka pintu. Bayu lalu memasuki studio. Matanya terlihat sayu, lalu tersenyum sebisanya. Kali ini untuk kesekian kalinya, aku harus kembali memaksa diriku untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ku lakukan. Aku harus bersifat jantan kali ini.
            “Hai Bay” aku melangkah menghampirinya. Abu dan Bagas hanya terdiam kaku di tempat masing-masing.

            “Eh.. Ndra”
            “Jadi lu..” Berat memang melanjutkannya. Tapi Aku berhasil memaksa diriku untuk berbicara. “Jadi lu datang kemaren dengan keinginan sendiri?” pertanyaanku terdengar kaku.
            “Iyalah, sapa juga yang maksa gue”
            “Oh..” aku lalu mengangguk, dan tak tau lagi mesti merespon apa
            “Ayo kita mulai latihan, jangan buang-buang waktu lagi” Bayu tampak semangat, namun ku tau dia masih sangat canggung.
            Aku, Bayu, Abu, dan Bagas memulai latihan lagi sore itu. Mencoba memanfaatkan waktu yang tinggal sedikit lagi. Beberapa minggu lagi kami harus siap untuk bertarung dikompetisi band bergengsi di propinsi ini. Ini sebuah langkah besar untuk perjalanan karir kami. Demi ini, aku harus mengalah dan melupakan semua masalah yang belakangan ini sempat mengancam eksistensi A Big Little Thing. Tapi… sampai kapan aku akan bertahan?
***
            Dua minggu sudah berlalu, selama itupula kami selalu memanfaatkan waktu luang untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk kompetisi ini. Meramu lagi beberapa nada dan lirik lagu baru yang ku ciptakan beberapa bulan yang lalu, agar semakin enak didengar. Kami sudah siap, dan sangat yakin akan memenangkan kompetisi ini. Dan hari ini, kami akan membuktikannya.
            Kami sampai ditaman kota yang sudah mulai dipenuhi anak-anak muda menyuka band lokal. Beberapa band tampaknya sudah punya fans sendiri, ada beberapa yang terlihat membawa poster.  A Big Little Thing memang sudah beberapa kali menang kompetisi band, tapi tampaknya nama kami belum sebesar mereka. Aku selalu Yakin, suatu saat kami akan lebih dari itu.
            Setelah mendaftar ulang kepanitia kompetisi yang berada disudut kanan dekat panggung, kami memutuskan untuk menjernihkan pikirian sejenak dibangku-bangku taman yang masih kosong. Kompetisi sendiri baru akan dimulai setengah jam lagi. Dan kami memperoleh nomor urut 4, jadi kami masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan mental. Bayu yang tampak paling grogi, memutuskan untuk ke toilet Mesjid yang terletak tak terlalu jauh dari sini. Dia tampaknya kena demam panggung lagi.
            Saat asyik-asyik ngobrol tentang kompetisi kali ini, Kikan bersama teman-temannya datang, lalu duduk disampingku. “Hai semua.. udah siapkan?” Dia seriang biasanya.
            “Udah Kan.. mohon do’a nya. Hehe “ Jawab Bagas. Aku hanya tersenyum.
            “Pasti.. Oh, Iya. Bayu kemana?” Tanya Kikan. Ekspresi mukaku langsung berubah total mendengarnya.
            “Dia lagi ke toilet masjid sana.” Jawab Bagas sambil menunjuk kearah mesjid besar bercat hijau yang menaranya menjulang tinggi itu.
            “Oh, kena demam panggung dia itu.. haha..” Kikan tertawa lebar
            “Iya, dia selalu begitu” Balasku sekenanya. Nada bicaraku datar.
            “Tapi kamu sepertinya juga demam panggung deh Ndra, hehe ” Kikan mulai bercanda lagi
            “Ah, nggak ah.. Cemas dikit pasti, tapi nggak separah Bayu lah.” Jawabku berusaha meyakinkan diri sendiri.
            Tiba-tiba angin berembus melewati kami menuju kumpulan-kumpulan penonton  yang semakin bertambah. Aku tiba-tiba mencium aruma parfum Kikan yang tak biasa. Belum pernah sebelumnya dia memakai wangi yang ini. Aku tau betul apa wangi parfum yang sering dipakainya. Yang kali ini, lebih lembut. Tetap satu tipe dengan parfum-parfum dia sebelum ini. Dia memang lebih suka wangi yang tak terlalu tajam. Dan aku…. Aku suka juga dengan seleranya.
            “Wah, parfum baru ya Kan?” Tanyaku spontan.
            “Iya, kemaren di bawain Tante yang habis liburan gitu. Gimana? Wangi nggak?” Tanya Kikan tampak semangat
            “Iya, enak baunya. Hehe” Jawabku. Abu dan Bagas hanya menatapku. Aku tak terlalu memperdulikan mereka.
            Dari kejauhan tampak Bayu yang berjalan pelan menuju kami. Sesekali dia menoleh ke arah panggung dan melihat pembawa acara yang tampak sudah bersiap untuk segera memulainya. Semua penonton bersorak serentak saat pembawa acara dengan semangat mulai menjalankan aksinya. Bayu mempercepat langkahnya, dan segera bergabung dengan kami. Dia duduk disamping Abu yang memang disanalah satu-satunya ruang yang tersisa. Syukurlah Kikan membawa teman-temannya dan duduk disampingnya. Sehingga tak harus ada momen dimana Aku, dan Bayu harus duduk berdekatan, dengan Kikan ditengah-tengah Kami. Seperti adegan film-film romantis yang sering kak maya tonton di komputer dikamarnya.
            Band pertama memulai aksinya dengan sangat sempurna. Penonton riuh terbawa entakan drum yang dinamis yang dibawakan mereka. Seterusnya, kami semakin tertekan melihat penampilan kompetitor-kompetitor lain yang tak kalah ganasnya dari penampilan pertama. Band nomor urut dua membawakan lagu slow dengan lirik dan nada-nada yang mendayu-dayu. Sukses menginoptis penonton untuk melambaikan tangan. Band ketiga sukses membawa penonton berjingkrak-jingkrak hebat terbawa irama labu bit yang benar-benar memukai. Dan beberapa menit berselang, tiba juga kesempatan kami untuk membuktikan diri.
            Kami berempat berjalan pasti menuju panggung saat nama band kami dipanggil sang pembawa acara. Aku bergegas menuju tengah panggung mengampiri stand mic yang berdiri kokoh seolah tak sabar untuk segera membantu ku beraksi. Bayu bergegas mengambil gitar dan tampak jelas sesekali menarik napas panjangnya. Dia selalu begitu setiap akan memulai aksinya diatas panggung. Abu dan Bagas juga sudah siap dengan Bass dan Drum mereka.
            Tak beberapa lama mempersiapkan mental, kami memulai aksi sore ini. Bagas menabuh drumnya dengan sangat apik mengirinyi petikan gitar Bayu yang tak diragukan lagi, sangat mumpuni. Permainkan Bass Abu juga sangat mahir dan terlihat mantap. Aku mulai melantunkan baik saat masuk partnya, dan semua penonton bersorak menyaksikan penampilan kami. Sebuah lagu mellow dengan nada dan lirik, yang dengan bangga ku katakana, sangat menyentuh. Sebuah lukisan perasaan yang ku gambarkan dengan dalam, dalam irama dan kata-katanya. Kami menyudahi aksi panggung kami dengan iringan tepuk tangan takjup dari ratusan penonton sore ini.
***
            Sejam berlalu, sekitar 25 band sudah tampil dengan apik. Semua band ku akui sudah menampilkan penampilan maksimal mereka. Kami dengan perasaan cemas menunggu keputusan juri sore ini. Penonton serasa menghilang dan lenyap dari pandangan dan pendengaran kami, yang ada hanya kami berempat yang dengan amat menegangkan menunggu sebuah eksekusi. Terlebih saat MC berbadan subur itu kembali menaiki panggung dengan selembar kertas ditangannya. Dikertas itu, takdir musik kami ditulisankan. Apapun hasilnya, akan jadi batu loncatan untuk kami kedepan.
            Penonton kembali terdengar riuh saat MC kembali menyapa dan bersiap mengumumkan keputusan juri. Mereka bersorak, dan bertepuk tangan dengan kencang. Suasana semakin bergemuruh. Kami, dan pastinya peserta lainnya, makin tegang.
            “Dan juara tiga kompetisi band tingkat propinsi Sumatera Barat adalah…” Pembaca acara seolah ingin menguji kesabaran kami, sekaligus membiarkan kami kembali bernafas sejenak. “Selamat kepada Nirwana” Satu tempat juara sudah terisi. Itu berarti kesempatan kami untuk menang semakin sedikit. Namun juga kesempatan untuk mendapatkan juara yang lebih tinggi terbuka lebar.
            “Dan juara dua” Kami kembali dibuat tegang “selamat kepada Glass Band”
            Satu tempat juara lagi sudah terisi, itu artinya kami akan pulang sebagai juara, atau tak memperoleh gelar sedikitpun kali ini. Aku menoleh ke arah peserta-serta lain. Wajah mereka sama tegangnya. Pembaca acara tampaknya sengaja mengulur-ngulur waktu untuk membuat kami semakin resah menanti keputusan juri.
            “Tiba saat paling menegangkan untuk seluruh peserta yang belum disebut. Tanpa menunda-nunda lagi…”
            Tanpa menunda? Tampaknya MC berbadan gempal ini memang sengaja menguji kami. Cari masalah
            “Ok, tampaknya kalian sudah tidak sabar”
            Kampret
            “Selamat kepada” nafasku tertahan “A Big Little Thing”
***
            Kami berempat, dan juga Kikan dan teman-teman segera menuju kafe terdekat dari taman kota ini. Sedikit acara kecil-kecilan untuk berayakan kemenangkan kami sore ini. Sesampai di kafe dengan design modern dengan beberapa foto band terkenal dunia di dinding-dinding bercat hitam mengkilapnya, kami segera duduk di kursi yang terletak disudut belakang. Disini mejanya cukup luas, dengan kursi-kursi sofa panjang yang bisa menampung kami semua. Empat orang menghadapi timur, dan selebihnya menghadap ke arah barat. Kearah timur, bisa melihat foto vocalist My chemical romance. Dan yang menghadap ke arah barat, terpampang deretan menu-menu unggulan di kafe ini.
            Kali ini aku terpaksa menahan kembali egoku. Bagaimana tidak, Kikan duduk tepat disamping kanan Bayu. Sedangkan aku, tah ini kehendak takdir atau bukan, tepat duduk  di depan mereka. Menghadap jelas ke wajah Bayu. Aku harus berusaha ekstra keras untuk mengikhlaskan pemandangan ini. Abu yang duduk disampingku, tampaknya paham. Dia berusaha keras mengajakku mengobrol dengan topik yang tidak terlalu ku mengerti. Fokus ku hilang berantakan. Aku hanya mengangguk-ngangguk tanda setuju.
            Tiba-tiba aku mendengar Bayu berbicara. “Parfum baru yang?”
            Yang katanya? Darahku mendidih
            “Iya, oleh-oleh dari tante. Wangi kan?” Jawab kikan sambil tersenyum lebar. Aku hanya memperhatikan mereka. Abu memegang punggungku.
            “Iya sih, tapi nggak enak ah. Bagusan yang kemaren”
            “Masa? Tadi Indra bilang wanginya enak. Dia suka. Iya kan ndra?” Mereka berdua menoleh ke arahku. Kikan dengan senyum lebarnya. Dan Bayu dengan muka berkerutnya.
            “Ah.. iya. Wanginya natural gitu.” Jawabku bangga. Mampus kau Bay.
            “Tuh”
            “Oh” Respon Bayu sambil menatap ke arah mataku, tajam.
            Entah apa yang dipikirkan Kikan membawa ku dalam urusan mereka.
            Bersambung….

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...