Pages

Jumat, 08 Februari 2013

SONGLIT "You Belong with Me" - Taylor Swift - Cerbung Bagian 4

       Ketika ku membuka mata, disanalah, tepat didepan pandanganku, ku lihat Kikan sedang berdiri menghadap dan menatapku dari lantai 3 rumahnya. Dia tersenyum manis seakan terkesima dengan penampilanku sore itu. Aku laksana seorang pengamen yang sedang menampilkan sebuah sajian yang apik, dan Kikan memberiku selembar senyum sebagai bentuk kepuasan atas penampilan ku itu. Aku membalas senyumnya dan terus melanjutkan kocekan gitarku nada demi dana, serta kemudian melanjutkan lirik lagu yang sedangku bawakan itu. Ketika aku mulai melantunkan liriknya, jelas ku dengar Kikan juga bernyanyi bersamaku. Suara kami mengalun merdu begitu serasi, saling berbarengan, terkadang bersautan, dan berkejar-kejaran berima, selaras juga dengan kocekan gitarku yang semakin menggila hingga kata terakhir lirik lagu itu.

            Ketika semua selesai, Kikan mendaratkan pujian tanpa sungkan.
            “Wah.. hebat banget main gitarnya ndra”
            “Ah.. nggak kok..” Jawabku merendah, namun dengan jujur.
            “Iya, keren kok tadi.. keren banget” pujinya tanpa ampun
            Aku semakin yakin kalau dia telah begitu terpesona dengan pertunjukanku sore itu. Seketika itu juga aku langsung berniat untuk melanjutkan aksiku yang sudah ku rancang sedemikian rupa sejak minggu lalu, yaitu mengatakan perasaanku padanya. Sebuah kalimat penuh konsep telah ku persiapkan jauh-jauh hari.
Lagu tadi sebenarnya aku persembahkan spesial buat kamu Kan. Sebenarnya aku suka sama kamu. Mau nggak jadi pacar aku?
Ya, tiga kalimat singkat itu sudah beruangkali ku latih. Bagiku itu sama dengan ijab Kabul untuk mendapatkan hatinya. Bedanya ini tak bisa diulang-ulang, sekali saja, namun pasti, jika tidak, semua akan berantakkan. Sekali lagi setelah tak teritung kali jumlahnya, aku mulai menarik napas panjangku, dan memulai aksiku. Namun semua hancur lebur, ketika Kikan mulai bersuara lagi.
“Coba lagu lain dong ndra, aku masih mau dengar”
Aku langsung panik tak tau harus berbuat apa. Cuma lagu itu yang ku bisa, itupun aku harus kejar tayang melatihnya berhari-hari. Aku bahkan cuma tau beberapa kunci saja. Kunci-kunci dilagu Anugrah Terindah yang Pernah ku miliki Itu. Itupun aku tak hafal lagi nama kuncinya, cuma letak-letak dan formasi jari yang ku ingat dengan jelas. Aku mulai berkeringat dingin, namun harus tetap tersenyum menanggapi permintaannya. Aku tak mungkin jujur. Jujur sedikit aja, maka kekagumannya padaku akan berkurang drastis.
“Hmm.. ok..” Aku berusaha seyakin mungkin memberi respon padanya “lagu apa ya bagusnya?”
“Lagu Sheila On 7 yang lain deh, terserah yang mana”
“Ok.. bentar ya” jawabku
Aku semakin panik. Dalam panik itu, otakku kemudian berhasil menemukan ide gila yang cukup ampuh untuk mengakhiri sore indah yang bisa berantakkan itu. Secepat kilat ku turunkan gitarku, lalu sekuat tenaga ku tarik senar paling bawah sampai putus. Kikan tak akan melihatnya karena pandangannya terhalangi oleh tembok pagar, selain itu dia kala itu memandang lurus kearahku. Selanjutnya aku mulai ber-acting seakan tak berbuat apa-apa.
“wah.. sayang sekali Kan, senarku putus satu nih”
“Hmm.. ya udah.. nggak papa..” jawabnya tampak kecewa
“Maaf, lain kali aja ya Kan. Aku janji deh.”
“Ok ndra… aku akan tagih lo.. hehe..”
Aku gagal. Mungkin terlalu cepat bagi kami untuk memulai mengisi buku cerita itu. Kami bahkan belum cukup sebulan kenalan. Kisah indah apa yang akan kami isi berdua, sedangkan kami belum terlalu paham satu sama lain. Mungkin itu yang dihendaki takdir. Bagaimanapun itu, sore itu tetap salah satu sore terindah yang pernah ku ingat.
***
            Beberapa tahun setelah sore itu
            Sulit bagiku memulai untuk melanjutkan cerita ini. Itu sama saja aku menceritakan kebodohan ku sendiri. Tahun berganti tahun sudah berlalu. Saat ini kami sudah duduk dibangku kelas 2 SMA, juga di SMA yang sama. Tapi sedekat apa kami sekarang? Sudah berapa tahun kami menjalin hubungan cinta? Biar ku coba jawab sendiri. Kami bahkan belum memulai, dan sepertinya tak akan pernah memulai. Hubungan ku dengan Kikan memang jauh lebih dekat sejak sore itu. Tapi cuma sebatas itu. Kami cuma dua orang sahabat yang semakin lama semakin kenal satu sama lain. Namun hanya itu saja, tak lebih, sungguh.
            Biar coba ku coba flashback sedikit lagi tentang apa yang terjadi selama 3 tahun yang ku skip itu. Setelah sore itu, aku kembali memaksa Bayu untuk mengajariku. Namun dia mendesak ku untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Terpaksa ku ceritakan semuanya, bahwa aku belajar gitar untuk membuat Kikan terkesan. Tak ada yang ku sembunyikan dari sahabat sekaligus guru gitarku itu. Seperti dugaanku sebelumnya, awalnya dia terlihat enggan untuk mengajariku lagi. Walau dia tak terang-terangan mengatakannya, namun bisa kurasakan itu. Bagaimanapun juga, kami ini saingan untuk mendapatkan gadis yang sama.
            Namun sepertinya dia menyerah, dan akhirnya mau juga mengajariku sampai benar-benar bisa. Dan pada akhirnya aku bisa memenuhi janjiku pada Kikan untuk memainkan lagu-lagu lain untuknya. Sampai sekarang dia sering memintaku untuk bermain gitar dan bernyanyi untuknya, terutama saat kami bertemu di taman depan rumah di tengah komplek. Paling sering dia memintaku untuk memainkan lagu You Belong with Me dari Taylor Swift.
            Ngomong-ngomong soal musik, akhirnya Kikan juga yang membuatku mau bergabung dengan Bayu, Bagas, dan Abu untuk membuat sebuah band. Tepatnya pertengah kelas 2 SMP kami resmi membuat band. Bandnya kami namai cukup panjang, A BIG LITTLE THING. Sampai sekarang kami sudah sering manggung dari kafe ke kafe, dan juga dari satu kompetisi ke kompetisi lainnya. Kami juga sudah punya 2 lagu yang sering kami bawakan di kompetisi-kompetisi tersebut. Kedua lagu itu, aku sendiri yang menciptakan. Walau awalnya bergabung dengan cukup terpaksa, aku akhirnya menikmati kesibukan ini.
            Coba ku jelaskan sedikit saja tentang kedekatan kami. Semakin hari semakin lama aku semakin tau tentang Kikan, begitu juga dia. Apa musik kesukaan, band favorit, hobby, yang paling dibenci, makanan yang paling disuka, atau lainnya. Kami berdua tau satu sama lain. Aku tau betul hal yang paling membuatnya badmood, dan dia sendiri juga tau bagaimana cara membujukku sehingga aku akhirnya luluh setiap kali dia memohon sesuatu. Semuanya, tapi tentu saja tentang perasaanku padanya, dia tak akan tau.
            Apa yang membuat aku begitu lemah sampai sekarang belum juga mengungkapkan perasaan cinta padanya? Aku takut. Aku takut dia akan menolakku dan akhirnya malah merusak kedekatan kami. Berbulan-bulan dalam kebodohan ini, akhirnya aku menyerah untuk mencoba dan membiarkan hatiku tersiksa demi persahabatan kami.  Aku tak bisa mengambil resiko akan kehilangan senyumnya suatu saat nanti. Bertahan, dan menutup perasaan ini rapat-rapat mungkin pilihan bodoh, namun bagiku itu yang terbaik. Tertawalah, tertawai pecundang ini.
***
            Dengan menentang gitar, ku berjalan menuju taman didepan rumahku sore itu. Kikan yang sedang menyiram bunga di perkarangannya, menyapaku, lalu mematikan kran air, dan mengikutiku juga ke taman. Sesampai ditaman kami langsung duduk dibangku kayu dibawah pohon dan bercengkrama seperti biasa. Tapi ada yang aneh dengannya sore itu. Dia tampak begitu serius, seperti sedang memikirkan sesuatu yang amat besar. Nada suaranya sangat tak biasa. Dia juga tak menampakkan senyum-senyum indahnya yang selalu ku suka. Aku tak tau apa yang sedang dia pikirkannya saat itu. Sesekali aku coba menyampaikan humor-humor untuk membuatku tertawa, namun dia tak menangkap kelucuan sedikitpun dari apa yang ku sampaikan.
            Untuk mencairkan suasana yang agak kaku, aku mulai memetik gitar, dan menyanyikan lagu bait demi bait untuknya. Dia hanya terdiam kaku memandang kearah anak-anak SD yang sedang bermain sepakbola di lapangan basket di tengah taman. Biasanya setiap aku bermain gitar dan bernyanyi, dia akan melihat ku tanpa berpaling, atau sesekali bernyanyi juga bersamaku. Sore itu tidak. Sampai bait dan nada terakhir dia tak sedikitpun beralih pandang menatap ku. Setelah beberapa saat, saatku berniat untuk menyanyikan lagu lain, dia mulai bersuara dengan nada yang amat serius.
            “Tunggu dulu ndra, aku boleh nanya nggak?” dia memutar kepalanya dan memandangku. Aku mulai gugup. Apa yang akan dia tanyakan. ”Nanya apa Kan?” balasku dengan nada sedikit ber-vibra.
            “Hmm.. Si Bayu orangnya gimana sih?” Jantungku benar-benar tersentak mendengarnya. Aku seperti disambar petir dengan kekuatan super dasyat. “Kenapa emangnya Kan?” aku berusaha menjawab setenang mungkin. Namun aku semakin panik dengan apa yang akan dia katakan.
            “Hmm.. gini.. aku jawab jujur aja ya. Kamu jangan ketawa ya. Tadi siang dia….. dia nembak aku sepulang sekolah..” balas kikan sambil kembali memandang ke arah anak-anak SD yang sedang bermain itu. “tapi belum aku jawab sih. Aku masih ragu”
            Aku ditusuk dari belakang oleh sahabatku sendiri. Bayu tau betul bahwa aku sangat cinta dengan Kikan, namun dia mengorbankan persahabat kami dan menyikutku tanpa malu. Aku benar-benar murka, namun masih berusaha ku tutupi didepan Kikan.
            “Gimana ndra? Bayu itu orangnya gimana?” Kikan kembali bertanya padaku. Aku tak tau harus menjawab apa. Jika aku katakan hal-hal baik, habis sudah kesempatanku untuk mendapatkannya. Jika sebaliknya, apa yang akan Kikan pikirkan tentangku yang suka menjelekkan sahabat sendiri.
            “Hmm.. Bayu itu…hmm.. ” Namun tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara Ibu Kikan memanggilnya. “Iya.. bu..” jawab Kikan.
            “Ya udah, ntar aja ku tanya lagi yang ndra” katanya padaku.
            Aku selamat. Namun semakin murka dengan Bayu. Aku lalu berjalan cepat menuju rumah, dan meletakkan gitarku di sofa diruang tamu, dan bergegas keparkiran. Aku melajukan motorku dengan cepat menuju rumah Bayu. Aku ingin sekali menghajar pengkhianat itu. Dadaku semakin sesak saja menahan amarah. Sesampai dirumahnya, ibu bayu membukakan pintu padaku. Dia memanggil Bayu, lalu dia keluar tanpa rasa malu sedikitpun.
            Aku mengajaknya keluar rumah sebentar, dan membawanya menuju depan gerbang kompleknya. Aku tak ingin mibu Bayu melihatku menghajar anaknya. Sesampai disana, dengan amat panas, aku langsung meluapkan kekesalanku.
            “Lu benar-benar kampret yang Bay.”
            “Santai dulu Ndra, kenapa sih?”
           “Lu masih nanya kenapa? Emang lu nggak punya malu ya Bay. Menikung sahabat lu sendiri” jawabku benar-benar penuh amarah.
            “Menikung apa?”
            “Lu nembak Kikan tadi siang sepulang sekolah kampret. Udah ingat lu?”
            “Oh… maaf ndra”
            “Masih bisa bilang maaf lu ya, gue pastiin lu nggak akan bisa dapatin dia”
        “Eh, lu dengar ya ndra” Bayu mulai melihatkan kekesalanya juga. “Gue udah sabar memendam perasaan gue pada Kikan selama ini demi lu. Tapi sampai bertahun-tahun ini lu belum juga ngungkapin ke dia. Dan lu nggak beranikan, ceman? Jadi letak salah gue dimana? Gue udah berkorban untuk lu selama ini, tapi sia-sia karna kecemenan lu itu. Maaf, sekarang giliran gue dekatin dia. Gue cinta sama Kikan.” Bayu menatap Tajam kemataku.
            Tanpa melihat ke arahnya lagi, aku segera menaiki motorku, dan melajukannya secepat mungkin.
            Bersambung……..

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...