Pages

Sabtu, 23 Februari 2013

SONGLIT "You Belong with Me" - Taylor Swift - Cerbung Bagian 5

            Apakah ini akhir dari persahabatan ku dengan Bayu? Aku sebelumnya tak pernah mengira Bayu akan melakukan ini. Di awal-awal kenal dengan Kikan, dia sudah terlihat menyerah karena tau aku juga suka dengan gadis itu. Bahkan dia mengajariku bermain gitar untuk bisa memuluskan niatku dekat dengan Kikan. Tapi setelah bertahun berlalu, akhirnya perang ini terjadi juga. Dia telah mulai mengambil ancang-ancang untuk mengancurkanku.
            Sebenarnya semuanya ada ditanganku. Tergantung keputusan apa yang akan aku ambil. Kikan pasti akan bertanya lagi padaku soal Bayu sebelum akhirnya memutuskan jawabannya. Jika aku memilih untuk menjelek-jelekan Bayu, habis sudah kesempatannya untuk mendapatkan Kikan. Namun jika sebaliknya, Bayu akan memenangkan hati gadis yang sudah ku taksir bertahun-tahun itu, dan aku akan semakin terpuruk sebagai pecundang. Tapi apa aku sanggup melihat mereka bahagia nantinya? Apa aku ikhlas melepas Kikan untuk sahabatku sendiri? Berat, aku tak akan berdaya.

            Ketika sampai dirumah setelah dari rumah Bayu, aku bergegas masuk ke kamar, tak mau terlihat Kikan. Aku belum memutuskan apa yang harus ku lakukan. Dari kamar, dari balik tirai dijendela kamarku, aku mengintip ke atas, ke lantai 3 rumahnya. Dia baru saja sampai disana dan berdiri disisi sebelah kiri menghadap kearah rumahku. Pasti dia sedang menantiku. Aku tak akan kesana sore ini. Semenit berselang, aku lihat dia mengeluarkan hp dari saku celananya. Ku bergegas meraih hp yang ku letak diatas meja, lalu segera mematikannya. Ekspresi kecewa terlihat jelas diwajahnya saat menyadari kalau hpku mati. Aku berbalik arah ketempat tidur, dan memutuskan untuk istiraat sebentar memulihkan emosi.
            Belum sempat terlelap, kak Maya mengetok pintu kamarku. “Ndra, Kikan nunggu dibawah tu, dia mau ketemu katanya.” Aku langsung tersendak ditempat tidurku. Gadis itu ternyata tak main-main, dia benar-benar berniat untuk tau tentang Bayu dari ku. Aku sendiri belum memutuskan apa yang harus ku jawab. Tapi apapun itu, aku tak ingin menjadi orang baik yang mengorbankan perasaannya sendiri. Mungkin itu sudah keputusan dan jawaban yang hatiku pilih. Dengan yakin ku turun kebawah menemuinya, lalu mengajaknya ke taman.
            Sesampai disana, tanpa basa-basi lagi Kikan kembali bertanya hal yang sama. Dengan masih ragu, kumpul-kumpulan kejelakan bayu, baik yang benar maupun yang sedikit ku dramasitir, sudah siap ku utarakan pada gadis itu. Namun saat bibirku berucap, yang ku dengar keluar dari mulutku, bukanlah hal-hal yang inginku kusampaikan itu. Benar-benar beda, bibirku telah berkianat. “Bayu.. selama aku kenal dia, setauku dia tak pernah macam-macam. Dia sudah dua kali pacaran sebelum ini. Dan mereka putus bukan karena dia. Dengan pacar pertamanya, putus karena ceweknya itu tidak boleh pacaran sama orang tuanya sehingga mereka terpaksa putus. Dengan pacar keduanya, putus karena ceweknya ini pindah ke luar kota. Dia nggak playboy kok, jangan takut.” Bibirku terus saja mencerocos tanpa henti tanpa mempedulikan lagi perasaanku. Tanpa ditanya Kikan lagi, dan tanpa memberinya waktu untuk bertanya, aku terus saja mengungkapkan apa yang tak seharusnya ku kataka tentang sainganku. Tak ada sedikitpun kejelekan yang ku beberkan. Selesai mengungkapkan itu semua, badanku benar-benar lemah, dan lunglai. Aku serasa menusuk-nusukkan pisau kehatiku sendiri.
***
            Apa yang ku lakukan sore itu benar saja telah berubah semuanya. Mulai dari hubungan Kikan dengan Bayu. Tak butuh waktu lama, informasi itu menyebar keseluruh penjuru sekolah, mulai dari siswa kelas satu sampai kelas tiga, ibu-ibu kantin, satpam gerbang, sampai beberapa guru pun sepertinya tau juga. Kikan dan Bayu akhirnya jadian. Sebagai ketua Osis, tentu saja gerak-gerik Bayu jadi perhatian semua orang. Belum lagi, ketika dia berhasil mendapatkan hati gadis tercantik disekolah, maka informasi itu akan tersihar dengan segera.
            Begitupun aku, aku mendengarnya dari Abu. Dia segera menemuiku saat mendengar berita itu. Sebagai sahabatku juga, dia tentu saja tau selama apa aku menaruh hati pada Kikan. ‘Lu, nggak apa-apa kan ndra?” “nggak, mau gimana lagi” jawabku sekenanya. Aku paham Abu pasti kuatir kalau masalah ini akan merakibat buruk terhadap persahabatan dan band kami. Terlebih lagi, bulan depan, kami harus mengikuti kompetisi band di salah satu mall terbesar dikota ku. Aku sendiri tak ingin menghancurkan band ini. Ini band yang kami bangun dengan susah payah. Tapi apa aku sanggup memperbaiki persahabatanku dengan Bayu?
            Ketika hendak meninggalkan Abu, tiba-tiba Bayu datang dibelakang kami. Walaupun dia paksa untuk terlihat bersimpati dengan kesakitan hatiku, tapi wajah bahagianya itu tak akan bisa ditutupi. “Sorry ndra..” Aku hanya tersenyum kecil seadanya, lalu pergi meninggalkan mereka berdua memasuki kerumunan siswa yang sedang mengantre memesan makanan dikantin sekolah.
***
            Siap mencintai, berarti harus siap juga merasa sakit. Aku tau itu, tapi aku tak siap. Terlebih lagi aku sendiri yang membuat ini semakin rumit. Kalau saja Kikan tak jadian dengan Bayu mungkin tak akan sesakit ini. Setiap melihat mereka berdua, aku harus selalu terbayang bagaimana Bayu memperlakukannya sebagai pacar nanti. Aku tak sanggup membayangkan ketika Sahabatku itu memegang tangan, atau merangkul pundaknya.
            Tak sepertiku yang semakin canggung didekatnya, Kikan tak berubah sedikitpun. Walau aku mencoba untuk menghindar, tapi dia selalu datang menghampiriku. Seperti sore itu, saat aku sedang semangat membara mengocek nada demi dana dengan gitarku mencoba melantunkan bait-bait yang mewakili perasaanku saat itu, tanpa aku sadari dia sudah ada disebelahku, sedang duduk memperhatikan. Aku selalu mencoba setenang mungkin meresponnya. “Hi, kan” sapa ku. Dia membalas dengan senyum, seindah biasanya. “Nyanyi lagi yang lain dong” pintanya.
            Aku menangguk, dan mulai memetik gitarku. Kikan hanya mendengarkan, sambil menurunkan sedikit badannya, dan menyandarkan kepala di kursi. Aku terus hanyut dalam bait demi bait yang ku bawakan. Hingga ketika aku selesai, Kikan mulai bersuara lagi.
            “Hmm.. oh iya.. ndra.. Selama ini kamu nyanyiin lagu Taylor Swift buat aku. Sebenarnya keberatan apa nggak?”
            Aku kanget mendengar Kikan bertanya begitu. Dia tampak serius.
            “Ah? Kok tanya gitu sih? Ya nggaklah, aku kan juga suka lagu-lagunya”
            “Maaf, bukannya nggak percaya. Tapi tadi aku minta bayu mainin lagu Taylor Swift buat aku. Tapi dia nggak mau. Dia nggak suka katanya, malah nyanyiin lagu lain.” Kikan tampak manyun.
            “Bayu memang kurang suka sama lagu-lagu dari penyanyi cewek, apa lagi genre nya country. Dia lebih ke band-band pop atau pop rock gitu.”
            “Nah itu maksudku. Kalian kan satu band. Harusnya selera musik kalian sama. Kalau Bayu nggak suka, berarti kamu juga kan?” Wajahnya semakin berkerut.
            “Memang kami semua sama-sama penyuka pop dan pop rock. Makanya kami bisa disatukan. Tapi kan nggak harus sama persis. Tentu ada saja yang berbeda. Contohnya, Si Abu, dia itu juga suka lagu balad, selain pop rock. Sedangkan si Bagas dia nggak suka itu. Tapi band kami baik-baik saja kan” Jawabku jujur. Tapi apakah sekarang band kami benar-benar baik-baik saja? Aku bahkan belum pernah gabung dengan mereka lagi sejak hari Kikan dan Bayu jadian itu.
            “Hmm.. Jadi benar nih nggak keberatan?” Kikan tersenyum sambil bertanya
            “Iya”
            “Ya udah.. kalau gitu coba nyanyi sekarang”
            Aku langsung menerima tantangannya, dan mulai melantunkan lagu Love Story nya Taylor Swift. Seperti biasa, dia terlihat begitu menikmati alunan gitar dan suaraku. Ini cukup, walau hati ini masih perih, dekat Kikan semua nya seakan sembunyi sesaat. Sakit ini cuma sedang menikmati jedanya, cuma menunggu waktu ketika nanti hati ini akan kembali terluka.
***
            Sungguh, aku benar-benar tak ingin menghancurkan band ini. Bagaimana mungkin. Bertahun-tahun membesarkannya bersama-sama, Kini musik sudah jadi tujuan utamaku, dan Band inilah Jalannya. Tapi sudah dua minggu lamanya aku tak pernah lagi latihan dengan mereka, padahal kami harus manggung dikompetisi band beberapa minggu lagi. Beberapa kali Abu, dan Bagas datang kerumah, walau mereka tak terang-terangan memaksaku untuk latihan lagi karena mereka juga memikirkan perasahaanku yang belum siap ketemu dengan Bayu, tapi aku paham betul mereka. Mereka sudah mulai panik dengan keadaan yang semakin tak jelas ini.
            Namun hari itu, saat aku sedang duduk didepan meja komputer sedang memainkan beberapa game yang baru saja aku beli, tiba-tiba seseorang mengetok pintu kamarku. Awalnya aku tak mempedulikan, mungkin itu Kak Maya yang lagi-lagi iseng menggangguku. Dia belum berubah sedikitpun sampai sekarang. Namun sekali lagi pintu ku diketok, dan seseorang yang ku kenal mulai bersuara dari balik pintu kayu bercat coklat tua itu. “Ndra.. ini gue Bayu” Pasti dia dipaksa Abu, dan Bagas datang kesini.
            “Masuk aja, nggak dikunci” Balasku dengan nada malas. Bayu membuka pintu Kamarku pelan-pelan. Aku tak melihat kearahnya, masih pura-pura fokus dengan game yang sedang ku mainkan. Dia lalu duduk dikasur, dan kemudian hening saja seolah sedang berpikir keras untuk memulai pembicaraan. Akupun tak berniat untuk memulainya. Bayu mengalah, lalu memaksa keras dirinya untuk memecah keheningan itu. Walau dia berusaha untuk terlihat santai, namun gugupnya tak akan bisa disembunyikan.
            “Wah.. game baru ya, kayaknya bagus nih. Gantian dong” Dia lalu merampas mouse dari tanganku. Aku terpaksa mengalah, dan berdiri. Lalu berbalik, dan duduk dikasurku. Bayu mulai mencoba fokus dengan gamenya. Namun ku tau, pikiran kembali bercabang, bagaimana memulai membicarakan niatnya sore ini kerumahku. Akupun mulai kesal, dan terpaksa berbicara.
            “Gue tau, lu kesini pasti ada maksudnya. Apa? Mau maksa gue main band lagi?” Aku mencerocos tanpa belas kasihan
            Bayu melepaskan mouse dari tangannya, dan membalik badan menghadap padaku. Tak lama, di monitor komputer ku lihat, para zombie kelaparan berhasil menggerogoti dan menggigit tokoh utama game itu sampai darahnya habis.
            “Iya ndra. Lu nggak boleh mengabaikan band kita begini saja. Kompetisi kali ini berarti banget untuk kita. Ini kelasnya udah tinggi, jauh diatas kompetisi-kompetisi yang kita ikutin sebelumnya. Dan lu tau itu kan? Kita harus semakin sering latihan. Kita belum matang, dan masih butuh latihan. Lagu yang kita akan bawakan itu, juga masih mentah, butuh banyak perombakan lagi.” Bayu mulai menghiba. Aku hanya terdiam sambil melihat kearah yang tak jelas. Sepertinya, Abu, dan Bagas sukses memaksa Bayu untuk menghiba didepanku.
            “Besok kita latihan distudio biasa jam 5 sore. Lu harus datang”
            “Gue usahain” balasku sekenanya. Aku benar-benar ingin datang, namun terlalu banyak “tapi”dalam otakku kini.
            “Ok, gue cabut dulu” Bayu mengambil jeketnya yang diletakkan diatas kasurku tadi, lalu berjalan menuju pintu kamarku. Namun langkahnya kemudian terhenti, dan mulai berbicara lagi. “Dan.. makasih lu sudah ngomong baik-baik tentang Gue didepan Kikan.” Suaranya parau. Aku bisa merasakan kalau dia benar-benar berbicara tulus saat itu. Tak berniat sedikitpun untuk membuatku murka mengingat itu lagi.
            “Lu tau darimana kalau gue ngomong gitu?” jawabku
            “Kikan yang bilang, thanks and….. sorry, gue nggak ada maksud sedikitpun merusak persahabatan kita.” Dia lalu membuka pintu, dan berjalan keluar.
***
            Aku berusaha keras memaksa diriku untuk menganggap ini tak pernah terjadi. Tapi berat memang. Kami bertiga sudah kusut, terjalin-jalin tak karuan. Aku cinta Kikan. Kikan dicintai oleh Bayu. Bayu itu sahabatku. Dan Kikan dan Bayu kini berpacaran. Bagaimana bisa semua ini akan berjalan sewajar biasanya.
            Namun aku tak mungkin mengorbankan band yang sudah kami bangun ini demi mengindari Bayu. Aku terpaksa mengiraukan sakit hatiku demi cita-citaku ini. Entah sampai kapan ini akan bertahan. Tapi aku harus memilih ini. Dan sore itu ku dapati diriku sudah berdiri di depan studio yang biasa kami sewa untuk latihan. Butuh pergulatan batin lagi untuk memasukinya.
            Saat membuka pintu studio, di dalam sudah ada Abu dan Bagas sedang duduk disamping drum dengan wajah kusut mereka. Mereka tersenyum lebar saat melihatku memasuki studio yang dipenuhi poster-poster band dari barat itu. Aku mengampiri mereka.
            “Karena kalian sukses memaksa Bayu menemui gue, gue nggak mungkin bertahan jadi pecundang. Siapkan latihan lagi?” ucapku, sambil tersenyum.
            “Siap dong” kata Bagas dengan penuh semangat. Lalu dia melanjutkan, namun dengan raut muka yang berubah “Tapi kami nggak pernah memaksa Bayu untuk membujuk lu ndra. Kami tau perasaan kalian berdua. Dan kami paham gimana ruwetnya masalah ini. Kami nggak tau harus berbuat apa”
            Aku langsung terbulalak mendengarnya. Nafasku tertahan sejenak. Tiba-tiba seorang membuka pintu. Bayu lalu memasuki studio.
            Bersambung………..

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...