Pages

Sabtu, 02 Februari 2013

SONGLIT "You Belong with Me" - Taylor Swift - Cerbung Bagian 3

          Pak Malik melangkah keluar dari kelas. Beberapa siswa juga bergegas menuju kantin. Telat sedikit saja, kemungkinan tidak dapat meja kosong di Kantin favorit semakin besar, dan terpaksa mengungsi ke Kantin lain yang terkadang tak cocok dilidah. Aku dan bayu dan dua teman lain juga bergegas menuju Kantin Bu Ita yang terletak didekat parkiran. Perutku benar-benar sudah keroncongan sejak tadi. Sebelum bergegas ke Kantin tadi aku sempat melihat Kikan. Dia sedang asyik mengobrol dan sepertinya juga sedang siap-siap menuju Kantin bersama teman semejanya, Sari. Jadi aku tak perlu kuatir kalau dia akan kesepian di sekolah barunya ini.

            Di Kantin sembari menunggu pesanan datang, Bayu mulai melanjutkan introgasinya. Dia tampaknya masih penasaran mengapa aku bisa kenal Kikan duluan.
            “Jadi benar lu udah kenal Kikan sebelumnya, ndra?”
            “Masih penasaran aja lu.. haha…”
            “Jadi?” Desaknya
            “Iya..” jawabku sambil cengegesan
            Teman-teman lain mulai menyimak juga pembicaraan kami
            “Kenal dimana?” lanjutnya
            “Kami itu tetangga. Dia kemaren baru aja pindah ke rumah samping rumah gue itu”
            “Oh.. rumah yang baru siap itu?”
            “Iya..”
            “Hmm”
            Akhirnya pesanan kamipun tiba. Dua Mie Ayam, Dua Nasi Goreng, dan Empat Es Teh. Aku tak sabar lagi menghabiskan nasi goreng, telur mata sapi, lengkap dengan tomat dan lobak itu. Namun baru mau menyuapnya, tiba-tiba Kikan datang menghampiri mejaku bersama teman-teman barunya.
            “Hi, ndra. Makan disini juga?”
            “Eh..  Kan. Sari, Nana, Ani” Sapaku pada mereka.
“Oh.. iya. Kenalin Kan, ini teman2 Sekelas kita juga” Lanjutku. Aku tau dari tadi pagi mereka memang ingin kenalan dengan Kikan. Tak ada salahnya berbagi kebahagiaan.
            Teman-teman ku satu persatu memperkenalkan diri pada Kikan. Bayu tampak yang paling gugup diantara mereka. Sembari menunggu giliran bersalaman dengan Kikan, sesekali dia menggaruk-garuk kepalanya yang ku yakin sebenarnya tidak gatal itu. Dikeningnya juga kulihat butiran-butiran keringat menggantung. Selesai memperkenalkan diri, Kikan pamit menuju meja yang cukup jauh dari mejaku. Samar-samar aku dengar dia juga di introgasi dengan pertanyaan yang sama yang ku dapat dari Bayu. Aku hanya tersenyum terus memperhatikan langkah Kikan menjauh. Namun tiba-tiba ku dengar suara Bayu mengangetkan ku.
“Gue yakin nih.. lu suka sama Kikan kan?” Sorot matanya tajam, seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi tahanan.
            “Hmm.. mmm... nggak ah…” jawabku gugup
            “Kalau jawabnya model begitu, berarti iya” sambarnya
            “Iya deh.. hehe..”
            Sorry Bay lanjutku dalam hati
            “Yah.. gagal sebelum memulai gue.”
            “Lu sama Sari aja. Gue lihat dia sering perhatikan lu. Tatapan matanya itu beda. Hehe…”
            “Dia bukan type gue kali..” jawab nya terlihat panik.
            “Ha..ha..” Kami semua tertawa serentak
“Oh.. iya.. ntar pulang sekolah kalian harus dengar kocekan gitar gue.. gue butuh masukan” Bayu mencoba mengganti topik
            “Gimana gue mau menilai, gue aja nggak bisa main gitar” jawabku
            “Lu dengar aja. Biar Bagas sama Abu yang nilai gue..”
            “Aman.. “ Jawab Bagas
            “Oh iya.. Gue sama Indra rencana mau bikin band nih.. Kalian mau gabung nggak?”
            “Eh.. gue belum pasti ya?” sambar ku.
            “Udah.. lu nggak usah mikir-mikir lagi deh..Gimana Gas, Abu? Mau nggak?”
            “Mau banget gue..” Jawab Bagas dengan Yakin. Sejak pandai menggebuk drum, dia memang sudah berniat membuat band
            “Gue juga” tambah Abu yang mulai mahir memainkan Bass itu.
            “Jadi lu, sang covalist, nggak ada alasan lagi buat nolak ndra” paksa Bayu.
            Tanpa sadar makanan didepan kamipun habis tanpa sisa. Beberapa dekit kemudian Bel tanda masuk kembali menggema. Kamipun bergegas masuk ke kelas.
***
            Sepulang dari rumah Bayu untuk mendengarkan kocekan gitarnya yang semakin mahir saja, Aku bergegas menuju kamar untuk istiraat sebentar. Syukur-syukur bisa melanjutkan mimpi yang tadi pagi sedikit menggantung. Selesai mengganti pakaian, aku lalu menghidupkan kipas angin, dan segera meloncat ke tempat tidur. Baru mau memejamkan mata, ku dengar lantunan musik dari band yang kala itu sedang naik daun, Sheila On 7, keluar dari kamar Kikan. Aku lalu bangkit, dan mengintip dari balik tirai jendelaku. Dia terlihat jelas dari sana. Berdiri di depan jendelanya, sedang mengatur equalizer dan memutar-mutar volume tape nya yang sedang memutarkan lagu “Anugrah terindah yang pernah kumiliki” itu.
            Aku lalu putar badan, dan kembali ke tempat tidur. Namun mataku tak bisa lagi ku pejamkan. Pikiranku penuh dengan bayangan-bayangan tentang Kikan tadi disekolah. Dia semakin ramah, dan kami semakin akrab. Selain itu, dari kasur, ku dengar jelas Kikan beberapa kali memutar lagu yang sama. Hanya selang beberapa lagu lain, dia kembali memutar lagu Sheila On 7 itu, seperti tak pernah bosan.  Saat itu aku tau kalau Kikan sangat menyukai lagu itu. Sekita itu juga sebuah ide muncul di kepala ku. Aku bergegas lari ke lantai satu menuju telepon rumah yang terletak dibawah disamping tangga. Aku bergegas mencari buku kecil yang biasa dipakai untuk mencatat nomor-nomor keluarga atau teman, lalu mencari nomor telpon rumah Bayu, dan segera menghubunginya.
            Dari ujung telpon ku dengar suara Bayu.
            “Halo Bay, ini gue, Indra.”
            “Oh.. kenapa ndra?”
            “Lu ajaran gue main gitar ya. Bisa kan?”
            “Bisalah. Tapi kenapa mendadak pengen belajar gitar gini?” Tanya bayu penasaran
“Kapan-kapan gue ceritain. Tapi besok pulang sekolah ya, kita langsung ke rumah lu” Pintaku dengan paksa.
            “Iya deh, buru-buru amat”
            “Ok.. bye..” aku langsung menutup ganggang telpon
            Ya, aku ingin buat Kikan terkesan denganku. Aku ingin belajar gitar, dan menyanyikan lagu itu untuknya dengan gitar yang ku petik sendiri. Ide itu sendiri muncul dari cuplikan sinetron di TV yang ku tonton beberapa malam yang lalu bersama Kak Maya di ruang tamu. Sebuah ide gila untuk aku yang baru pertama kali merasakan cinta.
***
            Sejak hari itu ku paksa Bayu untuk mengajariku setiap hari di rumahnya, atau disekitar taman kota dimana biasanya anak-anak muda berkumpul. Aku tak ingin belajar dirumah. Aku ingin Kikan melihatku sudah pandai bermain gitar saja. Dia tak perlu melihat prosesnya.
            Selain itu, Bayu sendiri sangat penasaran dengan tujuan ku yang terburu-buru ingin cepat bisa bermain gitar begitu. Aku tak ingin dia mengajari ku dari dasar dengan mengenal kunci demi kunci terlebih dahulu, tapi langsung mengajariku khusus untuk lagu itu, “Anugrah terindah yang pernah kumiliki”. Dia semakin bingung
            “Lu kenapa sih ndra? Belajar itu butuh proses”
“Udah.. lu nggak usah banyak komplain, ajarin aja gue untuk lagu itu. Ntar kapan-kapan gue ceritain. Ok?”
            “Ya udah deh”
            Jadilah selama seminggu lebih setiap hari aku diajarin bayu memainkan gitar untuk lagu itu saja. Aku memang ingin benar-benar mahir mengocek gitar untuk lagu apapun. Tapi untuk misi yang satu ini, tak bisa ditunda lagi. Waktu begitu mendesak, sebelum Kikan akhirnya bosan sendiri dengan lagu itu. Kalau dia sudah bosan, maka momentnya tak akan pas lagi. Tak mudah memang, jariku kesakitan dipaksa bekerja keras tanpa adaptasi sedikitpun. Tapi hasilnya, aku sukses memainkan lagu itu.
            “Ok, kayaknya udah pas, cepat juga ya lu belajar.”
            “Benarin nih sudah pas? Wah..”
            “Iya.. dan sekarang ceritain ke gue.. kenapa?” paksanya mengintrogasiku.
            “hmm.. tiga hari lagi deh gue ceritain..”
            “ok.. gue tunggu”
            “Tapi besok lu temanin gue ke toko buat beli gitar baru. Gimana?”
            “Ok..” nada bicaranya terdengar aneh.
            Dua hari lagi aku akan menjalankan misi rahasia ini, bahkan Bayupun tak tau. Aku tak ingin dia tau niatku. Aku tau dia suka juga dengan Kikan. Jika dia tau kalau Kikan suka lagu itu, dan aku belajar gitar untuk Kikan, aku takut dia akan berpikir dua kali untuk mengajariku. Misi dua hari lagi itu harus sukses.
***
            Sore itu sangat bersahabat. Tak panas tak hujan pula. Aku bergegas menuju lantai 3 rumah ku untuk memulai konser spesialku untuk Kikan. Sebelum ke lantai 3 tadi aku sempat mengintip ke arah Kamarnya melihat apa yang sedang dia lakukan. Dia terlihat sibuk di meja belajarnya sedang menulis sesuatu. Selain itu, tapenya sedang mati, berarti dia pasti bisa mendengarku nanti.
            Dengan tarikan nafas yang cukup panjang, aku mulai memetik gitarku. Intro terdengar mulus dan jernih. Ketika sampai saatnya, ku tarik sekali lagi nafas panjang, dan mulai menandungkan bait pertamanya.
            Melihat tawamu
            Mendengar senandungmu
            Terlihat jelas dimataku
            Warna-warna indahmu
Kurasa suaraku, mengalun kompak dengan suara gitar yang kumainkan. Ku lanjutkan bait demi baik sambil memejamkan mataku merasakan indahnya Irama dan lirik lagu itu. Dari setiap bait demi bait yang ku lafaskan bayangan wajah, dan senyum Kikan tergambar dipikanku.
            Menatap langkahmu
            Meratapi kisah hidupmu
            Terlihat jelas bahwa hatimu
            Anugrah terindah yang pernah kumiliki
Aku kemudian membuka mataku, sembari terus mengocek gitar. Ketika itulah, ku lihat Kikan berdiri juga dilantai 3 rumahnya, melihat kearahku, dan tersenyum.
            Bersambung……..

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...