Pages

Selasa, 15 Januari 2013

SONGLIT "You Belong with Me" - Taylor Swift - Cerbung Bagian 1

Udara dingin malam menembus kulitku. Badanku bergetar hebat tiap kali hawa angin itu melewatiku dan berputar-putar sebentar disekitarku, lalu pergi, sekedar untuk menyapa. Beberapa saat kemudian rombongan angin lain datang, dan melakukan ritual serupa, dan kemudian pergi juga, untuk berlalu. Jeket abu-abu ku bahkan tak sanggup menahannya mencapai badanku. Namun ku tak berniat sedikitpun untuk beranjak dari tempat ini.
Dari atas sini, di bagian atas rumah yang sengaja dibuat untuk tempat jemur pakaian, dan tempat nongkrong dengan satu pendopo kecil di bagian sudut kanan, dan satu ayunan kecil disampingnya, aku bisa memandang bebas langit malam ini yang cukup cerah. Bintang – bintang bertaburan di segala arah, ada yang menumpuk satu sama lain saling berebut tempat untuk bisa dinikmati penduduk bumi, ada yang terpisah, menyendiri menunjukan keanggunannya, ada pula yang membentuk formasi indah nan agung. Tapi dari segala rupa mereka, bulan purnama yang membulat sempurnalah rajanya. Kokoh memimpin para bintang untuk memberikan pemandangan sempurna malam ini.

            Sesekali aku seruput segelas teh panas tawar ditanganku. Perasaan tenang menjalar keseluruh tubuh saat aroma teh itu menyingahi hidungku. Hangatnya cukup menerbitkan butiran-butiran keringat kecil didahiku. Damai rasanya sesekali menyendiri seperti ini untuk melupakan penatnya kuliah, dan urusan-urusan lain yang menumpuk dipikiran.
Kaki juga ku hentak – hentak kan mengikuti alunan lagu Save You dari simple plan. Lagu ini sering sekali ku nyanyikan bersama teman2 anggota band ku di studio sewaan di samping gerbang menuju komplek. Ketika lagu tadi berakhir, playlist hp ku berenti di lagu You Belong With Me dari Taylor Swift. Sontak saja lagu ini langsung mengingatkan ku pada seseorang yang begitu suka dengan lagu ini. Dia sering sekali memintaku untuk memainkan lagu ini dengan gitar Yamaha ku ketika duduk-duduk ditaman di tengah komplek perumahan kami.
            Aku tersentak dari lamunan ketika tiba-tiba mendengar suara motor tepat berhenti didepan rumah disamping rumahku. Aku mengintip dari balik pagar tembok putih yang baru saja selesai dicat ulang ini. Aku lihat dia masuk ke dalam rumah bersama seorang cowok yang sudah dia pacari sejak dua bulan yang lalu. Hatiku koyak setiap melihat mereka. Aku berbalik lagi duduk ke tempat semula, dan menikmati alunan musik yang saat ini berhenti di lagu Dealova dari Once. Tak lama berselang, aku bendengar suara motor tadi berjalan meninggalkan rumah Kikan, gadis itu.
            Beberapa menit berselang, aku mendengar pintu atas menuju lantai tiga dirumah kikan terbuka. Benar saja, kikan keluar dengan wajah capeknya, seperti habis mengangkat beberapa karung beras malam ini. Aku menampakkan wajahku dari balik tembok pagar putih itu. Dia melihatku, dan lalu tersenyum, sedamai dan setulus yang ku kenal.
            “Malam ndra ” Sapanya
            “Malam juga kan ” balas ku..
            “udah lama disana?”
            “nggak kok.. baru beberapa menit..”
            “Oh.. Ya udah.. aku duluan ya ndra..” katanya, lunglai.
            Yah.. sebentar amat.. Responku dalam hati
            “Selamat istiraat, have a nice dream
            Dia mengangguk, tersenyum, dan berlalu.
            …….. with me, kan.… Lanjutku dalam hati.
***

Aku ingat, saat pertama kali pindah ke komplek ini. Saat itu aku duduk di kelas 2 SMP. Papa baru saja mendapat promosi kenaikan pangkat dari perusahaannya atas kerja kerasnya terhadap perusahaan selama beberapa tahun. Dia diangkat menjadi kepala bidang pemasaran. Dia juga diberi bonus sebuah rumah yang cukup mewah bagi ukuran kami saat itu, dua lantai dengan satu lantai tambahan kosong diatasnya, empat kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, dapur serta alaman yang cukup luas didepan dan belakang. Itulah rumah yang saat ini kami tempati.
Kala itu baru ada beberapa rumah disini. Selebihnya baru berupa lahan kosong yang tumbuhi rumput-rumpuh hijau lebat. Setiap rumah masih berjarak cukup jauh satu sama lain. Bahkan kami masih harus menyebut tetangga untuk penghuni rumah yang jaraknya beberapa blok dari kami. Disamping rumah ku saat baru pertama pindah itu, masih dalam tahap pembangunan sebuah rumah lain dengan ukuran dan model hampir sama. Didepan rumah kami, ada sebuah taman yang kala itu juga masih dalam tahap pembuatan.
Praktis saja, lingkungan baru itu, sangat sunyi bagiku. Sulit bagiku menemukan teman seumuran kala itu. Tak ada teman yang bisa diajak bermain. Paling cuma sesekali teman-teman sekolah mampir kerumahku. Mereka juga tak bisa berlama-lama dan sering-sering kesini. Letak rumah kami semakin jauh semenjak aku pindah kelingkungan ini.
Beberapa minggu berselang rumah disamping rumah ku selesai juga dibangun. Taman besar didepan rumah juga sudah ditumbuhi pohon-pohon rindang dan bunga-bunga aneka rupa, lengkap dengan airmancur ditengahnya. Sebuah lapangan basket juga sudah hampir selesai dibangun disisi taman yang lain. Jalan-jalan yang waktu pertama kali aku pindah masih bergelombang, kini sudah mulai diratakan, dan akan segera dihaspal. Semakin lama akhirnya lingkungan ku itu semakin terlihat seperti komplek perumahan yang sesungguhnya.
Aku juga ingat saat itu hari minggu pagi ketika sebuah truk besar berhenti di depan rumah samping rumah kami diikuti sebuah mobil sedan hitam dibelakangnya. Dari balik jendela di kamar, aku lihat beberapa orang bertubuh besar keluar dari truk dan menurunkan barang-barang didalamnya dan membawa ke dalam rumah. Penumpang mobil sedan, berjumlah empat orang, juga keluar dari mobil. Salah satu diantara mereka, seorang cewek seumuran denganku, berlari kearah taman, namun kembali lagi ke arah rumah ketika ayahnya memanggil. Waktu itu aku tak terlalu jelas melihat wajah gadis yang kemudian ku kenal bernama Kikan itu.
Siang harinya tetangga baru kami itu berkunjung kerumah untuk memperkenalkan diri. Itulah kali pertama aku dan Kikan berjabat tangan dan bertatap muka. Mata kami beradu pandang kala itu. Kikan tampak canggung memberi salam, dan memperkenalkan dirinya. Aku tak kalah gugup darinya. Tanganku agak gemetar, dan suaraku tak kalah  bergetar. Itulah kali pertamanya aku merasakan perasaan aneh itu bergelayut dihatiku. Siang itu, diruang tamuku, ketika para orang tua asyik mengobrol, aku hanya terdiam menunduk atau sesekali mengalingkan pandangan ke para orang tua yang larut dalam obrolannya. Aku tak sanggup memandang kedepan. Dia tepat duduk dikursi didepan kursi ku. Kami saling bersebrangan. Aku belum mampu memperhatikan sorot matanya, atau menyaksikan indah senyumnya.
Aku terkejut saat tiba-tiba ayah Kikan bertanya padaku.
“Indra kelas brapa?”
“Kelas 2 SMP om” jawabku
“ oh.. berarti sama dengan Kikan. Kikan juga kelas 2”
Aku tersenyum, dan hendak melihat ekspresi Kikan, namun kuurungkan. Ayah Kikan bertanya lagi.
“SMP mana?”
“SMP 70 om”
“Wah.. kebetulan lagi. Kikan juga SMP 70.”
Hatiku makin tersentak mendengarnya. Serasa diberi jalan yang mudah oleh takdir.
“Om harap Indra mau jadi teman Kikan. Maklumnya kami baru pindah kesini. Kikan belum kenal siapa-siapa disini, atau disekolah nanti.”
Hati ku bergetar hebat sehingga memberi efek buruk pada suaruku
“Oh… hmm..mm.. pas.. pas.. pasti om” jawabku kagok
Kak maya tiba-tiba menyambar tanpa belas kasihan menggunakan kartu matinya untuk membunuhku siang ini.
“Kenapa kamu gugup gitu dek?”
Sontak seluruh ruangan tertawa geli melihat ku. Keringat didahi dan leherku semakin deras mengucur. Mataku lalu juga berkianat, dan secara kejam melihat respon Kikan. Dia tersenyum tipis dikursinya. Mukaku semakin memerah padam.
***

Sore itu, dua jam setelah kejadian memalukan diruang tamu, aku memutuskan untuk bersemedi di lantai 3 rumahku yang terbuka itu. Beberapa bungkus ciki, dan segelas jus mangga sudah ku siapkan disana. Sebuah radio hitam lengkap dengan colokannya juga aku gotong menuju atas. Aku juga memasukan beberapa buku PR kedalam tas lalu menyandangnya dipunggung. Sekedar untuk berjaga-jaga kalau tiba-tiba ada keinginan menyerjakannya. Namun aku tak yakin akan begitu.
Cuaca sore sedang sangat bersahabat. Matahari bersinar redup ditutupi gumpalan awan. Angin sepoi-sepoi juga sedang tak segan menyapa, apa lagi dari atas sini. Aku menyalakan Radio yang kubeli tahun lalu itu. Statiun radio favorit ku yang biasa memutarkan lagu-lagu hits Indonesia maupun barat itu langsung terdengar jernih ditelinga. Penyiar mengatakan akan memutarkan sebuah lagu yang baru direquest pendengar, Berhenti berharap dari Sheila on 7. Aku langsung hanyut dalam irama dan lirik lagu itu.
Sedang laruk dalam irama dan lirik lagu itu, aku tiba-tiba mendengar seseorang memasuki lantai 3 dirumah tetangga baruku. Aku lalu mengintip dari balik sela-sela pagar tembok. Cewek yang tadi siang membuat aku gugup itu terlihat mulai menata beberapa pot bunga disisi-sisi pagar tembok rumahnya. Aku terus memperhatikannya tanpa izin. Dia menyusun dengan hati-hati setiap pot yang menumpuk di satu sisi itu untuk meletaknya ditempat yang tepat. Rambut hitam panjang lurusnya yang tak diikat itu sesekali melambai-lambai diterpa angin. Aku hanyut dengan tontonanku sampai kak Maya tanpa belas kasihan menapuk pundakku dan sekali lagi membunuhku sore ini.
“Oi.. lagi ngapain lu dek?”
Aku terperangah, jantungku langsung berdetak sangat cepat, tak terkendali.
“Aih.. lagi ngintipin anak orang”
Mampus, sekali lagi kak maya menggunakan pisaunya untuk menyayat-nyayat mukaku didepan gadis itu. Kikan langsung melihat ke arah kami. Aku tertangkap basah sedang mengintipnya. Aku tak tau apa yang mesti aku lakukan detik itu. Suasana bahkan menjadi hening mendadak. Perasaanku bercampur aduk. Aku tak tau mau ditaruh dimana mukaku hari-hari mendatang, padahal kami tentu akan sering sekali bertemu. Hancur sudah reputasiku didepannya. 

Bersambung.......................................

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...