Pages

Rabu, 28 Desember 2011

Cerpen "Lima Detik yang Ku Sesali"

udah lama rasanya nggak update blog ini. Biasalah.. disibuki dengan tugas kuliah yang bejibun. mumpung lagi liburan, makanya sebisa mungkin gw akan nulis sebanyak-banyaknya. Soalnya kalau dah mulai kuliah, nggak akan mungkin sempat nulis lagi, maklum mahasiswa tingkat akhir. :D

oklah, nggak perlu berlama-lama baca yang nggak penting, langsung aja deh. judul cerpen gw kali ini "Lima Detik Yang Ku Sesali". ceritanya, murni, 100 % hanya karangan belaka, jadi jika ada kesamaan cerita, tempat, dan nama tokoh, gw nggak tanggung jawab :D



-------------------------------------------------

Lima detik yang ku sesali….
Buah quldi itu telah ku makan, ada akibat yang harus ku tanggung.
Kak maya mendorong kursi rodaku, aku dibawanya menuju taman belakang rumah, tempat dimana setiap sore sejak 4 minggu yang lalu aku selalu menghabiskan masa hidupku disana.
Melewati gundukan-gundukan tanah padat yang ditumbuhi rumbut hijau yang di gunting rapi secara berkala oleh ayah. Sekilas kulihat disamping ayunan kecil di tengah puluhan bunga aneka rupa, se pot bunga mawar mati masih bertengger tanpa daun dan bunga disana. Aku menoleh, tak sanggup melihatnya. Ada sebuah memori yang terukir.

Sesampai di depan sebuah kolam ikan hias kecil di sudut kanan pekarangan, kak Maya menghentikan dorongannya. Dia menyodorkan padaku sebungkus makanan ikan dalam kantong kresek hitam. Aku mengambil segenggam, lalu secara sopan meminta kak Maya untuk meninggalkan aku disini sendiri seperti yang sudah-sudah, seperti setiap sore sejak 4 minggu yang lalu, seperti sejak aku pulang lagi ke rumah setelah berjuang antara hidup dan mati. Kak Maya tampak ragu, seperti biasa. Dia memegang pundakku sejenak, lalu berbalik arah. Setelah berjalan dua langkah, aku mendengar suaranya.

“Dek, sampai kapan kamu kayak gini terus? Hidupmu harus dilanjutkan. Kakak siap kapanpun kamu ingin cerita” Kak Maya lalu melangkah pelan, dan akhirnya berhenti setelah aku memanggil namanya agak parau.
Dia duduk dibangku panjang tepat disamping kursi rodaku. Membantuku melempar sedikit demi sedikit pelet ke dalam kolam ikan kami. Aku yakin dia pasti melihat genangan airmata yang menumpuk dipelopak mataku yang sedang ku coba untuk menahannya agar tak keluar. Kak maya memegang tahanku lembut. Aku menoleh padanya.

“Keluarkanlah dek, itu cara terbaik untuk mengurangi kesedihanmu”

Airmataku mengalir deras tanpa henti. Rasanya beban kesedihan yang sudah ku tahan berminggu lamanya berkurang, pundakku yang terasa berat oleh beban kini agak ringan. Sejak kejadian itu tak sekalipun aku mau menangis didepan mereka, aku mencoba terlihat tegar. Namun saat sendiri, tak lagi bisa ku bendung. Aku tak mau mereka tau bahwa betapa lemahnya aku saat ini.

“Apa kamu ingin cerita?” kak Maya bertanya, saat aku sudah mulai tenang. Aku hanya diam.
“Kalau kamu belum mau sekarang nggak pa-pa, kakak tunggu sampai kamu siap, ingat! Kalau kamu tahan sendiri, rasanya sedih itu bukannya akan hilang, namun akan terus bertambah, percayalah.”
“aku memang belum siap kak” airmata ku kembali menetes saat mengingat kembali peristiwa itu
“Apa kamu nggak mau cerita yang senang-senangnya dulu? Mengingat seseorang melalu kenangan indah yang pernah kita lalui dengannya itu bisa menyenangkan lo dek.”

Aku diam sejenak. Memang hari itu terasa sempurna bagi kami. Maksudku sempurna sebelum kejadian naas itu.
“Baiklah kak, Adam coba.”
“Gitu dong, kakak siap dengarin sebatas yang kamu mampu”

Aku menceritakan semua kenangan indah yang aku dan Sarah alami hari itu. Mengingat semuanya serasa mem-flashback sebuah bagian terindah sekaligus terburuk didalam perjalanan hubungan kami. Tepat tanggal 24 agustus, 5 tahun kami jadian. Kami sudah menyiapkan rencana perayaannya seminggu sebelum hari H. Paginya aku dan Sarah akan sarapan di rumahnya bersama keluarga Sarah dengan masakan yang akan dimasak sendiri oleh Sarah. Setelah itu kami akan bersepeda motor ke salah satu toko bunga langganannya untuk membeli 2 pot bunga mawar. Satunya akan ditanam di rumah ku sebagai teman bunga-bunga kesayangan ibu yang cantik-cantik. Satunya lagi ditanam di rumahnya tepat di depan kamar Sarah disamping tiang bendera.

Setelah itu kami akan meluncur kerumahku untuk menanam mawar yang pertama, dilanjutkan acara makan siang bersama keluargaku. Lalu aku akan mengantarnya kembali pulang untuk menanam mawar yang kedua. Lalu Kami akan berpisah dulu untuk sementara untuk menyiapkan diri untuk sebuah makan malam romantis yang telah ku persiapkan secara khusus. Malamnya aku akan menjemputnya dengan mobil baru Ayah. Selesai dinner aku akan mengantarnya kembali kerumah.

Sebuah rencana yang matang dan implementasi NYARIS matang pula. Semua rencana itu kami alami dengan sempurna, kecuali bagian terakhir. Mengingat bagian terakhir itu airmata ku kembali menetes. Cerita indah yang sudah kujanjian pada Kak Maya untuk ku ceritakan berakhir disana. Ya, aku memang tak berhasil mengantarkan Sarah pulang ke rumahnya.

“ya sudah, nggak usah kamu ceritakan bagian itu kalau kamu nggak siap” kata kak Maya. Aku tak menjawab.
“Tapi, ini pertanyaan terakhir kakak. Kapan kamu akan melihat makamnya Dam? Ini sudah lewat 5 minggu, Kakak yakin dia ingin kamu datang untuk sekedar melihat makamnya.”
“Adam belum siap kak.” Jawabku parau.
“Kapan kamu akan siap? Hidupmu harus sudah kamu lanjutnya dek”
“Kakak nggak mengerti kak. Ini semua kesalahanku.”
“Apa maksudmu? Ini semua kecelakaan Dam.”
“aku yang telah menyebabkan semua ini kak, nafsu bangsat ini yang telah menyebabkannya”
“apa maksudmu?” Kak maya kaget.

Aku sesungguhnya tak sanggup untuk mem-flashback bagian itu. sungguh tak sanggup. Bagian itu adalah bagian terburuk dalam hidupku. Namun seperti kata kak Maya, aku tak mungkin sanggup menanggung cerita ini sendiri. Harus ada seseorang yang juga tau atas apa yang sebenarnya terjadi pada kami sebelum kecelakaan tragis itu.

Selesai makan malam, aku akan mengantarkan Sarah pulang dengan mobil. kami melewati sebuah Jalan raya yang cukup lengang malam itu. Wajar saja, hujan turun dengan lebatnya sedari tadi bahkan sebelum kami berangkat dinner, untung saja kami pergi dengan mobil, sehingga acara makan malam tak jadi dibatalkan. Listrik di jalan raya itu tampaknya juga sedang padam, praktis penerangan hanya berasal dari lampu kendara yang berlalu lalang.

Sarah sangat cantik malam ini, biasanya juga begitu, namun kali ini beda. Wajahnya yang ayu sekali-kali ku tatap di remang-remang lampu mobilku. Ku paham fokus ku sedang terganggu, antara dia dan mobil yang sedang ku kendari. Aura dingin memaksaku untuk memegang tangan lembutnya. Dia tersenyum menatapku juga.

Mobil ku kendari dengan kecepatan sedang, tak perlu buru-buru pulang, orang tuanya sudah memberi izin untuk pulang sebelum jam 9. Aku kembali menatapnya, aura dingin ini mengganggu ku, dia juga begitu. Sarah bersandar disandaran kursi kedinginan, padahal aku sudah meminjamkan jeketku padanya. Aku kembali memegang tangannya sembari mengendari mobil hitam ayahku. Aku lupa bagaimana ceritanya saat tiba-tiba ku sadari bibir kami sudah menyatu. Cuma lima detik, saat ku sadari ada sebuah truk besar didepan kami yang sedang terparkir dengan lampu sen belakang berkedip-kedip.

Aku membanting stir sejadi-jadinya ke kanan untuk menghindari truk yang tengah parkir itu. Sarah berteriak isteris. Aku lega karna berhasil menghindari truk yang didepan tadi sebelum aku menyadari hal yang lebih parah terjadi. Saat aku membanting stir ke kanan tadi, tiba-tiba dari arah berlawanan datang truk dengan ukuran dua kali lebih besar dari truk yang ku hindari tadi. Kami terdesak, tak bisa lagi menghindar, berbelok ke kiri terhalang oleh truk yang tadi parkir, berbelok kekanan berjajar rapi toko-toko 2 lantai yang tampak lengang. Dari bagian itu yang paling ku ingat adalah saat ku merasakan moncong mobilku mencium moncong truk yang berada persis didepan kami. Mobil kami terpental kebelakang, berguling-guling tak karuan, reot, dan aku sudah lupa apa yang terjadi sesudahnya.

Airmata ku lebih deras mengalir saat menceritakan itu pada kak Maya. Mata kak Maya tampak berkaca-kaca dengan butiran-butiran airmata yang juga menetas sekali-kali. Kak Maya menggenggam tanganku. Dia mengusap-ngusap ubun-ubun ku untuk memberi ketenangan.

“menangislah sejadi-jadinya saat ini dek, tapi janji ini tangisanmu yang terakhir. Besok pergilah ke makam Sarah, kakak temanin. Ingat! Hidupmu harus dilanjutkan.”
“Tapi aku belum siap kak.”
“kalau kamu tunggu kapan kamu siap itu pasti akan lama sekali dek. Tadi kamu juga belum siap untuk cerita pada kakak, tapi buktinya kamu berhasil untuk cerita.”
“Tapi kak..”
“sudahlah dek, dengarin kakak. Kamu sudah terlalu lama terkurung dalam perasaan bersalah ini. Kamu harus menghadapi semua ini.”

Aku berpikir sejenak dan akhirnya menjawab.” Baiklah kak, besok kita pergi” ku sadari hati ini masih terlalu sedih untuk melihat makam orang yang ku cintai yang kematiannya juga disebabkan oleh kesalahan ku sendiri. Namun aku akan mencoba menguatkan diriku.
“gitu dong” kak Maya memelukku.
“sekarang kamu mau masuk kerumah apa belum?”
“iya kak, bantu aku ya.”

Kak maya mendorong kursi rodaku. Namun aku memintanya berhenti saatku lihat bunga mawar mati yang waktu itu ku tanam dengan Sarah. Aku meminta tolong pada kak Maya untuk mengambil cangkul dan menggalikan lobang di dekat kolam ikan. Kak Maya membantu ku berdiri. Aku lalu mencabut ranting mawar tanpa bunga dan daun itu, lalu menguburnya ke dalam lubang yang digali kak maya. Terkuburlah semua kesedihan ini, terbanglah kau kesurga bersama Sarah, kekasih terbaik yang pernah ku punya.

***
Hari ini aku pergi ke makam Sarah ditemani orangtuanya dan kak Maya. Dia dimakamkan di pemakanan keluarganya, beberapa meter dari rumahnya. Makamnya tampak bersih dengan ukiran namanya disana. Disamping makam, aku melihat bunga mawar yang waktu itu kami tanam di depan kamar Sarah di samping tiang bendera tumbuh subur di samping makamnya. Temanilah jasatnya berbaring sang mawar, pasanganmu yang kami beli bersama dulu juga sudah terbang ke surga untuk menemani roh kekasihku itu disana.
Sekian
-----------------------------------------
Terimakasih teman sudah membaca cerita yang amat sederhana ini. Mohon kritik dan sarannya supaya tulisan-tulisan ku selanjutnya bisa lebih baik.

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...