Pages

Jumat, 22 Juli 2011

Gersang

Sore ini aku sedang duduk di bawah pohon rindang di tepi sebuah padang rumput yang sudah mulai gersang di beberapa sisinya sambil mengamati 3 ekor sapi jantan ku yang sedang asyik mengunyang hidangan rumput hijaunya. Cuma ada sedikit rumput yang masih hijau di beberapa sudut petanda bahwa musim kering sudah mulai menghampiri kampung kami. Itu tandanya ketika semua rumput yang tumbuh disini mengering semua, aku harus bolak-balik keatas bukit mencari dedaunan untuk panganan ketiga ekor sapiku, seperti tahun-tahun sebelumnya ketika musim kering tiba. Lalu ketika musim hujan tiba, rumput-rumput disini akan menghijau lagi. Begitulah siklus penderitaan ku, maka sejak 10 tahun yang lalu saat dimana awalnya aku mendapat surat tugas untuk merawat sapi milik keluarga hingga sekarang saat aku berusia 17 tahun, musim kering sudah menjadi musuh utamaku.


Seperti sore-sore lain dalam hidupku, aku harus datang ke padang rumput yang hanya berjarak 3 rumah dari kediamanku ini untuk mengawasi si Jeko 1, 2, 3 (nama ketiga sapi jantan itu) beberapa saat, lalu menggiring mereka kedalam kandang yang terletak dibelakang rumah. Sore ini juga harus begitu, tidak ada alasan untuk cuti dari tugas mulia ini. Padahal aku sudah mulai bosan dengan rutinitas ini, aku ingin meninggalkan kampung ini untuk mengadu nasib entah dimana, namun apa boleh buat aku tak punya banyak pilihan.

Ketika sedang memainkan daun Rambutan kering yang jatuh dari batang rambutan tempat dimana aku berteduh untuk mengawasi si Jeko bersaudara dari kejauhan, tiba-tiba lamunan ku dikagetkan oleh sapaan lembut seorang wanita dengan senyum manisnya.

“hai.. boleh kakak ganggung nggak ngelamunnya” tampak senyumnya berseri, ada kelegaan dalam rawut wajahnya.

“Bo.boleh kak.. ada apa ya?” aku kaget dengan sapaan lembutnya. Seketika itu juga darah mengalir deras ke dadaku.

“boleh duduk disini kan?”

“agak kotor kak.. tapi kalau kakak mau, silakan”

Dia duduk di sampingku, bersandar dibatang rambutan tua yang seingatku sudah ada disini sejak lama, sejak awal aku mendapat tugas mengembala sapi. Setiap musim berbuahnya, itulah saat dimana aku benar-benar ikhlas menjaga mereka. Aku bisa berpuas-puas menikmati sensasi buah Rambutan segar yang lumayan manis itu.

“wah.. nyaman disini ya.. angin sepoi-sepoi.. sejuk..”

“iya kak” baru saja bertemu dengannya, aku langsung terpesona. Senyumnya benar-benar indah, suaranya mendamaikan.

“gini.. Kakak mahasiswa seni lukis. kakak lagi dapat tugas untuk melukis orang yang sesuai dengan topik pameran lukisan kakak semester ini. Kebetulan kamu menurut kakak cocok banget untuk jadi objek. Kakak udah mencoba keliling dari rumah untuk mencari orang yang sesuai. Menurut kakak kamu yang paling pas. Mau ya kakak lukis?"

“wah.. maaf kak, aku kayaknya tidak bisa.” Tidak tau kenapa aku merasa tidak sanggup saja diperhatiin lama-lama ketika dilukis nanti sama wanita se manis ini.

“Kenapa?”

“Aduh.. kenapa ya? Kayaknya tidak cocok saja kak wajah seperti ini dilukis” aku tidak tau ingin jawab apa, asal kena saja.

“wajah kamu tuh imut, lugu, alami, itu yang kakak cari. Yakin deh, hasilnya pasti bagus”

Aku senang banget dapat pujian itu.. tapi..

“aduh.. bagaimana ya kak” makin tidak tau mau jawab apa.

“oh.. iya, nama kamu siapa?” sambarnya mengambil tangan ku untuk bersalaman. Seketika itu juga detak jantung ku makin tak menentu rasanya setelah dari tadi berantakkan.

“Ba.. Bayu kak”

“Gini Bayu, kakak mohon banget..Kakak udah cari-cari seminggu ini belum ada yang menurut kakak cocok.. tolong ya.. Cuma 2 minggu kok kakak bakalan ganggu kamu. Cuma untuk 5 pose lukisan aja.. lagian kamu pasti puas ntar lihat wajah kamu kakak lukis.. yakin deh”

Dua minggu lamanya, selama dua minggu aku bakalan dekat sama kakak semanis ini. Rasanya hari-hari ku menjaga si Jeko kakak-beradik akan menyenangkan.

“ya kak.. boleh.. tapi setiap sore saja ya.. disini saja.. aku juga harus jaga sapi-sapi itu” tiba-tiba mulukku yang lancang menyambar untuk meng-iyakan permintaannya.

“wah.. makasih ya.. besok kakak kesini lagi bawa peralatan lukisnya.. ya udah kalau gitu kakak cabut dulu ya..”

“oo.. iya kak.. sama2..”

Si Kakak yang tadi lupa ku tanya namanya karna tidak tau mau bicara apa lalu berlalu bersama mobilnya yang tadi diparkir ditepi jalan disamping padang rumput yang mulai gersang ini. Aku lalu menggiring si Jeko bersaudara ke kandang mereka sambil tersenyum.

***
Tidak tau kenapa pagi ini aku begitu bersemangat menggiring si Jeko ke padang rumput itu. Tadi malam rasanya aku tidak bisa tidur nyeyak, berharap pagi cepat datang, dan siang di skip sama tuhan untuk langsung sore saja karena itu artikan si kakak yang kemaren datang untuk melukis wajah ku yang katanya imut, lugu, dan alami itu. Aku tak mengerti dengan apa yang ku rasakan saat ini. Apa ini yang dibilang dengan istilah jatuh cinta. Tapi kenapa cinta pertama ku harus dengan Kakak yang usianya beberapa tahun diatasku. Kalau boleh aku tebak mungkin usianya sekitar 21 tahunlah, sedangkan aku 17 tahun saja masih kurang 2 bulan 3 hari lagi.

Matahari belum terlalu tinggi pagi ini, tapi panasnya sudah mulai mengenyat menembus kulitku. Aku menggiring si Jeko dari kandang mereka ke Padang rumbut. Sesampai disana aku sedikit heran dengan keadaan disekitar. Rumput yang kemaren sudah mulai menguning dan mati karena tak ada cukup air untuk mereka dibawah tanah, tiba-tiba kini mulai tumbuh dan menghijau kembali. Bahkan rumput hijau yang kemaren masih tersisa di beberapa sisi untuk penganan si jeko benar-benar meninggi dan segar. Aneh rasanya melihat pemandangan ini, aku yakin tadi malam tak ada hujan karena tanah disekitar padang rumput ini kering. Seingatku tak ada satupun rumput di sini yang akan hidup saat-saat musim panas seperti ini, apalagi tumbuh segar dan bisa menggoda lidah kawanan sapi kelaparan. Si jeko langsung melaap santapan pagi mereka yang menggugah selera.

Ingin rasaya aku menunggu si Kakak yang kemaren disini sampai sore tapi apa boleh buat aku harus membantu ayah di bedeng untuk membuat beberapa batu bata yang kemaren dipesan pelanggan. Aku bergegas kembali ke rumah meninggalkan si jeko yang ku yakin sedang menikmati santapan mereka sambil terheran-heran juga dengan apa yang mereka lihat.

***
Tak terasa setelah berlelah-lelah menolong ayah mencetak batu-bata dan lalu membakarnya sorepun tiba. Aku bergegas mandi di lubuk lalu mengganti dengan pakaian terbaik yang ku miliki. Sebelumnya aku tak pernah mandi dulu hanya untuk mengembala dan menggiring si Jeko bersuadara ke kandang mereka tapi kali ini ceritanya berbeda. Tak lupa pula aku lalu menyisir rambut dan berdiri cukup lama didepan cermin sekedar memperhatikan kalau-kalau ada yang salah dengan muka ku yang imut, lugu, dan alami itu.

“oi.. mau kemana bang, rapi amat..” saut adek ku.

“mengembala si jeko lah” jawabku kesal.

“aneh…” katanya sambil tersenyum.

Aku lalu bergegas menuju padang rumput dengan perasaan was-was kalau-kalau kakak yang kemaren tak suka dengan penampilanku. Sesampai disana ternyata dia belum datang. Aku lalu menggiring si Jeko ke tempat yang agak dingin supaya mereka tak terlalu kepanasan dibakar terik matahari yang membara. Limas belas menit menunggu dibawah pohon rambutan yang tenyata sudah berputik padahal belum tiba musimnya itu si Kakakpun datang.

“hai.. Bayu, udah nunggu dari tadi ya..”

“eh.. tidak kok kak, baru beberapa menit saja” jawabku

“oh.. syukurlah, tadi kakak belanja dulu. Kamu rapi amat sih?”

“he..he.. katanya mau dilukis, makanya aku mau terlihat keren sedikit kak”

“oh.. gini, kalau kamu kayak gini kurang cocok dengan tema pameran kakak, mau nggak kamu ganti dulu baju dan celananya. Yang biasa aja, kayak kemaren gitu. Trus, rambut agak diberantakan dikit. Nggak pa-pa ya?

“oh.. ya udah kak, tunggu sebentar ya” jawabku dengan kecewa.

Aku lalu bergegas kerumah, dan mengganti dengan pakaian biasa. Rasanya kecewa ternyata kakak tidak suka dengan penampilanku tadi, padahal sudah berusaha tampil rapi didepannnya. Aku lalu bergegas kembali ke padang rumput, sebelum keluar rumah, adek ku berteriak dan bertanya.

“bang.. kenapa ganti baju lagi, yang tadikan keren” tanyanya heran

“bukan urusanmu dek” jawabku makin kesal.

***
Si kakak menyuruhku duduk di kursi lipat kecil yang dia bawa dari rumahnya. Dia sudah menyiapkan peralatan lukisnya dan meletakkannya beberapa meter di depan kursi itu. beberapa kali dia membetulkan duduk, raut wajah, dan rambutku. Kali ini dia akan melukis hanya bagian wajah, bahu, sampai dadaku saja.

Dia memulai aksinya dengan begitu lincah, pensil lukis dimainkan dengan begitu terampil serasa tangannya digerakan oleh kekuatan gaib yang berasal dari alam bawah sadarnya. Sesekali dia menampakkan wajah manis ke arahku hanya sekedar untuk memperhatikan garis wajahku dan menyesuaikan dengan apa yang sudah dia lukis, dan lalu bersembunyi lagi dibalik kertasnya dan kembali hanyut dalam alam imaginasinya untuk menuangkan diriku dalam selembar kertas lukis yang cukup besar. Hanya beberapa saat saja tampaknya sketsa wajahku sudah terlukis sempurna, dan aku lihat dari tempat dudukku, dia mengelurkan cat airnya dan mulai menggerakan kuas itu kembali dengan gerakan yang lincah, lembut, dan tak terlihat kaku sedikitpun tampak kekuatan gaib dalam jiwa senimannya begitu menggelora. Tak lama diriku sudah terpotret di kertas gambar itu.

“ah… akhirnya selesai juga, walau belum sempurna, nanti dilanjutkan dirumah saja, udah terlalu sore nih”

“boleh bayu lihat kak?”

“belum.. besok aja kalau dah sempurna, pasti hasilnya bagus”

“oo.. ya sudah kak”

“kalau gitu, kakak pulang dulu ya..”

Dia lalu memberaskan peralatan lukisnya. Aku melipat kursi yang tadi ku duduki. Lalu membantunya membawa semua itu ke mobil warna hitamnya dan meletakkan dengan hati-hati dikursi belakang.

“ya udah.. terima kasih ya bayu, 2 hari lagi kita ketemu lagi disini, besok kakak nggak bisa, ada janji dengan teman. Sampai jumpa ya..” ucapnya, dengan suara lembut dan begitu menawan.

“sama-sama kak, tapi bayu boleh tanya nggak?”

“nanya apa?"

“nama kakak siapa? Kemaren kakak belum katakan” tanyaku gugup.

“oh.. he..he.. panggil kakak aja lah, apalah arti sebuah nama.. he..he..” jawabnya.
Dia lalu berlalu, dan meninggalkan ku dengan keheranan.

***
Sudah seminggu lamanya aku kenal dengannya, seminggu itu juga aku masih menyimpan perasaan suka ini padanya. Aku takut kalau-kalau ternyata dia tidak menganggap ku apa-apa. Tapi semakin sering bersamanya, semakin rasa ini bertambah dalam. Dia begitu menawan, dan membuatku tak mampu menahan rasanya ini. Aku tak lagi pikirkan bahwa usianya jauh diatasku, yang aku tau hanyalah bahwa hatiku kini sedang tersihir oleh keelokan rupanya.

Seminggu itu pula, rumput di padang rumput ini tumbuh begitu lebatnya padahal musim kering sedang mencapai puncaknya. Lubuk tempat kami biasa mandi sudah kering tanpa sisa, kami harus pergi cukup jauh ke mata air di kaki bukit untuk mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi berbeda, rumput disini serasa tak membutuhkan air sedikitpun. Tanahnya sudah kering namun mereka tetap saja subur. Bahkan setiap harinya begitu banyak sapi yang memakan mereka, termasuk si Jeko bersaudara, tapi mereka tetap subur, dan menghijau. Sebuah pemandangan yang aneh bagiku, belum pernah sekalipun saat musim kering aku lihat peristiwa begini.

Ini benar-benar musim panas terbaik dalam hidupku. Disatu sisi aku menemukan wanita baik yang selalu menewaniku di sore hari mengembala si Jeko bersama dengan peralatan lukisnya. Dilain hal, rumput untuk makan sapi-sapi ku tumbuh dengan suburnya disini, sehingga aku tak perlu jauh-jauh mengumpulkan daun diatas bukit.

Selama seminggu ini, si Kakak sudah menyelesaikan tiga lukisannya, tinggal 2 lagi yang katanya lumayan sulit, dia harus melukis ku bersama si Jeko dan batang rambutan itu dengan latarbelakang padang rumput ini. Katanya akan banyak detail yang harus diperhatikannya. Hasil 3 lukisan yang sudah selesai itu begitu sempurna. Dia melukisku dengan sangat mirip, aku makin mengagumi wanita ini karna rupanya dan juga kemahirannya.

***
Tak terasa dua minggu telah berlalu bersamanya. Ini adalah hari terakhir dia akan menyelesaikan lukisannya. Sore ini tak ada alasan untuk menunda, aku harus ungkapkan semua yang terpendam selama 2 minggu ini padanya. Aku harus beranikan diriku, jika tidak tampaknya tak akan ada lagi kesempatan untukku untuk membuatnya tau bahwa aku menyimpan rasa ini. Aku tak lagi memperdulikan ketakutan ku bahwa mungkin ternyata dia tak memiliki rasa yang sama. Aku harus berani.

Pagi ini sesampai dia Padang rumput untuk mengantar si Jeko bersaudara kesana, aku semakin terpana dengan apa yang ku liat. Para rerumputan tumbuh dengan suburnya di musim kering yang panas ini. Menggoda lidah si Jeko yang sudah tak sabar lagi mencicipi hidangan segar yang terbentang luas didepannya. Para sapiku ini kini juga telihat sangat segar dan gemuk, pasalnya makanan mereka tumpah ruah disini. Benar-benar berkah.

Bahkan pohon rambutan tempat ku biasa berteduh dengan si Kakak kini sudah berbuah sejak seminggu lebih yang lalu dengan segarnya padahal belum masuk waktu musimnya. Buah-buahnya juga lain dari biasanya, begitu manis, besar, dan lebat. Selesai melukisku, Kakak biasanya memintaku untuk memetikan beberapa rangkai untuknya, katanya buahnya sangat manis, tak pernah dia merasakan buah rambutan sesegar itu, aku sendiri juga heran kenapa.
Selesai mengantar si Jeko aku bergegas pulang kerumah membantu ibu mengambil air di Balik bukit, mata air di Kaki bukit yang biasanya kami gunakan sebagai sumber air dikala Lubuk dekat rumah kering kini juga sama parahnya dengan keadaan di Lubuk. Terpaksa kami harus berjuang keras untuk mengambil air dibalik bukit untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, aku juga harus mulai mengiapkan diri untuk saat-saat terpenting dalam hidupku.

***
Aku pontang-panting berlari ke padang rumput setelah mengantarkan bakul air terakhir kerumah. Aku sudah telat beberapa menit dari waktu biasa kami bertemu. Biasanya aku sendiri datang setengah jam dari waktunya, tapi kali ini aku telat. Sesampai disana aku melihat Kakak sudah duduk di bawah pohon sambil memakan beberapa buah Rambutan yang bisa ia jangkau dengan tangannya. Aku mengampiri Kakak dengan nafas ngos-ngosan karena letih berlari kesini. Kakak tampak tersenyum melihatku.

“Maaf kak, tadi Bayu harus bantu ibu dulu ngambil air di Balik Bukit”

“nggak pa-pa kok, Kakak juga baru datang kok”

“Tadi malam kakak sudah mengelesaikan bagian terakhir lukisan terakhir kita, hasilnya bagus banget. Mau lihat nggak?”

“Mau kak” jawabku semangat.

“Ini” dia memperlihatkan hasil lukisan yang tadi masih ditutupnya dengan kain hitam.

Hasil lukisannya benar-benar indah. Dalam lukisan itu, aku sedang duduk dibawah pohon rambutan sambil mempermainkan kulit rambutan yang baru saja ku makan. Jeko bersaudara tampak juga sedang menguyah rumput hijau mereka bebarapa meter dari tempat ku berdiri. Latar belakang padang rumput yang subur dan luas membuat lukisan ini semakin mempesona. Aku makin tergila-gila dengan wanita ini.

“baguskan?”

“bagus kak, kakak pintar sekali ya” kataku memuji.. serangan pertama aksi ku sore ini.

“ha..ha.. biasa aja kamu.. oh iya.. itu aja untuk sore ini ya.. Kakak sudah harus pergi untuk menyiapkan laporan. Makasih ya, udah bantu kakak selama dua minggu ini.”

“cepat sekali kak” kata ku kecewa.

“mau gimana lagi,, laporan ini sudah harus selesai secepatnya.”

“sebentar aja kak, duduk dulu disini. Ada yang mau Bayu sampaikan” aku mencoba memberanikan diri kali ini, ini kesempatan terakhir tak boleh dilewatkan.

“oo.. ya udah.. apa?” dia kembali duduk disampingku.

“begini kak.. Ba.. Bayu rasa.. Bayu suka sama Kakak” kata ku tanpa aba-aba.

“Maksud kamu?” tanyanya kaget.

“Bayu cinta sama Kakak, Kakak mau kan jadi pacar Bayu?” muka ku memerah menahan malu.

“oh.. Bayu.. gimana sih.. Kita nggak mungkin kayak gitu Bayu. Kamu itu cocoknya jadi adek Kakak. Kamu masih 17 tahun, sedangkan Kakak udah 21 tahun. Nggak mungkin kan?”

“tapi Kak, tidak masalah bagi Bayu mencintai Kakak yang lebih tua” kata ku dengan sedih sambil meyakinkannya.

“itu nggak mungkin Bayu.. sorry ya.. Kakak sudah harus pergi kayaknya.”

Aku benar-benar kecewa dengan apa yang ku dengar.

“oke kak, tapi kakak akan sering kesini lagikan lain waktu?”

“kayaknya sulit Bayu.. Kakak harus segera menyiapkan laporan lukisan ini. Selain itu, Kakak akan diwisuda, dan pergi ke Jakarta untuk melanjutkan S2 disana.. sorry ya..”

Aku tak menyangkan Kakak akan mengatakan ini padaku. Sulit bagiku menerima bahwa sore ini benar-benar akan menjadi pertemuan terakhir kami. Dua minggu bersamanya, harus diakhiri dengan sesuatu yang benar-benar menyedihkan bagiku.

Si Kakak menyalamiku dan meninggalkan selempar amplop ditangan ku. Lalu dia pergi dengan tersenyum dan berlalu meninggalkan segores luka yang dalam di dasar hatiku. Dia berlalu dengan mobil hitamnya, kaca mobilnya tertutup rapat. Menghalangi pandanganku, pandangan terakhirku untuk bisa melihat wajahnya.

Amplop yang ditinggalkannya ku lepas dari tanganku, lalu melayang dibawa angin, dan uang kertas biru berterbangan dari dalamnya. Aku berlalu dan menggiring si Jeko ke kandang mereka, dan masuk kedalam kamar beserta air mata yang ku coba untuk menahannya dari tadi, agar orang tua dan adik ku tak tau luka apa yang sedang bergelayut di batinku kini.

***
Walaupun si Kakak telah mengatakan padaku bahwa dia tidak akan kembali lagi kesini, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa mungkin dia sedang bercanda dan akan memberikan kejutan nanti sore. Pagi ini aku mengantar si Jeko ke padang rumput itu, namun apa yang kulihat kemaren sungguh berbeda dengan pagi ini. Rumput-rumput yang kemaren sungguh hijau mulai menguning, tinggal beberapa bagian saja yang masih hijau. Rambutan yang kemaren ku petik sungguh manis, mulai berguguran, hanya ada beberapa yang tersisi dengan rasa yang ambarnya.

Sore berlalu, senja tiba, namun tak ada tanda-tanda kedatangannya. Dia yang bahkan tak meninggalkan nama aslinya untuk ku ternyata benar-benar serius dengan apa yang dia ucapkan. Hanya satu hal saja yang dia tinggalkan untuk ku dan untuk selalu berbekas di hati ini. Itulah luka, luka yang dalam tergores dengan pisau tajam yang dia bawa di hari terakhir kedatangannya.

Berhari-hari aku menantinya setiap sore untuk membuktikan bahwa apa yang dia ucapkan saat terakhir itu sesungguhnya tidak benar. Namun aku salah, dia membuktikan ucapkannya itu serius. Dia tak pernah datang lagi, saat ini, ataupun dihari-hari mendatang.

Padang rumput tempat dimana pertama kali kami bertemu kini sudah gersang dan tandus. Cuma tersisa tanah yang kering, dan sisa-sisa rumput mati, dan sebatang pohon rambutan yang tak berdaun lagi. Bahkan sebulan kemudian ketika musim hujan tiba, dan membasahi tanah yang kering ini, rumput-rumput hijau yang sudah ku nanti-nantikan itu tak kunjung tumbuh. Batang rambutan yang dulu perkasa itu kini juga sudah mati. Tempat ini kini sudah gersang, segersang hatiku yang tersakiti oleh cinta. Kapan ini akan pulih? Ntahlah, aku tak tau.

Padang, 22 Juli 2011 pukul 10.52

YOGI SULENDRA

versi PDF unduh disini.

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentarnya disini ya...