Pages

Featured Posts

Cari Tulisan

Kamis, 09 Agustus 2018

Cerpen "Dibantu Pak Menteri"

Bagi Abdul merah bukan berarti berani, namun sumber rejeki. Setiap pagi, di sebuah perempatan jalan utama di kotanya, bocah tiga belas tahun itu menunggu lampu merah menyala. Saat itu terjadi, seperti anak ayam lepas dari kandang, dia bersama pedagang minuman dan pedagang mainan anak, akan berhamburan ke tengah jalan. Tangan kirinya mendekap setumpuk koran lokal, sedangkan dengan tangan kanannya ia sodorkan sebuah koran kepada pengendara motor, mobil, atau penumpang taksi yang budiman.  

“Pak, Koran Kota. Luas hutan Kalimantan semakin menyusut.” Ucapnya pada seorang pengendara motor. Bapak berjaket hitam itu mengarahkan telapak tangannya pada Abdul. Sebuah isyarat penolakan yang sudah ribuan kali ia terima sejak mulai berjualan tiga tahun silam. Penolakan yang tidak pernah lagi ia ambil pusing.

Senin, 02 Juli 2018

Cerpen "Sang Pembangkang"

Asep Maulana bergerak satu langkah meninggalkan gerbang Desa Guntur. Gerbang yang memisahkan desa itu dengan dunia luar. Di balik gerbang itu berlaku satu aturan yang membatasi warga dari perkembangan zaman. Bagi Asep, setiap kali melewati gerbang janur kelapa itu, dia serasa melewati mesin waktu yang membawanya pada masa yang berbeda.

Dia terus melangkah menuju Desa Lontar, desa terdekat dari desanya. Tak lama, cukup dengan berjalan kaki sekitar sepuluh menit, dia sampai di desa itu. Asep langsung disambut barisan tiang listrik yang berjajar di kakan dan kiri jalan beraspal. Untaian kabel-kabel hitam menjalar ke rumah-rumah berdinding bata. Sesuatu yang tidak akan pernah ditemukan di Desa Guntur. Rumah-rumah itu hampir seperempatanya merupakan milik mantan warga Desa Guntur yang membelot.

Senin, 09 April 2018

Cerpen "Berebut Jenazah"

Muslimah menutup lembaran Surat Yasin yang sedang ia baca. Ia kemudian menyeka air mata yang menggenang di sela-sela keriput kulit wajahnya. Lalu, dipandanginya tubuh kaku yang terbaring di depannya itu, sesosok tubuh yang ditemukan di dasar sungai, tersangkut di bebatuan, beberapa ratus meter dari tempat bocah itu mulai terseret arus.

Muslimah membuka penutup wajah si jenazah. Dia ingin meyakinkan sekali lagi kalau tubuh tak bernyawa itu benar cucu kandungnya Angga. Tai lalat besar di bawah bibir itu tak ada lagi yang punya, kecuali Angga, cucu yang sudah ia rawat sejak bocah itu berusia dua tahun. 

Wanita enam puluh tujuh tahun itu kembali menutup wajah cucunya. Dia kemudian menatap ke arah pintu kamar yang tertutup di ujung sana. Di kamar itu, jauh dari pendengaran para pelayat, sedang berlangsung pertarungan sengit yang menegangkan urat syaraf.

Cerpen "Senyum di Atas Piring Putih"

Aroma wangi tercium dari masakan udang yang sedang ia aduk. Andi lalu menaburkan sedikit garam halus dan lada bubuk pada masakan itu. Dia mengaduknya kembali perlahan, membiarkan bumbu-bumbu itu meresap merata sempurna ke dalam udang-udang jumbo itu. 

Ia lalu mengambil sedikit kuah dan menuangkan pada tangannya. Ia mengisap kuah itu dan membiarkan lidah terlatihnya menilai sendiri hasil karya masakan barunya. Pengalaman bertahun-tahun cukup membuatnya tau bahwa dia belum juga menemukan rasa yang ia cari.

Sabtu, 31 Maret 2018

Cerpen "Memori tentang Rumah"

 “Pagi, Nek.” Ucapku mengampiri Nenek Muslimah. Aku menyalaminya, lalu menempelkan tangannya pada keningku.

Wanita delapan puluh tiga tahun itu menatapku lekat. Dari gurat-gurat keriput di wajahnya, aku bisa melihat raut-raut kebingungan di sana. Dia seolah sedang mencari-cari wajahku dari memori ingatannya yang terbatas.

Sia tu, Mak? Ingek ndak? Siapa itu, bu? Ingat Tidak? Ucap mak tuo yang datang dari arah dapur.
“Siapa, ayo, nek?” Ucapku seolah memberinya tantangan.