Pages

Featured Posts

Cari Tulisan

Minggu, 13 Agustus 2017

Cerpen "Minggu Pagi di Panti Jompo"

Dari ujung tempat tidurnya oma Ling mengarahkan pandangan melalui jendela kaca besar ke pekarangan depan Panti Jompo. Tampak olehnya satu atau dua mobil masuk ke dalam area parkir, kemudian beberapa orang keluar dari dalam mobil dan berjalan bergegas menuju aula yang berada di lantai satu, tepat di samping kamarnya.

Oma terus memperhatikan orang - orang yang lalu lalang di halaman depan panti jompo yang dia sudah diami lebih dari tiga bulan itu. Belum tampak olehnya wajah - wajah yang dia kenal. Mungkin si sulung Alex, atau si Bungsu Debi kali ini tidak bisa lagi menghadiri pertemuan bulanan yang diadakan pengurus panti jompo. Mereka tampaknya masih sangat sibuk dengan pekerja mereka. Alex pasti tidak bisa lagi meninggalkan toko buku miliknya. Debi mungkin sedang mendapat giliran masuk saat weekend di rumah sakit tempat ia bekerja. Sama persis seperti alasan mereka tidak datang bulan kemaren.

Jumat, 21 Juli 2017

Cerpen "Detik Terakhir"


Rudi berjalan pelan menuju halte busway yang berjarak sekitar sepuluh menit dari rumahnya. Kakinya dia bawa melewati genangan - genangan air bekas hujan semalam yang belum mengering. Sinar matahari pagi yang selalu menamparnya pada sisi yang sama belum mampu membawa genangan - genangan air itu pergi. Bahkan daun - daun masih tampak basah.

Dia tak terlampau terburu - buru. Kantornya di daerah Mampang Prapatan dapat dijangkau lima belas menit saja dengan busway. Seperti pagi - pagi sebelumnya, dia nikmati betul perjalanan menuju halte busway itu. Sambil terus berjalan, dia mengamati sekitar komplek perumahannya yang tak banyak berubah semenjak dia mulai tempati dua puluh lima tahun yang lalu bersama istrinya. 

Sabtu, 15 April 2017

Berdamai dengan Perasaan Kecewa


Ilustrasi
Randi terbangun pukul tujuh pagi, seperti biasa, oleh cahaya sinar matahari yang menembus jendela indekosnya. Namun hari ini bukan hari biasa. Sesuatu harus dibuktikan hari ini. Pemilik jaringan restoran masakan Padang tempat dia mengabdi sejak tujuh bulan yang lalu akan datang ke “kantornya” siang nanti. Dia tidak boleh mengecewakan wanita paruh baya yang memberinya penghidupan di ibu kota itu.

Randi meregangkan kedua tangannya. Dia kemudian menatap kedua tangan yang memberinya sesuap nasi di kota yang kejam ini. Tangan itu aset terpenting dalam karirnya di restoran itu. Saban hari beratus – ratus piring telah dibawanya dengan kedua tangan itu menuju meja – meja di restoran. 

Sabtu, 18 Juni 2016

Cerpen "A Story in The Traffic Jam"

Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata
 
Pukul delapan malam saat Mulyono masih berkutat dengan kemacetan Jakarta. Sepeda motor keluaran tahun 2009 yang dia kendarai melaju tersendat – sendat diantara ratusan mobil dan motor lain. Dengan kecepatan maksimal 20 KM/Jam, rumahnya di Lebak Bulus terasa masih jauh dari Jalan raya Pondok Indah itu. Rasanya dia akan lebih cepat sampai di rumah dengan berlari dari pada mengendari motor.  

Dia memaksa melewati celah – celah antara mobil untuk bisa mempercepat laju motornya, namun tak banyak yang bisa dia lakukan. Mobil dan motor serasa berpegangan satu sama lain tak memberinya celah untuk menyalip.  

Minggu, 12 Juni 2016

Cerpen "Memilih Pergi"

Aku terdiam sebentar menarik nafas panjang, sebelum memasukkan kunci indekosku ke dalam lubangnya. Ketika pintu ini terbuka nanti, aku harus segera melaksanakan keputusan yang telah ku buat. Sebuah keputusan tersulit yang melewati pergolakan hati yang panjang. 

Aku memutar kunci itu perlahan. Bunyinya terasa berbeda dari yang biasa, mengema bersautan bagaikan jeritan hati yang terluka. Aku memegang gagang pintu yang terasa dingin membeku hingga ke ulu hati. Aku memutarnya, dan mendorong pintu perlahan. Engsel pintu yang berkarat berdecit semakin membuat ciut tekatku.